
"My Prince. Kamu kenapa?" tanya Hana khawatir melihat suaminya meringis kesakitan memegangi dadanya.
"Im fine. Aku ke dalam dulu ya! sebentar saja." ucap Kevin bergegas pergi meninggalkan nya bersama anak anaknya.
"T-tapi. Kamu beneran nggak apa apa kan." seru Hana, suaminya mengangkat tangan kearahnya.
"Pappy." panggil Yoora dengan suara khas anak kecil.
"Sebentar sayang. Pappy kamu sebentar lagi datang, sama mommy dulu yuk!" ucap Hana menggendong Yoora yang menangis ketika ayah nya pergi.
*****
Agrhhhhh.....
"Kenapa dadaku sakit sekali? Apa ini efek dari operasi itu." pekik Kevin sakit teramat sangat ia juga berkeringat dingin, tubuhnya seketika lemas.
Kevin mengingat perkataan dokter jika efek sampingnya ialah penolakan dari transplantasi jantung yang di lakukan nya.
"Sebenarnya siapa pendonor itu. Semua orang seakan merahasiakan nya dariku." gumam Kevin rasa sakitnya mulai agak berkurang setelah ia meminum obatnya.
"Kalau begitu aku harus cari tau sendiri." lanjutnya ia segera mengganti baju supaya Hana tak curiga, takutnya dia khawatir.
Suara klakson terdengar dari luar, Kevin segera membukakan pintu untuknya ia tak mungkin menyetir sendiri dalam keadaan dirinya masih sakit, jadi ia menyuruh Doni untuk datang.
"Tuan Kevin. Lama tidak berjumpa, Bagaimana kamar anda?"
"Baik. Masuklah." jawab Kevin mempersilahkan masuk.
"Thanks Tuan. Apakah anda sendiri yang merancang desainnya?" Doni melihat lihat isi rumah kaca itu, dari luar nampak begitu aesthetic.
"Minumlah. Kau pasti kedinginan diluar." ucap Kevin meletakkan minuman dan camilan ke atas meja kemudian ia duduk di sofa menyilangkan kakinya.
"Tidak usah sungkan. Anggap saja rumah sendiri, dan berhenti bersikap formal padaku." lanjutnya, sikap Doni begitu canggung ketika bersamanya.
Doni mengamati wajah Kevin yang sedikit pucat, ia ingin bertanya tetapi mengurungkan nya.
"Istriku ada di belakang. Sedang bermain sama anak anak." ujar Kevin, ia melihat Doni celingukan.
"Apa kau lapar? saya bisa memasak kan untukmu." ucap Kevin menawarkan.
Tak sekedar basa basi Kevin membuatkan rameyeon untuk nya, tidak butuh waktu lama masakannya jadi.
"Silahkan dimakan. Saya itu bukan monster, jadi kau tak perlu takut, kita sama sama manusia biasa." ujar Kevin.
Doni mencicipi masakan buatan Kevin. "Emm...! ini enak sekali." ujarnya menikmati makanan nya.
"Jika masih lapar saya bisa membuatkan lagi." ujar Kevin, Doni terlihat lahap, baru juga beberapa menit sudah habis tanpa tersisa sedikitpun.
"Maaf merepotkan. Tapi ini sudah cukup, perutku juga sangat kenyang." ucap Doni tak enak hati.
Dari sisi lain Hana menunggu suaminya, pamit nya cuma sebentar, akhirnya ia mencarinya ke dalam.
"Ternyata kita kedatangan tamu. Doni, kapan kamu sampai? Kenapa tidak mengabariku? saya kan bisa menyuruh orang menjemputmu." seru Hana melirik suaminya.
"Doni bisa pulang sendiri. Kenapa kamu mau menjemputnya?" ujar Kevin sedikit kesal.
"Istrimu tidak mungkin melakukannya Tuan. Dia cuma basa basi saja." seru Doni.
*****
"My Prince. Kenapa tidak selamanya tinggal disana? tempatnya lebih nyaman, kamu juga butuh ketenangan untuk memulihkan kondisimu." ujar Hana menyarankan.
"Why?" Hana mengangkat kedua tangannya.
"Bagaimanapun disini tempat dimana semua kenangan kita. Jadi kamu jangan melupakan itu." ujar Kevin berlalu pergi.
"Kamu mau kemana? tunggu dulu sebentar. Ada yang ingin ku bicarakan." Hana menghalangi langkah suaminya ia berdiri di depan pintu kamarnya.
Kevin mengangkat dagunya. "Nanti saja. Kelihatannya kamu lelah, istirahatlah, jangan lupa ajak aku." ucap Hana tersenyum kaku, wajah suaminya terlihat tidak bersahabat.
"Mengajakmu. Kemana?" ujar Kevin mengerutkan dahinya.
"Ke hatimu." Hana mengusap dada suaminya manja.
"Kamu mencoba merayuku. Hmm...!" ujar Kevin menarik tangan Hana tapi terlepas dia melarikan diri darinya.
"Aku ke depan dulu. Doni pasti kewalahan menjaga anak anak, mereka sangat aktif." pamit nya melangkah mundur.
"BABY. Kemarilah, aku akan benar benar memakanmu." panggil Kevin melambaikan tangannya.
"Don't want to. Kamu sangat menakutkan." ucap Hana terkekeh melihat ekpresi suaminya.
"Hey! BABY. Dasar istri nggak ada ahlak." panggil Kevin lagi kata kata terakhirnya mengingatkan akan sesuatu.
"Mengingatnya membuatku muak. Sahabat macam apa dia, tega tega nya menusuk ku dari belakang." ujar Kevin berubah kesal ia sampai membanting pintu.
Brakkk....
"Suara apa itu?" gumam Doni terkejut.
"Biasalah Kevin. Dia pasti marah karena aku menolaknya." seru Hana semakin membuat asistennya semakin kaget.
"Nona Hana. Darimana kamu muncul?" ujar Doni masih memegang dadanya.
"Tuh! dari dalam tembok. Kamu ini kenapa sih! aneh sekali, seperti melihat hantu saja." ujar Hana mengambil alih mendorong stroller anaknya.
"Itu lebih menakutkan dari hantu. Tuan Kevin kenapa? dia marah padamu, kesalahan apa yang kamu perbuat sehingga." celoteh Doni terhenti.
"Stop. Itu bukan urusanmu, okey! kamu akan tau setelah menikah, tapi ku peringatkan padamu, kamu harus dengar baik baik." ujar Hana pelan pelan ia takut jika suaminya mendengar apa katanya.
"Sekarang belum saatnya. Nanti ku beritahu kalau kamu sudah menikah." ucap Hana membuat asistennya penasaran.
"Astaga. Nona, nanggung tau, tinggal di kasih tau, selesai kan urusannya." ujar Doni.
Hustttt....! "Kamu terlalu dini untuk mengetahuinya." bisik Hana tersenyum menahan tawa.
"Nona. Kebiasaan dari dulu, suka sekali memberi teka teki, usia ku sudah mulai dewasa kali." Doni semakin di buat kesal oleh sahabat sekaligus atasan nya.
"Dewasa. Emm...! tapi kamu masih perjaka, bagaimana dong!" ujar Hana tertawa tanpa suara.
"Maksudmu apa Nona? sejujurnya saya pernah melakukannya. Dan sekarang." ujar Doni membuat tawa Hana terhenti.
"Jangan bilang kamu. What? kamu tidak sepolos yang ku bayangkan, ternyata semua lelaki itu sama." ujar Hana semakin menyudutkan nya.
"Berhentilah tertawa. Kamu tidak malu sama anak anakmu." pinta Doni kalau bukan Hana istrinya orang lain ia akan membalasnya.
"Kenapa malu? mereka juga tertawa. Walaupun nggak tau apa apa, aduh! perutku jadi sakit, kamu harus tanggung jawab." ujar Hana terkekeh memegangi perutnya sembari berjongkok.
Tanpa disadari sepasang mata melihatnya. "Beraninya kamu tertawa diatas kekesalan suamimu. Tunggu nanti malam, aku akan benar benar menghukum kamu." gumamnya beranjak pergi.
BERSAMBUNG...