Seleb Intertainment

Seleb Intertainment
147. Lelah



Malam harinya Kevin berniat untuk sekedar jalan jalan di pantai sendirian tanpa adanya yang menemani ia mengenang kebersamaan dengan Hana yang kegirangan setiap diajak pergi ke sana dan tidak akan pulang sebelum hari menjelang malam.


"BABY. Bagaimana kabarmu? Dan calon anak kita." ucap Kevin berjalan di tepi pantai.


Menikmati udara segar di malam hari yang terasa lebih dingin. Ombak menerpa mengenai kemana langkah kaki Kevin melangkah. Langit malam yang terlihat berawan dihiasi bintang-bintang kecil dan bulan sabit yang tidak begitu jelas seakan ingin turun hujan.


Kevin duduk di atas pasir tanpa alas apapun kemudian merebahkan tubuhnya di sana menatap langit yang gelap karena hati sudah larut malam. Satu persatu orang- orang yang ada disana pergi hanya tinggal dirinya seorang.


"BABY? apa kamu tidak berniat untuk membalas pesanku. Semua sosial media milikmu sudah lama tidak aktif, atau setidaknya buka pesan dariku." gumam Kevin hatinya sangat sakit.


Semalaman Kevin tak pulang ke rumahnya ia masih betah berada disana.


Sunrise (matahari terbit) terlihat lebih cerah dari biasanya yang masih tetap gelap karena ditutupi oleh awan mendung.


"Sudah pagi. Aku ketiduran ternyata, untung saja di mobil ada baju ganti." ucap Kevin berdiri merentangkan kedua tangannya.


Mengendarai mobilnya pergi dari sana dengan mata yang masih ngantuk. Dan ia berhenti di Cafe Hana.


"Permisi Tuan. Ini menu sarapan pagi di Cafe ini." ucap pelayan laki laki menghampiri Kevin yang baru saja duduk.


"Tunggu sebentar Tuan. Pesanan anda akan segera kami siapkan." ucap pelayan itu ketika Kevin sudah memilih menu makanan nya.


Tak lama kemudian Tomi datang ia langsung mendapati orang yang sangat familiar di matanya.


"Itu Tuan Kevin. Aku tidak salah lihat, tumben sekali, pagi pagi sudah kesini." gumam Tomi menghampirinya.


"Kenapa tidak disusul kesana saja Tuan?" seru seseorang mengagetkan Kevin yang sedang merunduk karena masih mengantuk.


"Tomi. Kamu sudah berangkat jam segini." ucap Kevin menoleh ke sumber suara.


"Iya Tuan? setiap hari jumat. Cafe ini buka lebih awal, karena ada pembagian amal dan makan gratis khusus hari ini, dari pagi sampai sore bagi anak jalanan, juga orang orang yang tidak mampu." jelas Tomi.


Kevin saja baru mengetahuinya ternyata istrinya suka berbagi sesama yang ia sendiri tidak pernah melakukannya sama sekali.


"Hana tidak pernah kasih tau hal ini ke aku. Istriku ini memang benar benar perfect, sudah cantik, baik, tapi arogan, tidak sabaran juga, tapi ngagenin." batin Kevin.


"Tuan. Tuan Kevin, anda baik baik saja." panggil Tomi menepuk pundaknya.


"BABY. Sorry sorry." jawab Kevin sampai merajuk.


"Hmm. Ketahuan, pasti lagi mikirin Nona Hana." goda Tomi.


Mereka jadi curhat tentang kehidupannya dari hal yang pernah dialaminya.


"Jadi kamu sudah punya tunangan. Kalau begitu kapan nikahnya, kenapa tidak secepatnya saja? nanti keburu diambil orang lho!" tanya Kevin sembari mengunyah makanannya.


"Tidak bisa Tuan. Kita berdua sudah beda alam." jawab Tomi.


Kevin mengerutkan kening nya ia sedikit berpikir apa yang dimaksud olehnya.


"Maksudmu." ucap Kevin tak mengerti.


Tomi menghembuskan nafasnya kasar. "Dia sudah tidak ada di dunia ini lagi Tuan?" jelas Tomi lesu.


"Tak apa Tuan?" ucap Tomi tersenyum pasi.


Bagi Kevin Tomi memanggilnya terlalu formal. Padahal dia cuma karyawan Hana.


"Panggil Kevin saja. Biar tidak terdengar kaku, okey!" ucapnya menegaskan.


Tomi mengamati badan Kevin yang kurusan padahal baru ditinggal Hana satu minggu saja.


"Tuan? maksudku. Kamu agak kurus, pasti telat makan, dan tidur larut malam terus, ditambah lagi berolahraga melebihi batas." ucap Tomi mengamatinya.


"Tidak juga. Berat badanku masih sama." ucap Kevin berbohong tapi Tomi mengetahuinya.


"Masa sih! aku juga pernah mengalaminya. Jangan diteruskan kebiasaan itu, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, nanti malah sakit." ucap Tomi.


Kevin selesai memakan makanannya dengan lahap karena dari tadi malam belum makan apapun, apalagi siang nya hanya ngemil saja ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya.


"Aku tinggal sebentar ke dalam. Ini kunci ruang pribadi Nona Hana, kamu bisa istirahat disana, nanti kalo ada keperluan, tinggal panggil aku saja, ruanganku ada disebelah nya." ucap Tomi meletakkan di atas meja.


"Thanks Tomi. Kamu baik sekali." ucap Kevin diangguki olehnya.


Kevin mengambil kuncinya ia malah mengamati gantungan kunci berbentuk bulan sabit di tengahnya ada berlian kecil berbentuk bintang.


"Hmm. Istri sultan, gantungan kunci saja berlian, apa tidak takut nanti hilang." gumam Kevin melangkah kan kakinya ruang kerja Hana.


Didalamnya seperti kamar. Ada ranjang berukuran king size dan juga meja kerja, di dinding nya dihiasi foto dirinya bersama Hana berukuran besar.


"Ini ruang kerja atau kamar. Sudah gitu warnanya pink semua lagi." gumam Kevin menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.


Dari dinding, meja, kursi, ranjang beserta selimut, bantal sampai keramik nya pun bewarna pink dan masih banyak lagi perabotan lainnya.


"Keren juga. Tapi kenapa harus warna pink coba, apa semua wanita suka, aneh sekali." gumam Kevin ia tak sengaja memencet tombol remot hingga lampu kamarnya mati.


Karena ruangan kerja Hana di design kedap suara dan terlihat gelap ketika tidak ada penerangan.


"Waah? Keren sekali." ucap Kevin takjub melihat dinding kamarnya berubah bewarna biru.


Terdapat lukisan Hana dan Kevin berduaan di ayunan taman. Ada hiasan bunga bunga yang kecil berwarna warni seperti berada di taman belakang rumahnya.


"BABY. Apa itu kita berdua, seperti di dunia fantasi saja." ucap Kevin tersenyum melihatnya dari atas tempat tidur.


Kevin tertidur pulas disana sampai tak sadar kalau sudah waktunya berangkat ke kantor. Tomi yang mengetuk pintu dari luar beberapa kali tidak ada jawaban sama sekali.


Tok tok tok


"Kevin. Kevin, Kevin?" panggil nya menggerakkan knop pintu yang tidak terkunci.


"Emm. Aku bangunin apa tidak ya! tidurnya pulas sekali, takutnya nanti ganggu, kan bahaya juga kalau menyetir dalam keadaan mengantuk, aku pura pura sibuk saja, tidak tau apa apa." ucap Tomi bergegas keluar dari sana menutup kembali pintunya.


BERSAMBUNG