Seleb Intertainment

Seleb Intertainment
32. Frustasi



"lama lama itu bibir bisa jadi maju lima centi. Kalau cemberut terus seperti itu." ucap Kevin melihat Hana memalingkan mukanya ke jendela tanpa mau melihat Kevin.


"Bibir. Bibir aku jadi bebas." ucap Hana tak mau melihat Kevin.


"Ya udah. Kamu tidak mau turun." ajak Kevin yang kini sudah berada di depan rumahnya.


"Apa kita sudah sampai. Perasaan baru jalan." ucap Hana lirih tanpa didengar Kevin memperjelas penglihatannya.


"Ayo. Kamu masih mau disini." ajak Kevin lagi.


"Kemana?" jawab Hana asal.


"Ke Hutan. Ya kita masuk kerumah, masa kekandang harimau." ucap Kevin menahan emosinya.


"Oke." ucap Hana kemudian berlari masuk ke dalam mendahului Kevin.


"Kenapa jadi dia yang masuk dulu. Tuan rumah ini itu siapa?" ucap Kevin berjalan masuk kedalam rumahnya.


Brakkkk.... suara pintu dibanting begitu keras mengagetkan Kevin yang berjalan ke lantai atas kamarnya.


"Lama lama bisa jantungan gara gara dia." ucap Kevin memasuki kamarnya.


Hana memilih duduk di balkon kamarnya dan tertidur di kursi yang ada di sana.


"Kenapa pintu balkon Hana terbuka. Apa dia ada disana." ucap Kevin lebih mendekat dan melihat Hana tertidur di kursi.


"Cepat banget. Bukannya bersih bersih dulu, malah tidur." ucap Kevin menatap wajah Hana dari balkon nya karena letaknya tidak terlalu jauh hanya berdampingan jadi Kevin bisa melihat jelas wajah Hana.


Sebenarnnya seseorang dari sebrang sana mengirim pesan agar Kevin meeting online bersama klien luar negeri maka dari itu Kevin terburu-buru untuk segera pulang.


Kevin memilih meeting di balkon kamarnya agar bisa sesekali melihat wajah Hana yang tertidur.


Setelah selesai Kevin membereskan semuanya dan duduk di kursi memandang wajah Hana ketika tidur terlihat pulas.


Kevin masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri.


"Apa dia sudah bangun." ucap Kevin mengusap usap berjalan ke balkon dan melihat Hana masih setia dengan mimpinya.


"Belum bangun juga. Ternyata dia tetap setia dengan mimpinya." ucap Kevin menggeleng geleng kan kepalanya dan mengusap kembali rambutnya yang basah dan masih menggunakan celana pendek dan tidak memakai baju, jadi keliatan tubuh Six pack nya.


"Aku tunggu sebentar. Setelah itu aku akan membangkanya dari sini." ucap Kevin duduk santai tanpa memakai bajunya.


"Sudah lima belas menit aku menunggunya. Tapi belum bangun juga." ucap Kevin merasa lelah menunggu Hana tidak bangun bangun.


"Sebaiknya aku masuk saja ke kamar dia." gumam Kevin berjalan keluar kamar dan mengetuk pintu Hana keras.


"Hana." teriak Kevin dari luar kamar Hana.


Tok...Tok...Tok.... Kevin mengetuk pintu dengan keras nya tapi Hana tidak menunjukkan batang hidungnya.


"Aku harus membangunkannya dengan cara apa?" ucap Kevin frustasi mengacak acak rambutnya.


"Dasar ceroboh." ucap Kevin tidak sengaja membuka gagang pintu kamar Hana ternyata tidak di kunci.


"Ternyata tidak terkunci. Lalu ngapain aku teriak dan gedor pintu kamar dia keras, buang waktu saja." ucap Kevin memasuki kamar kamarnya berjalan menuju balkon dimana Hana tidur.


"Dia pantas dipanggil anak kecil." ucap Kevin duduk dipinggir kursi panjang yang menjadi tempat tidur Hana.


"Hey! Bangun." ucap Kevin menepuk nepuk kaki Hana.


"Ya ampun. Aku harus bangunkan dia seperti apa?" ucap Kevin frustasi dan langsung mengangkat tubuh Hana dan menempatkannya di kasur nya.


"Diangkat saja dia tidak bangun juga." ucap Kevin duduk di tepi kasur Hana.


"Hey! Apa kamu tidak mau bangun." ucap Kevin memercikan air ke wajah Hana.


"Siapa sih! Ganggu banget. Orang lagi tidur juga." ucap Hana terbangun tapi masih memejamkan kedua matanya tangan nya mengambil bantal guling yang ada di samping nya dan melemparkan nya tepat ke wajah Kevin.


"Aduh. Hana." ucap Kevin keras hampir terjatuh gara gara lemparan bantal guling ke wajahnya.


"Suara itu terdengar tidak asing." ucap Hana membuka matanya terkejut ternyata Kevin ada didalam kamarnya.


"Kevin. Kamu sedang apa disini, sudah tidak memakai baju lagi, pasti kamu mau macam macam." ucap Hana syok.


"Otak kamu tuh! kotor. Mikirnya yang aneh aneh." ucap Kevin kesal.


"Ya terus apa? tujuan kamu kesini. Tidak pakai baju lagi." ucap Hana menutup mata dengan kedua tangannya.


"Kamu sudah bangun kan. Cepat sana mandi dan setelah itu turun untuk makan malam." perintah Kevin lalu pergi dari kamarnya.


"Berarti dia yang mengangkatku kesini." ucap Hana dari dalam kamarnya dan masih terdengar oleh Kevin karena ia masih didepan pintu.


"Kalau bukan saya siapa lagi." seru Kevin dari luar kamar Hana dan berdiri didepan pintu.


"Aduh! kenapa dia." ucap Hana menatap Kevin tidak berkedip.


"Hey! jangan menatapku seperti itu. Atau kamu mau merasakan pelukan dariku." ucap Kevin merentangkan tangan ke Hana.


"Kenapa belum pergi dari kamarku?" teriak Hana dari dalam mendorong tubuh Kevin agar keluar dari pintu kamar nya.


"Memastikan agar kamu langsung mandi dan tidak kembali tidur." ucap Kevin.


"Iya. Cerewet." seru Hana dari dalam kamarnya.


"Perasaan dia yang bawel. Kenapa jadi aku yang dibilang cerewet." ucap Kevin kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Hana langsung bergegas bersih bersih dan setelah semuanya selesai ia memilih duduk di balkon.


"Apa malam ini bulan purnama. Tapi kenapa belum muncul juga, aku tidak sabar untuk melihatnya, mungkin sebenar lagi, ini kan masih jam setengah tujuh malam." ucap Hana menatap ke arah langit yang dipenuhi bintang bintang gemerlap.


Hana mengambil Handphone nya yang bergetar.


"Ada apa dia mengirim pesan." ucap Hana lalu membuka pesan dari Kevin.


《Turun sekarang》ucap Kevin dalam pesan diaplikasi hijau.


《Iya bawel》balas Hana dengan emoji kesal.


Kevin tersenyum melihat balasan pesan dari Hana.


Beberapa menit kemudian Hana menuruni tangga berlari lari kecil.


"Hey! jangan lari lari nanti jatuh." ucap Kevin yang berdiri dan ingin menghampiri Hana.


"Tidak akan." ucap Hana tetap berlari dan sandal yang digunakannya tiba tiba putus.


Dengan sigap Kevin menangkap tubuh Hana dan jatuh dalam dekapan nya.





Bersambung***