
"Tuan Kevin. Klien anda sudah datang." ucap Tomi kembali lagi mengantar klien Kevin ketika ingin menghampiri Hana.
"Maaf Tuan. Kami sedikit terlambat." ucap klien Kevin membungkuk.
"Tak apa. Ini hanya telat lima menit." ucap Kevin menunjukkan jam tangannya.
"Kalau begitu kita mulai meeting nya." ucap Kevin membuka laptop nya.
Kevin menjelaskan semuanya dan menjawab pertanyaan kliennya sesekali melihat Hana yang masih sibuk.
"Apa hubungan Hana dengan mereka. Sepertinya kedua laki laki itu bukan temannya, Sangat jelas mereka berbicara formal. Bukannya kata pelayan itu pemilik Cafe ini masih meeting ditempat ini juga, berarti Hana sudah membohongiku." batin Kevin menahan kesalnya.
"Tuan Kevin. Apa anda baik baik saja?" tanya kliennya.
"Iya. Maaf sebelumnya, apakah masih ada pertanyaan lain?" ucap Kevin.
"Perusahaan kami tertarik dengan penawaran anda." ucap klien.
"Terima kasih karena sudah bekerja sama dengan perusahaan baruku." ucap Kevin tersenyum.
"Sama sama Tuan. Nanti asisten saya yang akan mengurus semuanya, kami permisi." ucap klien menjabat tangan Kevin.
Kevin membalasnya dan membungkukkan badannya.
"Apa yang mereka bicarakan. Sepertinya serius, apa Hana sebenarnya orang kaya, tapi kenapa dia mau menikah denganku." batin Kevin bertanya tanya.
Setelah beberapa saat Hana baru selesai sedangkan Kevin memilih memakai masker dan topi nya tidak lupa ia memakai kacamata hitam.
"Akhirnya selesai juga. Capek juga ternyata biasanya tinggal suruh Doni, pergi ke salon enak kali ya?" ucap Hana mengambil kunci lalu pergi dan juga membawa berkas berkas nya.
"Apa dia orang yang mau menyewa tempat ini. Tapi kenapa wajahnya tidak asing, kalau di lihat dari samping mirip dengan Kevin, Ahh! mungkin hanya perasaanku saja." ucap Hana dalam hatinya melewati Kevin.
Kevin memilih memalingkan muka karena Hana terus melihatnya.
"Aku harus ikuti dia." ucap Kevin berjalan menyusul Hana menaiki satu lift bareng Hana.
Hana tidak menyadarinya karena ia masih fokus pada benda pipih yang ada di tangannya.
Tringgg.... suara lift terbuka Hana keluar terlebih dahulu disusul Kevin yang ada di belakangnya tanpa dicurigai.
"Selamat siang Nona Muda?" ucap Tomi sopan.
"Siang." jawab Hana.
"Nona tidak duduk dulu Makan siang." ucap Tomi.
"Tidak usah. Nanti saya makan dirumah saja." ucap Hana.
"Tapi sepertinya wajah Nona pucat." ucap Tomi.
"Ohh! mungkin make up tadi sudah aku hapus. Jadi terlihat pucat." ucap Hana.
"Saya pergi dulu. Dimana kunci mobil ku?" tanya Hana.
"Nona hati hati dijalan." jawab Tomi tersenyum memberikan apa yang Hana mau.
"Pasti. Saya tinggal dulu, kalau ada masalah langsung hubungi saya." ucap Hana.
"Siap. Nona Muda." ucap Tomi.
Kevin mengikuti Hana menjaga jarak lumayan jauh tapi masih mengamati Hana.
"Tomi benar. Wajahku pucat, kata dokter setelah aku operasi tidak boleh terlalu capek apalagi berfikir keras." ucap Hana mengambil kaca sebelum masuk ke dalam mobilnya.
"Dia naik apa? Pasti sedang menunggu dijemput laki laki itu." ucap Kevin yang sudah masuk ke dalam mobilnya.
Hana mengendarai mobil dengan cepatnya bak seorang pembalap saja.
Kevin yang mengikutinya hampir kewalahan mengikutinya.
"Hebat juga dia." ucap Kevin menambah kecepatannya.
"Kenapa mobil itu dari tadi mengikutiku terus. Rupanya ada yang mau bermain main denganku." ucap Hana melihat kaca spion mobilnya.
"Sial. Dia semakin cepat saja, aku harus memotong jalan agar bisa menyalip mobilnya." ucap Kevin memukul stirnya dan membelokkan mobilnya.
"Dia menyerah juga akhirnya." ucap Hana tersenyum.
Tak disangka tiba tiba mobil sport bewarna biru mendarat tepat menyilang di hadapannya, dengan cepat Hana mengerem mobilnya mendadak hingga jarak mereka hanya lima centi saja.
"Chittttt" suara mobil Hana membanting stir ke kiri hingga kepalanya terbentur ke kaca sebelah kanan karena tidak bisa menyeimbangkan diri.
"Jedung." kepala Hana terbentur dengan kerasnya.
"Aduh! Itu mobil yang tadi mengikutiku. Gara gara dia kepala ku jadi korbannya, memar lagi." ucap Hana memejamkan mata memegangi kepalanya yang sakit.
Pandangan Hana agak buyar ditambah lagi ia belum makan dan keadaannya sedang sakit jadi Hana tidak terlalu focus menyetir.
"Mau dia apa. Sudah menghalangi jalan, hampir saja aku nabrak dan jantung aku hampir terlepas karenanya, awas aja aku beri pelajaran buat dia." ucap Hana marah keluar dari mobilnya dan menutup pintu mobil dengan keras dengan badan sedikit sempoyongan tapi Hana segera menyeimbangkannya.
"Hey! Turun kamu. Pengecut, orang macam apa kamu." ucap Hana memukul mobil biru dengan keras.
"Aduh! tanganku sakit juga." ucap Hana dalam hatinya.
"Apa kamu tidak dengar. Cepat turun, beraninya sama wanita, saya tidak takut walaupun kamu laki laki sekalipun." ucap Hana emosi.
"Oke. Aku pergi, kalau saja aku tidak ada urusan lagi akan kuseret kamu dari dalam mobil." seru Hana emosi kemudian berjalan ke arah mobilnya.
Ketika Hana ingin masuk tangannya dicekal oleh seseorang sehingga Hana menoleh terkejut melihat orang yang sangat dikenalnya ada di hadapannya.
"Kevin. Sedang apa kamu disini." ucap Hana gugup.
"Harusnya aku yang bertanya padamu. Sedang apa kamu disini dan kamu menaiki mobil sendiri." ucap Kevin menekan mengunci kedua tangan Hana ke mobil.
"A-ku bisa jelaskan." ucap Hana.
"Semuanya sudah jelas kamu berbohong padaku." bentak Kevin keras mengeratkan tangannya hingga Hana kesakitan.
"Kevin. Kamu menyakitiku." ucap Hana merasa kuku dijari Kevin menusuk ke tangannya.
"Hebat ya! kamu punya Cafe sendiri ditambah lagi cabangnya sudah ada dimana mana? kamu ngakunya orang biasa yang nggak punya apa apa, aku seperti orang bodoh bisa bisanya tertipu olehmu. Hah?" ucap Kevin keras.
"Maafkan aku Kevin. Sudah tidak jujur padamu." ucap Hana mengeluarkan air matanya.
"Apa karena aku bukan calon suamimu sebenarnya. Jadi kamu mempermainkanku." bentak Kevin sangat kerasnya sehingga Hana hanya bisa menangis dan menahan sakit kepalanya yang semakin menjadi.
Tiba tiba Hana tak sadarkan diri didepan mata Kevin.
"Hana. Kamu kenapa?" ucap Kevin menepuk pipinya tapi tak ada reaksi apapun ia langsung mengangkat tubuh Hana ke dalam mobilnya.
•
•
•
*Bersambung*