
Hana mulai mengerjap erjapkan matanya ingin mengangkat tangan terasa berat ternyata Kevin duduk ada disampingnya memegang tangan Hana.
"Ini ada dimana? Kenapa aku berada disini? pasti kamu sudah." ucap Hana panik.
"Sadarlah. Ini dirumah orang tuaku." ucap Kevin menggoyang goyangkan wajah Hana ke kiri dan kanan.
"Lepas." ucap Hana menangkis tangan Kevin kasar.
"Kamu ini perempuan. Kasar sekali, aku nggak nyangka kalo kamu seperti ini padaku." ucap Kevin merasa teraniaya.
"Lebay?" ucap Hana melempar guling ke arah Kevin hingga terjatuh tapi malah menarik tangan Hana hingga mereka jatuh bersama di lantai.
Sedangkan Hana menimpa tubuh Kevin ia berada diatas dada bidang Kevin.
Posisi Hana memeluk tubuh Kevin menempelkan bibirnya ke pipi Kevin.
Mereka tidak bergerak sama sekali apalagi Kevin malah mempererat memeluk pinggang Hana yang ramping, sehingga Hana tak dapat bergerak karena tubuhnya terasa terkunci oleh Kevin.
"Aduh! Kenapa harus posisi seperti ini sih! Dan Kevin juga membuatku tidak bisa bergerak sedikitpun." ucap Hana dalam hatinya.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi dariku. Selamanya aku juga mau, kalau di posisi ini." batin Kevin ia malah tersenyum senang.
Tiba tiba seseorang datang mengetuk pintu kamar karena pintunya tidak dikunci jadi langsung masuk saja dan terkejut melihat Kevin dan Hana sedang berpelukan di lantai.
"Apa yang kalian lakukan?" ucap seseorang.
Hana menoleh kaget melihat Orang tua Kevin dan juga Alfian datang ia segera ingin melepaskan diri dari Kevin tapi usahanya malah sia sia
Kevin semakin mempererat pelukannya membuat Hana tak bisa bergerak walaupun sedikit saja.
"Bukan apa apa? tadi kita nggak sengaja terjatuh. Ini tidak seperti yang kalian pikirkan, hmm! Kevin lepas." ucap Hana sesekali tersenyum ke orang tua Kevin.
"Aku tidak akan melepaskanmu? kamu sendiri kan yang menginginkan nya." ucap Kevin santai.
"Kevin?" teriak Hana tak terkontrol membuat Kevin langsung melepaskan nya dan juga orang tua Kevin terkejut mendengar teriakan Hana yang begitu keras.
"Sakit ini telingaku. Suaramu itu sangat keras." ucap Kevin mengusap kedua telinganya.
"Salahmu sendiri. Dasar modus, jatuh aja sendiri, nggak usah ngajak aku kali" ucap Hana marah ia baru sadar kalau ada orang tua Kevin yang melihatnya.
"Kalian ini. Kalau lagi bertengkar lucu juga." ucap Sinta yang sebelumnya sudah memotret Hana dan Kevin terjatuh.
"Mama. Kenapa difoto, itu nggak lucu tau, hapus nggak." ucap Kevin berdiri ingin merebut handphone Sinta tapi ditahan oleh Fadly.
"Anggap saja ini momen yang baik. Nanti kita cetak ya mah? Untuk dipajang di dinding ruangan kamar tamu." ucap Fadly mengajak istrinya keluar kamar.
"What? ini semua gara gara kamu. Menyebalkan." ucap Hana melempar bantal guling ke Kevin tapi tidak kena karena Kevin menghindar malah terkena Alfian yang masih disana.
"Upss. Sorry kak Al? Aku nggak sengaja." ucap Hana menutup mulutnya berkata pelan.
Sedangkan Kevin malah tertawa puas menatap Alfian yang terkena bantal guling hingga menabrak pintu karena Hana melemparkan penuh emosi.
Hana berdiri membenarkan pakaiannya agar lebih rapi.
"Sorry kak Al?" ucap Hana tak enak hati sedangkan Kevin masih tertawa.
"Apa yang kamu tertawaan?" ucap Hana dan Alfian bersamaan.
"Haa...Haa..Haa. Lucu aja karena memang pantas." ucap Kevin disela sela tawanya.
"Kamu itu memang menyebalkan." ucap Alfian menahan kesalnya.
"Oke. Oke aku berhenti tertawa, kamu seharusnya salahkan tuh! Hana?Sakit nggak terkena pintu, atau perlu aku bawa kerumah sakit." ucap Kevin.
"Perlu. Kamu aja sana kerumah sakit jiwa." ucap Alfian.
"Keluar sana. Urusan kita belum selesai ya?" ucap Kevin mendorong Alfian keluar kamar.
"Kevin. Hana? ayo kita makan malam dulu." ucap Sinta dari meja makan melihat mereka belum keluar kamar juga.
"Iya Mah?" jawab Kevin.
"Kamu juga keluar." usir Hana.
"Aku juga keluar. Inikan kamarku." ucap Kevin masuk kembali ke kamarnya.
"Aku mau mandi. Tapi baju gantinya nggak ada." ucap Hana bingung.
"Yaudah sana mandi. Kamu bisakan pake baju itu lagi." ucap Kevin.
"Mana bisa. Jorok banget, ini kan sudah malam masa tidur pake pakaian seperti ini." ucap Hana.
"Sini. Aku tunjukkan, Ini baju gantimu." ajak Kevin menarik tangan Hana ke depan lemari yang berisi kemeja lelaki dan serba lelaki.
"Ini pakaian laki laki semua. Mana muat di badan aku." ucap Hana menutup kembali almarinya.
"Pake aja. Gitu aja susah." ucap Kevin memberikan kemeja Navy ke Hana.
"Ini kegedean." ucap Hana.
"Kalau kebesaran tinggal kasih sabuk yang kamu pake. Pasti pas kan, gitu aja repot, cepat sana mandi, aku tunggu kamu di meja makan, ingat jangan lama lama." ucap Kevin kemudian pergi.
"Terpaksa aku pake baju ini." ucap Hana sudah selesai mandi.
Hana menyisir rambutnya sesekali melihat kemeja yang ia pakai didepan Almari pakaian.
Kemudian Hana mengambil sabuk dan diikatkan ke pinggang nya.
"Cocok juga. Walaupun kemeja ini besar, tapi pas banget ditubuh aku." ucap Hana tersenyum.
"Pinter juga Kevin. Laki laki tapi tau fashion perempuan." ucap Hana berjalan keluar kamar.
"Hana. Ayo duduk disebelah Kevin dan Mama?" ucap Sinta merangkul bahunya di dudukkan ke kursi.
"Terimakasih mah?" ucap Hana tersenyum.
"Tidak perlu sungkan. Anggap saja orang tua kandung sendiri." ucap Sinta kemudian duduk.
Sedangkan Kevin terlihat cuek tanpa melihat Hana yang menatapnya.
"Biar mama ambilkan. Kamu suka yang mana?" ucap Sinta.
"Tidak usah repot repot Mah? Hana bisa ambil sendiri." ucap Hana tak enak hati.
"Nggak papa Hana. Kamu sudah kami anggap sebagai anak sendiri." timpal Fadly.
Hana tersenyum menikmati makanan yang diambilkan oleh Sinta.
"Kevin. Kenapa kamu diam saja, tidak menyapa Hana atau basa basi gitu." tanya Fadly melihat Kevin hanya terdiam.
"Tidak apa apa? Kita nanti bicara berdua. Saya tunggu kamu di taman belakang." ucap Kevin kemudian berbisik ditelinga Hana.
•
•
•
*Bersambung*