
Pagi harinya Hana terlebih dahulu bangun ia mendapati Kevin masih terlelap dalam mimpinya ia membuka sedikit jendela suasana masih gelap ditambah lagi hujan deras disertai angin dan cahaya kilat.
"Hujan. Aku kira tadi malam hujanya, ini hari apa yah! kenapa Kevin belum bangun juga." ucap Hana membuka sedikit tirai jendela.
"Woah! sudah jam tujuh pagi. My Prince, bangun kamu pergi ke kantor nggak." ucap Hana melihat ponselnya ia langsung membangun suaminya.
Kevin cuma menggerakkan sedikit badannya saja tanpa membuka matanya.
"My Prince. My Prince, tumben susah banget di bangunin." gerutu Hana ia bergegas ke kamar mandi terlebih dahulu.
Kevin terbangun ia tak mendapati Hana di sampingnya ia meraba raba kasur dengan mata terpejam.
"BABY. Dimana dia?" ucap Kevin melihat ke kamar tak ada ia keluar kamarnya dan benar tidak dikunci pintunya berarti Hana keluar.
Kevin mencarinya ke bawah ia malah berpapasan dengan Sinta.
"Kevin. Kamu pasti sedang mencari Hana?" panggil Sinta menghampiri Kevin.
"Dimana dia Mah. Aku tidak melihatnya, apa Hana ada diruang kerjanya atau di dapur?" tanya Kevin pada Sinta.
"Tadi bilangnya ada urusan. Dia pergi keluar, nggak tau kemana " jawab Sinta.
"Sama Doni?" ucap Kevin.
"Tidak. Dia pergi sendiri, memangnya kenapa? bukannya Hana sudah biasa seperti itu." ucap Sinta.
Kevin berjalan ke luar rumah ia berniat untuk menyusul Hana tapi hujan deras jadi ia mengurungkan niatnya.
"Ada apa sih! Hana tidak bilang ke kamu dia mau pergi kemana?" tanya Sinta dibelakang Kevin.
"Tidak. Dia juga meninggalkan ponselnya di dalam kamar, Hana, kemana kamu?" gerutu Kevin mengusap wajahnya kasar.
"Coba kamu hubungi Doni. Siapa tau Hana sedang bersamanya, ayo cepat!" ucap Sinta pada Kevin.
"Baiklah Mah? sebentar aku ambil ponselku di kamar." ucap Kevin segera berlari ke kamarnya.
Sedangkan Sinta ia mengikuti Kevin ke kamarnya untuk memastikan Hana baik baik saja.
Tapi sayangnya ponsel Doni juga tidak aktif padahal sudah beberapa kali dihubungi.
"Bagaimana? apa tidak diangkat. Kamu tenang dulu deh! coba di telphone lagi, siapa tau diangkat?" tanya Sinta menenangkan Kevin karena wajahnya begitu panik dan sangat khawatir.
"Kamu mau kemana?" tanya Sinta lagi mencekal tangan Kevin.
Sedangkan Kevin mengambil kunci mobilnya dan jaketnya ia sampai tak mandi terlebih dahulu dan nekat mau pergi kebetulan hujan sudah sedikit reda tidak seperti sebelumnya.
"Please. Kevin, dengerin Mama?" panggil Sinta sedikit mengeras agar anaknya mau mendengar ucapannya.
"Ada apa sih! pagi pagi begini sudah bikin keributan. Makan belum, mandi juga belum, kalian kenapa sih?" tanya Fadly berada di tengah anak dan istrinya.
"Kevin. Kamu mau kemana? kan jadi kabur. Papa sih?" panggil Sinta lagi.
Sampai berlari mencegah anaknya yang mau pergi dengan berdiri tepat di depan mobil Kevin.
"Mama. Ngapain disitu, tolong minggir." ucap Kevin mengayunkan tangannya pada Sinta yang hujan hujanan.
Sinta yang berada di sana juga ikutan takut ia berlari ke dalam mobil Kevin dan segera menutup pintunya.
Tapi rasa takutnya bukan karena trauma melainkan kaget sampai ke dalam jantung.
"Kevin. Kamu tidak apa apa? mama tadi bilang apa?jangan keluar, dasar bandel, keras kepala banget kalau dikasih tau." ucap Sinta mengusap punggung anaknya yang terlihat sangat ketakutan.
Karena suara guntur seperti sedang bersahut sahutan tak henti hentinya membuat Kevin ketakutannya semakin menjadi.
"Papa mana sih! anaknya lagi seperti ini malah pergi. Bukannya bantuin atau apalah itu." ucap Sinta bertanya pada dirinya sendiri.
Fadly menghampiri mereka sembari membawa payung besar.
"Mama. Cepat buka pintunya." ucap Fadly mengetok pintu mobil dan Sinta segera membukanya.
Sedangkan Kevin sudah tak sadarkan diri Fadly segera membopongnya dibantu oleh kedua penjaga yang ada disana dan menempatkan Kevin di dalam kamarnya dengan seluruh tubuhnya terasa panas dingin.
"Terima Kasih pak? kalian boleh kembali ke pos." ucap Sinta diangguki oleh kedua penjaga.
"Sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa Kevin nekat keluar, kalau dia sendiri trauma, kamu bisa jelaskan sama aku sekarang." tanya Fadly mengompres dahi Kevin sembari melihat ke arah istrinya.
Sinta menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada suaminya.
"Terus kemana Hana. Bukannya kamu yang terakhir bertemu dengannya." tanya Fadly dengan nada menekan.
"Sudah Mama jelaskan. Mama tidak tau Sayang, kamu masih tidak percaya sama aku, terserah Papa saja." jawab Sinta.
"Bukannya begitu. Hei, mau kemana, Sayang?" Fadly.
Sinta sudah pergi karena kesal dengan suaminya ia memilih pergi ke dapur untuk mengambil minum untuk menyegarkan pikiran dan tenggorokan yang terasa kering karena terus menasehati anaknya yang sangat keras kepala membuat ia pusing saja ditambah lagi ia kesal dengan suaminya.
Hari sudah sore hari tapi Hana belum pulang juga membuat Kevin semakin khawatir ia sampai tak berselera makan ataupun minum dari ia sadar dari pingsan sampai sore hari.
Padahal Sinta sudah memaksanya tapi tak mau juga yang diinginkan hanyalah kehadiran istrinya.
"Kevin, kamu minum dulu. Buat mengisi perutmu, dari tadi pagi kan kamu belum makan atau minum sama sekali." ucap Sinta sudah beberapa kali memaksanya tapi Kevin tetap tak mau.
"Aku sudah suruh anak buahku untuk mencari Hana. tapi tak ada kabar sama sekali." bisik Fadly ditelinga Sinta.
"Hana?, kamu ini di mana? jangan jangan dia sudah tau yang sebenarnya. Kalau tujuan awal aku menikah dengan Hana karena ingin balas dendam, setelah kamu jatuh cinta sama aku, baru itu aku mencampakkanmu begitu saja, tapi bukan itu yang aku mau, aku bahkan tak bisa hidup tanpamu." batin Kevin dalam hatinya.
Akhirnya orang yang di tunggu tunggu datang Hana pulang dengan pakaian agak berantakan dan kedua tangannya memerah seperti habis berkelahi.
"BABY?" panggil Kevin ia segera berlari memeluknya erat membuat Hana merasa heran.
•
•
•
BERSAMBUNG