
"Sejak kapan disini ada lift?" tanya Hana merasa bingung.
"Dari pertama kali rumah ini dibangun." jawab Kevin.
"Kenapa cuma satu coba. Dikamar kamu aja, dan juga letaknya tersembunyi cuma ada dikamar kamu." tanya Hana kini mereka sudah ada didalam lift.
"Ini lift pribadi. Yang menghubungkan lantai dua dan lantai bawah langsung ke parkiran mobil." ucap Kevin.
"Ooh! Apa maksud pertanyaan tadi?" tanya Hana.
"Kita sudah sampai. Kamu mau duduk dimana?" ucap Kevin malah bertanya.
"Tuh! Diatas meja." jawab Hana ketus.
"Ya sudah. Kamu ingin aku memakanmu disini, biar aku suruh singkirkan semua makanan ini." ucap Kevin ingin memanggil bik Yanti tapi Hana mencubitnya keras.
"Maksudmu apa? Aku Bukan makananmu." ucap Hana semakin mengeraskan cubitannya sebenarnya ia sudah tau apa yang dimaksud oleh Kevin tapi pura pura nggak tau.
"Kita lakukan didalam kamar saja. Biar tidak ada yang tau, Sexy?" bisik Kevin membuat Hana membelalak tak percaya.
"Turunkan aku sekarang." ucap Hana melihat Alfian berjalan mendekati mereka.
"Kalau aku tidak mau bagaimana?" tanya Kevin malah mempererat tangannya.
"He..eem?, Maaf mengganggu boleh saya gabung makan siang bareng kalian." ucap Alfian tersenyum menunggu Kevin mengizinkan duduk di meja makan.
"Kamu makan dulu Al? setelah ini kamu ke ruang kerjaku." titah Kevin.
"Terimakasih Boss." ucap Alfian.
Hana merasa risih karena dilihat oleh Alfian karena Kevin tak mau menempatkan Hana di kursi makan.
"My Prince. Bisa tolong turunkan aku dulu, apa kamu tega dengan istrimu kelaparan." ucap Hana dengan wajah memelas.
"Hmm. Bagaimana yah! Oke aku turunkan." ucap Kevin menempatkan Hana di kursi makan raut wajah Hana sudah tak bersahabat seperti menahan kekesalan yang disembunyikan.
"Kamu mau yang mana? Biar aku ambilkan." ucap Kevin meletakkan piring didepan tempat duduk Hana.
"Sudah kenyang. Kamu habiskan saja semua makanan ini." ucap Hana memilih meminum air putih sampai tiga gelas.
"Bagaimana mau kenyang kalau cuma minum air putih aja. Memangnya kamu kecebong apa?" ucap Kevin membuat Alfian tersedak saat makan.
"Uhuk...?, Sorry semuanya. Boss ini kalau istri nggak selera makan ya disuapi dong biar romantis." ucap Alfian.
"Bener juga kamu. Aku suapin kamu yah! kamu mau yang mana? mau aku pesankan makanan diluar." ucap Kevin.
"Nggak mau. Ehh! Tapi aku maunya kamu yang masakin aku." pinta Hana.
"Iya. Kamu mau makan apa?" tanya Kevin.
"Kamu bisa masak. Aku nggak yakin rasanya enak." jawab Hana.
"Apasih yang nggak bisa buat seorang Kevin?" ucap Kevin.
"Hana. Boss Kevin pernah juara satu memasak diwaktu sekolah dasar dulu." Sahut Alfian.
"Wah?, Sepertinya enak saat cuaca panas makan tteteokbokki." ucap Hana basa basi.
"Baiklah. Nona manis, biar aku buatkan." ucap Kevin tersenyum ingin pergi tapi tangannya dicekal oleh Hana.
"Aku mau duduk di sofa aja. Nanti kalau sudah selesai pindah kesini lagi." ucap Hana berdiri berpegangan tangan Kevin.
"Oke. Apa yang tidak buat kamu." ucap Kevin mengangkat Hana dan ditempatkan di sofa.
"Al? Bantu aku masak." titah Kevin menggerakkan kepalanya ke arah dapur.
"Kenapa aku. Hana maunya kamu yang masak." ucap Alfian.
"Iya aku yang masak. Tapi kamu bantu apalah gitu biar gak kelamaan nunggu nya." tegas Kevin melirik ke arah Hana.
"Yang pedes ya! Cabai nya dua puluh nggak boleh lebih atau kurang harus pas." ucap Hana memainkan ponselnya.
"Itu nggak seberapa biasanya tiga puluh atau mungkin lebih aku pernah makan." ucap Hana santai.
"Sudahlah boss. Buatkan saja." sahut Alfian.
"Ayo Al?" ajak Kevin pada Alfian.
"Cabai segitu aja kaget. Kamu pasti nggak suka pedas." ucap Hana tersenyum melirik ke arah dapur.
Tiba tiba ponsel Hana bergetar dilihatnya sebuah pesan masuk dari seseorang.
"Doni. Pasti ada yang penting sampai harus kirim pesan." ucap Hana lirih kemudian membukanya.
Doni : Nona, Ada berkas yang harus ditandatangani.
Hana : Apa tidak bisa ditunda.
Doni :Tidak bisa Nona, Ini harus segera ditandatangani karena mau di serahkan ke klien.
Hana :Oke. Kamu temui aku sekarang, nanti aku kirim lewat WA tapi nanti kabarin kalo sudah mau sampai.
Doni : Siap.
Hana : Oke, Sampai nanti.
Sepuluh menit kemudian Doni menelfon Hana langsung mengangkatnya.
~>> [[ Hallo Nona. Saya sudah sampai. ]] ucap orang disebrang sana.
~>> [[ Baiklah saya kesana sekarang. Kamu tunggu sebentar.]] jawab Hana bisik bisik.
Hana mengendap endap keluar agar Kevin tidak melihatnya.
"Akhirnya sampai juga. Aduh ada satpam lagi didepan, ya kali aku harus manjat pagar belakang, bisa lepas pinggang aku nanti." ucap Hana diambang pintu rumah.
"Aku terus terang aja kali ya sama Kevin. Nanti dikira orang Doni selingkuhan aku lagi." ucap Hana berjalan mendekati gerbang.
Tanpa Hana sadari ternyata Kevin mengikutinya dari belakang.
"Pak tolong buka gerbangnya." ucap Hana pada penjaga di depan gerbang.
"Lho! Memangnya Nona mau kemana? apa sudah izin sama Tuan Kevin?" tanya penjaga tersebut yang memakai baju serba hitam dan badan kekar.
"Hmm?, Sudah tadi." ucap Hana ragu ragu.
"Pasti nona belum izin yah! saya tidak berani kalau bukan seizin Tuan Kevin?" ucap penjaga itu menghalangi jalan Hana.
"Pak tolong deh! Buka gerbang atau saya." ucap Hana tak berpikir panjang ingin memanjat gerbang yang menjulang tinggi.
"Apa yang Nona lakukan?" ucap penjaga menghentikan langkah Hana.
"Sebenarnya siapa lelaki itu. Sampai kamu bersikeras untuk menemuinya tanpa seizinku." ucap seseorang dari belakang Hana.
"Kenapa dia ada disini?, Apa dia diam diam mengikutiku." ucap Hana dalam hatinya.
"Kamu yakin mau memanjat gerbang setinggi itu." ucap Kevin mencekal tangan Hana erat.
"My Prince. Tolong beri izin temanku masuk, ini penting." ucap Hana ia tangannya dicekal tapi berpegangan di pagar agar Kevin tidak bisa menariknya.
"Siapa dia?" tanya Kevin menatap Hana tajam Doni yang duduk di depan mobil warna silver.
"Asistenku." jawab Hana singkat.
•
•
•
^^BERSAMBUNG^^