Seleb Intertainment

Seleb Intertainment
158. Ingin Tau



{{Hana: Kamu dengar nggak sih! aku ngomong}}


Kevin menyangga kedua tangannya diatas meja memperhatikan gerak gerik bicara istrinya ia bahkan tidak semuanya mendengar apa katanya.


{{Hana: My Prince. Diajak bicara malah bengong, mikirin apa sih! diotak kamu}} celetuknya agak kesal.


{{Kevin: You. BABY? very beautiful}} gumamnya tersenyum.


{{Hana: Ya ampun. My Prince, ternyata pikiranmu pasti kemana mana, nggak nyambung, kita itu lagi bahas kak Tae Yeong, kenapa jadi aku}}


{{Kevin: Tidak juga. Cuma satu tujuan saja dan itu kamu, BABY}}


Hana menggelengkan kepalanya menepuk jidatnya sendiri.


{{Kevin: Kenapa? kepalamu sakit}}


{{Hana: My Prince, sudah yah! ngantuk nih! mau bobok siang}} ujarnya Kevin enggan menutup nya.


{{Kevin: Hmm...! okay. Tapi cium dulu}} pintanya.


{{Hana: Bagaimana caranya? kita kan jauh}} Kevin mendekatkan wajahnya ke layar laptop nya secara bergantian.


Setelah puas Kevin baru menutup vidio call nya ia membaringkan tubuhnya di atas sofa senyum senyum sendiri.


"Jadi kangen. Padahal baru melihat wajahnya, tapi itu hanya di dalam layar saja." gumam Kevin mendesah sembari melihat foto wanita tercintanya kemudian terlelap dalam tidurnya.


Hari sudah hampir larut malam akan tetapi Kevin belum juga turun untuk makan atau semacamnya.


Lee menunggu kedatangan saudara kembarannya untuk makan malam bersama dengannya ia sampai dua jam berada di sana sesekali berdiri melihat ke arah anak tangga.


Tok tok tok...


Pintunya tidak terkunci dari dalam Lee memutuskan masuk ia ingin melihat apa yang dilakukan olehnya sampai tak mau keluar dari sana.


"Astaga! dia ternyata tidur. Pantas, dipanggil nggak nyahut." ucap Lee mengambil bingkai berisi foto Hana terjatuh dibawah.


"Honey? astaga ini bocah. Benar benar ceroboh, pintu tidak dikunci, laptop masih menyala, tidur sembarangan, terus apa gunanya kasur coba." gumam Lee tangannya tak sengaja menyenggol.


Terbuka galeri foto Kevin masih berusia enam tahun hingga ke masa sekolahnya.


Lee menemukan satu foto yang menurutnya tak asing dimatanya. "Mereka berdua siapa? akrab sekali kelihatan nya. Wajah perempuan ini mirip dengan Hana waktu kecil." gumamnya menggeser lagi ada beberapa foto mereka memakai seragam merah putih kemudian ia zoom.


"Iya benar. Ini memang Hana? apa dulu mereka satu sekolahan, gelang itu juga." gumam Lee.


#FLASHBACK


"Kak? kak Tae Yeong." panggil seorang perempuan menghampiri lelaki yang tengah duduk di taman belakang.


"Iya. Ada apa Honey, kok wajahnya cemberut gitu, apakah ada yang menyakitimu?" jawabnya berbalik bertanya.


"Bukan itu. Tapi, gelang aku hilang." ujar Hana.


Lee menyerngitkan dahinya. "I don't know. Nih!" ujarnya memberikan Black card padanya tapi ditolak olehnya.


"Aku ini cari gelang, bukan mau beli kak Tae Yeong." ucap Hana menekankan.


"Seberharga itukah. Kamu punya fotonya tidak, siapa tau kakak pernah lihat dimana?" ujar Lee kemudian Hana menunjukan selembar foto kepadanya.


"Ini bukankah perhiasan anak kecil. Nggak akan muat juga dipergelangan tanganmu, nanti kakak belikan yang terbaru pastinya mahal, hal seperti itu tidak usah dibikin pusing, okay!" ucap Lee.


Hana semakin cemberut berbalik badan meninggalkan kakak angkatnya dengan kesal.


#FLASHBACK


"Dimana dia. Perasaan tadi masih ada disini." lirih Lee.


"I am here!" ujar seseorang dibelakangnya.


"Tuan Sombong. Aku cuma mau membangunkan kau, ini sudah melebihi waktu makan malam, ayo!" ajak Lee merangkul nya.


Kevin menghempaskan nya. "Dengan cara masuk kamar orang tanpa permisi." ujarnya.


"Aku tunggu kau di bawah." ucap Lee menyelonong pergi begitu saja tapi sebelah tangannya dicekal oleh Kevin sehingga barang bawaannya terjatuh.


Cukup lama Kevin mengamati ia dengan cepat terlebih dahulu mengambilnya.


"Gelang ini. Dapat darimana kau?" tanya Kevin.


"Aaah! itu aku nemu dijalan." jawab Lee merebutnya.


"Eeeh! Lee? tunggu sebentar." panggil Kevin kembali mencekal tangan Lee.


Mereka saling menatap satu sama lain, terutama Kevin sorotan matanya tak bisa lepas darinya ia merasa penasaran, ada banyak pertanyaan ingin dilontarkannya.


"Apa? aku sibuk ada urusan penting. Bisa singkirkan tanganmu." ujar Lee.


Kevin menadahkan tangannya ia ingin memastikan apa itu benar pemilik gelang itu istrinya teman masa kecilnya dulu waktu di sekolah dasar.


"No! berikan gelang itu padaku." tolak Kevin berusaha ingin merebut tapi tak berhasil Lee selalu bisa menghindar.


"Bukan urusanmu. Okay! Ini rumahku, sebaiknya kau jaga sikap terhadap tuan rumah, setidaknya bisa kan sopan santun." tegas Lee melepaskan cekalan tangannya.


Kevin hanya bisa memandangi punggung saudara kembarnya ia masih penasaran apa penglihatannya sesuai harapan nya.


"Aku yakin pasti gelang itu milik Hana. Bagaimana ada bersamanya, tidak ada yang memilikinya selain kita bertiga." gumam Kevin.


🌱🌱🌱Pagi Harinya....


Cuaca hari ini cukup dingin, matahari tak nampak menunjukan sinarnya, mendung gelap berangin sampai menusuk kedalam tulang sum sum, pertanda akan turun hujan.


Hal paling ditakuti oleh Kevin ia khawatir akan menimbulkan kecemasan berlebihan. Ia benar benar tak bisa berkonsentrasi jika terjadi lagi rasa trauma dari dulu tak bisa ia kendalikan.


Di meja makan....


"Ada apa dengannya." batin Lee melihat Kevin tak berselera makan hanya di pandang saja tanpa ada niat untuk menyantap nya.


"Kita berangkat sekarang. Meeting dimajukan satu jam kedepan." ajak Lee memakai jas hitam miliknya.


"Baiklah. Ayo!" Kevin berjalan terlebih dahulu ke depan rumah.


Rintik rintik hujan mulai turun menetes mengenai wajah Kevin. Suara gemuruh terdengar bersahutan meskipun jaraknya terbilang jauh dari sana.


Di sepanjang perjalanan Kevin melihat ada banyak anak anak bermain bercanda ria menikmati setiap tetes demi tetes air hujan. Mereka berlarian kesana kemari, bahkan ada salah satu darinya meminta agar turun hujan lebih deras lagi.


"Tuan Sombong. Kau kenapa?" tanya Lee mengejutkan Kevin karena menepuk pundaknya keras.


"Sudah ku bilang. Jangan pernah kau mengejutkanku lagi, ngerti" ucap Kevin menekankan kata katanya.


"Sorry. Lagi pula biar kau sadar, lama lama bisa tidak waras jika terlalu sering melamun, mikirin apa sih! hidup itu dibuat relaxed." ujar Lee mendapat tatapan tajam dari lelaki sebelahnya.


BERSAMBUNG