
"Tidak perlu jawab sekarang. Aku akan menunggumu smpai kamu siap." ucap Kevin mencubit hidung Hana menyadarkannya dari lamunan.
"Syarat macam apa? Ini sama saja seperti yang pertama ujung ujungnya nanti dia minta lagi. Ternyata semua laki laki sama saja, tapi kan aku istrinya, sudah seharusnya melakukan kewajiban sebagai seorang istri." ucap Hana dalam hatinya bimbang.
Tanpa Hana sadari ia diangkat oleh Kevin membuat nya terkejut.
"Apa yang kamu lakukan. Kamu kan sedang sakit." ucap Hana.
"Walaupun aku sakit. Aku masih mampu untuk mengangkatmu." ucap Kevin menatap Hana.
Kevin menempatkan Hana di brankar berukuran besar dengan pelan pelan beberapa saat kemudian Hana mau turun Kevin melihatnya langsung bergegas membantunya.
"Mau kemana?" tanya Kevin beranjak turun.
"Ke kamar mandi." jawab Hana.
"Ayo! biar ku antarm" ajak Kevin.
"Aku bisa sendiri. Kamu pasti ngintip." ucap Hana menunjuk dengan jari telunjuk nya Ke wajah Kevin.
"Kamu tenang saja. Aku akan mengantarmu kedalam, biar aku tunggu diluar." ucap Kevin langsung mengangkat tubuh Hana berjalan menuju ke kamar mandi.
"Ya sudah. Sana keluar." ucap Hana mereka sudah ada di dalam kamar mandi.
"Iya. Iya galak banget sih!" ucap Kevin lalu menutup pintunya Hana langsung mengunci pintu kamar mandi.
"Sudah belum. Lama banget, pegal nih! kaki aku." ucap Kevin dari luar pintu kamar mandi.
"Sabar kali. Siapa suruh kamu nungguin aku." seru Hana dari dalam kamarnya ia membuka pintunya.
Tak terasa hari berganti sore menjelang malam sedangkan Hana sedari tadi siang ingin tidur tapi ia tak bisa karena masih memikirkan ucapan Kevin hanya membolak balikkan badannya.
Sedangkan Kevin tidur pulas sampai ada orang tuanya datang ia tak menyadari.
"Sayang?" panggil Seseorang dari balik pintu.
"Mama. Papah?" ucap Hana ingin beranjak mau turun tapi Sinta menahannya.
"Tetaplah di situ." ucap Sinta pelan tanpa suara.
"Bagaimana keadaan mu Sayang?" tanya Sinta.
"Baik Mah?" jawab Hana bersalaman kepada Sinta dan juga Fadly.
Sinta menoleh kearah Kevin yang tertidur pulas menghampirinya
"Oh iya. Papa, Bawakan sesuatu buat kamu." ucap Fadly menyerahkan Pepperbag kecil dan juga besar kepada Hana.
"Terima kasih Pah. Pah? jadi nggak enak ngerepotin." ucap Hana tersenyum.
"Tidak perlu sungkan sayang. Kamu juga sudah kami anggap anak sendiri, Oh iya, dibuka dulu." ucap Fadly.
"Ahh! Iya." ucap Hana membuka Pepperbag.
Dilihatnya ada dua tiket pesawat dan juga paspor beserta Visa.
"Ini buat siapa pah. Kenapa dikasih ke Hana." tanya Hana bingung pada Fadly.
"Buat siapa lagi. Ya kalo kalian berdua." jawab Fadly.
"Jadi nggak enak. Hana bisa ambil sendiri kok pah?" ucap Hana tak enak hati karena Fadly mengambilkan Hana air minum.
"Kamu siapkan diri kamu Hana. Nanti pulang jangan lupa bawa oleh oleh." ucap Fadly.
"Siap. Tapi oleh oleh apa yang papa? sama mama?, mau." ucap Hana.
"Ternyata menantu kita polos banget sayang." ucap Fadly menghampiri Sinta yang duduk di sofa merangkulnya mesra.
"Semoga bulan madu kalian berjalan lancar. Pulang bawa cucu, Iya kan Hana." ucap Fadly membuat Hana yang sedang minum sampai tersedak hingga gelas yang ada di tangannya jatuh.
"Pyaaarrrr" suara gelas begitu nyaring sehingga Kevin yang tertidur pulas sampai bangun saking kagetnya.
"Uhuk?, Uhuk?" Hana terbatuk ia juga tak menyangka kalau mertuanya membahas bulan madu dan juga ingin segera menimang cucu.
Sinta keluar memanggil OB dan menyuruh segera membersihkannya.
Setelah selesai Sinta duduk di sofa bersama suaminya.
"Ada apa sih! BABY. Apa kamu terluka?" tanya Kevin menghampiri Hana yang diam saja.
"Hmm. Tidak ada My Prince?" jawab Hana.
"Ini apa?" ucap Kevin mengambil Pepperbag kecil lalu membukanya.
"Kamu setuju juga kan. Bulan madu ke Eropa" ucap Fadly.
"Setuju banget pah? Ini juga negara impianmu juga kan BABY." ucap Kevin merangkul mesra bahu Hana.
"Jangan diam saja. Nanti mereka curiga." bisik Kevin ditelingannya Hana sampai ia merinding.
"Iya. My Prince." ucap Hana dengan senyum dipaksakan.
"Tapi Hana. Masih sakit bagaimana bisa kesana?" tanya Kevin.
"Kalo begitu kalian berangkatnya dua atau tiga minggu lagi, sampai Hana sembuh." ucap Fadly.
"Kevin nurut aja sama kalian. Yang terbaik buat kita berdua." ucap Kevin.
Orang tua Kevin pulang cepat karena masih ada urusan pekerjaan yang tidak bisa ditunda.
Kini tinggal berdua saja dan Hana langsung menyingkirkan tangan Kevin darinya.
Hana mengambil kotak berisi makanan yang dibawa oleh orang tua Kevin.
"Wahh! Enak sekali kelihatannya. Boleh aku minta." ucap Kevin.
"Ini. Kamu makan aja, aku sudah kenyang." ucap Hana lalu membaringkan tubuhnya membelakangi Kevin yang duduk di sebelah nya.
"Lho!, Kok gitu. Masa aku makan sendiri, nggak enak jadinya." ucap Kevin.
"Dibuat enak aja. Tinggal makan aja repot." ucap Hana lirih tapi masih bisa terdengar oleh Kevin.
"Kalau begitu aku nggak mau makan." ucap Kevin menutup kembali kotak makanan berukuran lumayan besar bisa buat makan berdua.
"Kenapa? Yakin Kamu tidak mau makan. Tapi aku dengar suara suara yang ada di dalam perutmu itu berbunyi." ucap Hana.
"Kita makan berdua. Kalau nggak mau aku buang saja makanan ini." ucap Kevin ingin beranjak turun tapi Hana memanggilnya.
"Oke. Kita makan berdua, Mubazir kalau sampai dibuang nanti makanan itu menangis karena kamu sia siakan." ucap Hana duduk mengambil kotak makanan.
"Biar aku suapin. Kamu duduk manis aja." ucap Kevin.
"Terserah kamu. Yasudah ini pegang." ucap Hana.
"Dengan senang hati BABY. Sekarang buka mulutmu, aaaaaa?" ucap Kevin menyuapkan ke dalam mulut Hana.
"Kamu tidak makan." ucap Hana mengunyah makanannya.
"Oh iya. Aku sampai lupa." ucap Kevin menyuapkan ke dalam mulutnya sendiri.
"Mulai sekarang. Persiapan diri kamu nanti kalau kita pergi bulan madu." bisik Kevin ke telinga Hana.
"Jangan macam macam kamu." ucap Hana menatap Kevin tajam.
"Hanya satu macam saja. Kamu tinggal menikmatinya." ucap Kevin terdengar menggoda.
•
•
•
BERSAMBUNG