
Hana berjalan masuk ia sudah dikagetkan oleh Doni yang berada di depannya.
"Doni. Ngagetin aja kamu, Bagaimana? apa sudah siap semuanya?" tanya Hana.
"Maaf Nona. Tapi kliennya minta kita bertemu secara langsung." jawab Doni.
"Maksudmu. Bukannya mereka ada di Eropa." ucap Hana.
"Kebetulan mereka kesini. Katanya ingin secara langsung bertemu dengan anda." ucap Doni.
"Ribet banget. Kamu tau kan siapa CEO mereka." ucap Hana.
"Mantan pacar Nona?" ucap Doni.
"Jaga mulutmu. Bagaimana kalau ada yang dengar." ucap Hana berbisik.
"Maaf Nona. Masalahnya pihak mereka ngotot banget ingin ketemu sama kamu dan tidak mau diwakilkan." ucap Doni.
"Sebenarnya apa maunya. Malas banget harus berhadapan dia, pa aku pura pura tidak kenal saja?" ucap Hana.
"Nona Hana menyamar saja. Ini saya sudah persiapkan semuanya." ucap Doni memberi Pepperbag kepada Hana.
"Wah...?, kamu ini memang paling bisa diandalkan. ternyata kamu sudah persiapkan semuanya." ucap Hana tersenyum ia menerima pemberian Doni.
"Bonusku mana Nona?" ucap Doni memudarkan senyuman Hana.
"Hmm. Jadi kamu ceritanya tidak ikhlas nih! idemu memang sangatlah membantu, baiklah aku TF ke rekeningmu." ucap Hana.
Hana langsung mengirim sejumlah uang ke rekening Doni.
"Itu bonus buatmu. Tapi kamu harus bantu aku menyamar." ucap Hana.
"Nona. Saya cuma bercanda, ini terlalu banyak." ucap Doni tak enak hati.
"Nggak apa. Anggap saja itu tanda terima kasih dariku." ucap Hana.
"Thanks Nona?" ucap Doni keceplosan menutup mulutnya.
"Apa gaji yang aku berikan kurang cukup?" tanya Hana.
Fadly dan Sinta berjalan ke arah mereka sedangkan Hana masih fokus berbicara dengan Doni ia sendiri tak menyadarinya kalau mertuanya ada di belakang mereka bahkan Hana tertawa ria bersama Doni.
"Sepertinya asyik sekali. Kenapa ngobrolnya di depan pintu?" tanya Sinta mengagetkan Hana.
"Mama? iya maaf. Kita lupa tempat, seharusnya tidak berbicara disini." jawab Hana.
"Nggak apa? tapi lain kali jangan ulangi lagi. Ohh iya kita pulang dulu, sama Carlos juga, dimana dia?" ucap Sinta pada Hana kemudian menoleh ke belakang tidak ada keberadaan Carlos dibelakangnya.
"Kenapa buru buru sekali. Hana masih kangen lho! sama Mama dan Papa?" ucap Hana memeluk tubuh Sinta.
"Kalau kangen kamu dan Kevin bisa kan datang ke rumah, kita tinggal disini hanya satu bulan saja. Setelah itu kami berdua pergi kesana lagi." ucap Sinta mengusap rambut Hana.
"Apa mereka ada bisnis juga diluar negeri. sepertinya ada yang disembunyikan dariku, setauku mereka tidak ada cabang perusahaan disana?" ucap Hana dalam hatinya.
Orang tua Kevin sudah ada di dalam mobil sedangkan Carlos tidak terlihat batang hidungnya entah bersembunyi dimana.
"Dimana Carlos. Lama, dia bersembunyi dimana?" tanya Sinta pada Fadly.
"Sabar sayang. Hana? bisa minta tolong panggilkan Carlos, dia mungkin ada di taman belakang." ucap Fadly pada Sinta beralih ke Hana.
"Baik Pah? tunggu sebentar. Doni, kamu temani mereka dulu." ucap Hana mengangguk kemudian berlari ke dalam rumah.
Lima menit kemudian Carlos datang bersama Hana yang berada di belakangnya.
"Kemana aja kamu. ayo cepat naik." tanya Fadly sedangkan Carlos hanya diam saja.
"Hana. Kita pergi dulu, kamu hati hati dirumah, jangan terlalu dekat dengan laki laki lain, Kevin bisa cemburu nanti." ucap Sinta melirik ke Doni yang berada di sebelahnya.
Hana hanya tersenyum kemudian melambaikan tangannya ke arah mertuanya.
"Nona. Kita harus bersiap siap sekarang, karena meeting nya tiga puluh menit lagi." ucap Doni sedangkan Hana melihat kearah jam tangannya benar saja waktu begitu cepat berlalu.
Sebelumnya Hana menelphone Kevin tapi tidak terjawab kemudian ia mengirim pesan singkat ke Kevin karena mereka mau pergi meeting diluar.
*****
Dikantor Pratama Sanjaya
Sebuah pesan masuk dari seseorang Kevin tapi tak melihatnya ia masih berkutik didepan layar komputer nya.
Tok tok tok
"Boss. Boleh saya masuk." ucap seseorang dibalik pintu.
"Masuk." ucap Kevin.
"Boss. Ada yang ingin bertemu denganmu." ucap Alfian.
"Siapa?" tanya Kevin tanpa menoleh ia masih berkutik pada layar komputer.
Alfian membisikkan sesuatu di telinga Kevin dengan sangat serius.
*****
Di sisi lain Hana kini berpenampilan sangat berbeda ia memakai Wig pendek berponi ala korea panjangnya hanya tiga puluh delapan cm saja berwarna Cranberry Red perpaduan antara warna ungu berpadu warna merah membuat rona wajah Hana terlihat cerah.
Ditambah lagi Hana memoles sedikit tebal di wajahnya, ia memakai soflens berwana caramel brown bibir merah merona riasan glamour.
Hana juga memakai rok celana span abu bergaris hitam dengan atasan rajut tanpa lengan yang sangat ketat sampai memperhatikan lekuk tubuhnya.
Taraaa.... "Doni. Bagaimana penampilanku, bagus tidak." tanya Hana kepada Doni memutar tubuhnya.
"Wahh! Perfect Beautiful, saya kira siapa tadi, ternyata Nona, tapi sepertinya ada yang kurang." jawab Doni menautkan kedua jari telunjuk dan ibu jarinya ke arah Hana.
Doni memberikan kaca mata rose gold ke Hana dan juga memakaikan topi baret ke kepala Hana dengan hati hati.
"Maaf Nona?" ucap Doni memakaikannya pada Hana.
"Doni. Apa aku harus memakai ini juga?" tanya Hana menunjuk ke arah topi yang ia pakai karena itu pemberian dari Kevin.
"Tak apa? Ayo Nona, kita pergi sekarang. Jangan sampai klien kita yang menunggu disana terlebih dahulu." ucap Doni dijawab anggukan oleh Hana.
Doni dan Hana sudah berada disebuah restoran ternama di negara ini dengan anggun Hana melewati para laki laki yang menatap ke arahnya dengan rasa kagum memasuku ke ruang VIP untuk mereka meeting.
Pandangan Hana berhenti melihat orang yang sangat dikenalnya juga berada di sana berduaan dengan wanita lain.
"Wanita itu lagi. Buat apa dia bersama Kevin?" gumam Hana ia sudah berada di dalam melihat Kevin dari jarak jauh karena tempatnya terbuat dari kaca jadi ia bisa melihatnya dari dalam ruangan tapi kedap suara.
Kevin yang merasa ada yang mengawasinya ia menoleh ke arah Hana tapi hanya dari samping saja yang terlihat.
BERSAMBUNG