Seleb Intertainment

Seleb Intertainment
168. Pulang



Beberapa hari kemudian...


Kevin sudah di bolehkah pulang ia sangat bersikeras ingin segera bertemu dengan anak anaknya karena sejak pertama kali lahir ia sama sekali tak melihatnya.


"My Prince. Kamu yakin mau pulang, apa kondisi tubuh mu sudah baik?" ucap Hana di perjalanannya.


"BABY. Kamu lihat sekarang, aku bahkan sudah bisa berdiri dan berjalan." ujar Kevin.


"Hey! apa kau tidak lihat sekarang kita ada dimana? bagaimana mungkin itu terjadi? itu alasan mu saja, kau hanya pura pura kuat." seru Lee.


Kevin menendang jok mobil belakangnya hingga tak sadar kakinya terasa ngilu karenanya.


"Masih sakit aja mau sok sok an kuat." nyinyirnya lagi membuat Kevin semakin emosi.


"Tutup mulutmu. Siapa yang menyuruhmu bicara?"


"Terserah aku dong! mulut mulutku sendiri. Memangnya ada peraturan yang melarang orang berbicara di dalam mobil, hello!" ledeknya lagi kali ini Hana mencubit perutnya keras.


"Hah! rasain tuh! kamu pintar sekali BABY!" soraknya kegirangan merasa di bela oleh istrinya.


Hana menggeleng kepalanya pelan. "Cukup. Kalian bisa berhenti berteriak tidak, ingat usia." ujarnya menengahi.


"No." ucapnya kompak.


"Emm...! My Prince. Udah aah! jangan di ladeni, kamu itu bukan lagi muda." ucap Hana.


"Maksudmu." ujar Kevin mengerutkan dahinya.


"Nanti ku beri tau di rumah. Okey!" bisik Hana dengan nada menggoda.


"Kenapa tidak sekarang aja?"


Di Rumah....


"Kangen juga sama rumah ini." gumam Kevin tersenyum sembari di papah oleh Lee Tae Yeong.


Sedangkan Hana ia membuntuti nya di belakang.


"Seharusnya kau bersyukur. Punya saudara kembar yang baik." ujar Lee sesampainya di depan pintu masuk.


Kevin menatap nya kesal. "Sebenarnya kau ikhlas nggak sih! membantuku." ujarnya.


"I don't know." Lee berkata santai.


Dari belakang terlihat akur tapi malah sebaliknya mereka seperti anak tk yang baru saja masuk sekolah.


"Kalian tidak bertengkar lagi kan." seru Hana berjalan beriringan dengan mereka.


"Tentu saja kita tidak. Sesama saudara harus saling membantu, bukankah begitu." ujar Lee tersenyum menatap Kevin.


"Dasar bermuka dua. Bisa bisanya dia cari perhatian sama Hana, awas saja kau, lain kali akan ku balas." batin Kevin.


"Syukurlah. My Prince, aku memindahkan barang barang kita ke kamar bawah." ucap Hana.


"Lho! Kenapa? bukankah lebih enak di atas." tanya Kevin di tuntun ke sofa.


"Biar lebih dekat dengan kamar anak anak. Terlalu bahaya buat mereka." jawabnya.


"Dimana mereka?" tanya Kevin celingukan mencarinya.


"Honey. Apa kamu tidak menawarkan aku duduk? suamimu itu berat sekali, mungkin kebanyakan dosa kali yah!" ucap Lee menggerakkan pergelangan tangannya.


"Enak aja kalo ngomong. Dosa kau lebih banyak." ujar Kevin melempar bantal mengenai wajah Lee.


Haa...Haa...Haa...


"Stop. Masih sempat sempatnya bertengkar sudah tua juga, jangan bicara sebelum aku kembali." tegas Hana kesal ia menunjuk mereka dengan dua jarinya ia arahkan kedua matanya.


"BABY. Kamu mau kemana?" tanya Kevin menahan tangan istrinya.


"Menyiapkan kejutan. Sebentar, hanya lima menit, okey!" jawab Hana tersenyum manis.


Lee berdiri ingin membuntuti Hana tanpa sepengetahuan Kevin.


"Hey! Kau mau kemana?" suara Kevin menggema di seluruh ruangan itu.


"Bukan urusanmu." jawabnya santai melanjutkan langkahnya.


Kevin berpikir sejenak. "Tunggu. Itu kan arah kamarku, kau mau apa?" ujarnya.


"Tentu saja mau tidur. Tubuhmu itu berat, seharusnya kau sadar diri, sebagai saudara kembar yang baik, kita harus saling membantu, walaupun sebenarnya aku sama sekali tak menginginkan nya." Kim melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan ocehan Kevin.


"Maksudmu apa? itu takdir. Kau harus menerimanya, hey! kau dengar tidak, dasar aneh." ucapan Kevin berhenti ketika melihat dua balita laki laki dan perempuan berjalan menghampirinya.


Anak perempuan itu tersenyum ke arah Kevin ia memanggil ayah dengan suara cedal, disusul oleh balita laki laki menghampirinya, di belakangnya ada


Seketika Kevin berlutut memeluk kedua anaknya ia sampai menangis, perasaan nya campur aduk, ada rasa penyesalan karena tak ada di samping Hana saat melahirkan mereka, dan juga selama satu tahun lamanya ia tidak melihat langsung pertumbuhan anak anaknya.


"Sayang. Kapan kamu pulang? bukankah tubuhmu belum pulih sepenuhnya." Sinta mengusap rambut anaknya.


"Mama. Papah!" Hana mencium tangan kedua mertuanya.


"Sayang. Mama kira tadi kamu bercanda soal kepulangan Kevin." ujar Sinta.


Kini beralih Fadly mengusap rambut anaknya. "Sekarang anak Papa sudah besar. Kamu harus jadi ayah dan suami yang baik, jangan terlalu sering marah, mereka akan takut denganmu." ucapnya tersenyum.


"Papa. Stop ! mengusap rambutku, Kevin bukan akan kecil lagi." ujar Kevin menyingkirkan tangan Fadly dari kepalanya.


Mereka terkekeh melihat kelakuan nya, terutama Hana ia menahan tawanya, pasalnya wajahnya terlihat menggemaskan ketika kesal.


"Hana. Sepertinya anak kamu bukan hanya dua yang harus di urus." bisik Sinta.


"Maksud Mama Kevin itu bayi." seru Kevin mendengar nya.


"Kevin memang gitu mah! jangankan berbisik. Ucapan di hati aja dia tau. Itulah keahliannya." timpal Hana tersenyum tidak hanya mengusap anak anaknya, tetapi juga suaminya.


"Oh yah!" ujar Sinta tak percaya.


Hana mengangguk. "Tapi sayangnya dia emosional. Padahal sudah punya dua anak." ledeknya.


"Kamu lupa apa kata dokter tadi. Hmm...! jangan terlalu kecapean, okey!" Hana menahan tangan suaminya ketika mau menggendong anaknya.


"Tapi kan. Masa mau ngajak anaknya saja tidak boleh, dokter macam apa? memang ada peraturannya." gerutu Kevin.


"Bukannya tidak boleh. My Prince, dengarkan aku kali ini saja." pinta Hana di angguki suaminya.


"Sama mommy aja yuk! pappy nya sedang sakit. Nanti kalau sudah sembuh, kalian bisa bermain sepuasnya, okey! pintar." bujuk Hana pada anak anaknya , ucapan nya langsung di dengar oleh mereka.


"Hana. Kita ajak anak anak ke kamar, kamu juga ajak bayi besar itu juga, bisa gawat nanti." ucap Fadly.


"Sudah ku bilang Kevin bukan." ujar Kevin memelankan suaranya.


"Kamu juga lelah kan. Ayo! biar ku bantu ke kamar, setelah ini kamu harus makan dan minum obat." ajak Hana meraih lengan kekar suaminya.


"Siapa nama anak anak kita?" tanya Kevin penasaran.


"Nanti akan ku beritahu di dalam." jawabnya.


BERSAMBUNG