Seleb Intertainment

Seleb Intertainment
10. Memikirkan Dia



Alfian kemudian langsung mengangkat tubuh Hana ke ruang perawatan yang ada di rumah Kevin karena hampir tidak sadarkan diri.


"Bersihkan ini semua." titah Alfian ke pelayan.


"Baik tuan." ucap pelayan bersamaan.


"Hana. Kamu tunggu sebentar, dokter akan segera datang." ucap Alfian meletakkan tubuh Hana ke kasur.


"Dokter nya kemana sih? lama sekali datangnya." ucap Alfian terus melihat kearah pintu.


"Sebentar lagi mungkin kak? aku bisa nunggu kok! sampai dokternya datang." ucap Hana dengan suara pelan.


"Sakit ya. Maaf aku nggak tau cara mengobati luka." ucap Alfian mendekati Hana setelah sepuluh menit kemudian dokter datang.


"Hana. Kamu kenapa?" tanya dokter kepada nya.


"Tolong periksa Hana." ucap Alfian menyela pertanyaan dokter.


"Baik" ucap dokter Kwak Hyun.


"Tahan ya! ini agak sedikit sakit."ucap dokter mengobati pelan pelan mengobati luka Hana yang hanya bisa menahan rasa sakit di tangannya.


"Udah belum dok?" tanya Alfian merasa kasihan ke Hana, dokter menjahit lengannya yang tergores karena lumayan dalam,walaupun ia sudah disuntik bius tapi masih terasa nyeri.


"Sebentar lagi selesai. Tinggal di balut perban." jawab dokter.


"Selesai" ucap dokter.


"Boleh saya bicara sebentar sama Hana." ucap dokter ke Alfian karena melihat wajah Perempuan yang ada di depannya terlihat murung seperti menyembunyikan sesuatu.


Alfian diam sejenak melihat kearah Hana. "Baiklah saya keluar." ucapnya Alfian melangkahkan kaki keluar menuju kamar Kevin.


"Kamu kenapa?" tanya dokter Hyun.


"Nggak apa apa dok?" Jawab Hana memaksakan tersenyum.


"Saya tau kamu menyembunyikan sesuatu dariku." ucap Dokter kepada Hana.


"Apa aku cerita kali ya? tapi Kevin memaksa aku untuk tidak cerita ke siapa pun, aku takut kalau dia memenjarakan aku karena cerita sama orang lain, aku masih ingin mengejar cita cita aku, itu amanah dari ibu dan ayah." ucap Hana dihatinya.


"Hana?" panggil Hyun melambaikan tangannya ke depan wajahnya karena ia melamun.


"Iya dokter Hyun. Aah! saya baik baik saja." ucap Hana menetralkan wajahnya dengan tersenyum cerita agar tidak terlihat berbohong.


"Benarkah." ucap dokter.


"Hmm." jawab Hana menganggukan kepalanya.


"Saya ada sesuatu buat kamu." ucap Dokter kepadanya mengeluarkan sesuatu didalam seragam dokter nya.


"Apa dok?" tanya Hana antusias.


"Ini buat kamu." ucap dokter menyodorkan sebuah gelang.


"Waah! ini sangat cantik dok?" ucap Hana langsung mengambilnya melihat lihat gelang nya sangat cantik.


"Tapi sepertinya saya tidak pantas menerima nya. Ini pasti harganya sangat mahal." ucap Hana mengembalikan kembali ke dokter Hyun.


"Kenapa dikembalikan? kamu nggak mau ya menerima pemberian dariku." ucap dokter dengan wajah sedih.


"Bukan begitu.Tapi." ucap Hana bingung mau menerima nya atau tidak.


"Berikan tanganmu." pinta Dokter mengambil tangannya yang sebelah kiri karena tangan sebelah kanan nya diperban lalu memakaikan nya.


"Eeeh! dok?" ucap Hana kaget.


"Anggap saja ini tanda persahabatan kita. Cantik banget apa lagi kamu yang pakai." ucap dokter tersenyum.


"Iya Cantik. Terima kasih." ucap Hana senang meneliti detail gelang nya.


"Kalau begitu saya pamit dulu. Masih ada pasien yang menunggu." ucap Dokter Hyun.


"Oke dokter. Terima kasih karena sudah mengobati ku, dan ini " ucap Hana menunjukkan tangannya yang memakai gelang pemberian darinya.


"Itu sudah tugas saya." ucap dokter membuka pintu hendak keluar dari kamar khusus perawatan.


"Dokter Hyun baik sekali. Tampan, murah senyum tidak seperti Kutup utara itu." ucap Hana dihatinya senang kemudian kesal mengingat kejadian sebelumnya.


"Aaah! kenapa Aku tiba tiba memikirkan dia. Tapi bagaimana keadaan dia?" ucap nya lagi ucap Hana segera menepis kemudian mengingat kembali dan akhirnya tertidur.


Sementara di kamar Kevin ia belum terbangun masih tidak sadarkan diri kemudian dokter Hyun datang menghampiri nya.


"Saya mau pergi." ucap Hyun terhadap Alfian kaget melihat Kevin tertidur dengan pakaian berantakan dan wajah sedikit lebam akibat pukulan Alfian.


"Dia kenapa? Apa jangan jangan ada hubungannya dengan." ucap Hyun penasaran.


"Itu sama sekali tidak ada hukuman dengan Hana." ucap Alfian mengelak.


"Saya kira mereka bertengkar lalu." ucap Hyun masih tidak percaya.


"Kalau mau pergi. Pergi saja." ucap Alfian ketus tapi Hyun tak mempedulikannya.


"Sepertinya dia mabuk." ucap Hyun menepuk nepuk wajah Kevin.


"Nanti kalau dia bangun berikan air kelapa muda untuk menghilangkan rasa pusing nya." ucap Hyun lalu pergi.


"Terima kasih. Atas saranmu." ucap Alfian.


"Sama sama saya kan dokter." teriak Hyun dari bawah karena pintu kamar Kevin masih terbuka jadi masih terdengar oleh Alfian.


"Dasar sombong. Didepan Hana terlihat sangat baik tapi dibelakang nya dia itu tengil sok keren." ucap Alfian kesal.


"Ganteng aku kali. Sebelas dua belas dengan boss." ucap Alfian dengan pede nya.


"Ini boss kapan sadarnya. Dari tadi ditunggu nggak bangun bangun juga, dasar boss gila." ucap Alfian menggerutu sendiri.


"Aku mau tidur aja kalau begitu." ucap Alfian pergi lalu menutup pintu kamar Kevin.


Pagi harinya Kevin baru tersadar memegang kepala nya yang terasa pusing dan pandangan masih buram.


"Ini dimana? Aduh! pusing banget kepalaku." ucap Kevin memegang keningnya karena terasa berat.


"Apa yang terjadi semalam? kenapa aku tidak mengingat apa pun?" ucap Kevin mencoba mengingat ingat apa yang sebenarnya terjadi.


"Hana?" ucap Kevin baru tersadar.


"Apa yang ku lakukan semalam? aku harus apa sekarang?" ucap Kevin bingung.


"Aku harus minta maaf. Tapi malu, masa seorang Kevin Sanjaya Pratama minta maaf sama perempuan yang bukan siapa siapa?" ucap Kevin berbicara sendiri.


"Kenapa aku jadi memikirkan dia? bagaimana dengan Hana aku telah melukainya dan." ucap Kevin frustasi.


"Menciumnya. Tidak mungkin." ucap Alfian tiba tiba datang membawa air kelapa muda menyodorkan ke Kevin.


"Itu Apa?" ucap Kevin menolak pemberian dari asistennya.


"Ini air kelapa muda untuk menghilangkan pusing kepala kamu." ucap Alfian dan Kevin mengambil pemberiannya lalu meminum.


"Thanks." ucap Kevin meletakkan gelas ke meja yang ada disampingnya.





Bersambung...