
"Sejak kejadian itu. kak Tae Yeong mengajakku tinggal bareng di Eropa, Dia bahkan mengajarkan aku banyak hal." ucap Hana.
"Tapi ada hal yang tidak aku duga. Ternyata nenek aku orang sana, sebelum meninggal dia mewariskan harta peninggalannya padaku." ucap Hana.
"Benarkah. Kaya mendadak dong kamu, aku saja harus usaha keras dulu, sebelum mencapai kesuksesan." ucap Kevin membuat Hana tersenyum.
"Enak aja. Semua itu nggak gampang, aku harus mendapatkan nilai yang tertinggi dengan jalur beasiswa, baru aku bisa mendapatkannya." ucap Hana.
"Berarti istriku ini. Selain cantik, mandiri, pintar, dan juga hebat." ucap Kevin mengacungkan dua jempol ke arah Hana.
"Kamu sendiri. Bukannya demi mendapatkan warisan keluargamu, kamu harus menikah denganku dan aku nggak tau apa masih ada alasan yang lain lagi." ucap Hana keceplosan.
Awalnya Hana mau pura pura tidak tau tapi ia malah mengungkapkannya.
Membuat Kevin menyerngitkan dahinya tak percaya apa yang dikatakan oleh Hana.
"Darimana kamu tau?" tanya Kevin.
"Hmm, Dari mulutmu sendiri. Kamu bahkan berbicara dengan kak Al?, sangat keras di depan rumah, dan saat itu aku memang mendengarnya." jawab Hana.
Kevin tampak terdiam mendengar ucapan yang dilontarkan dari mulut Hana.
"Bukan itu Hana. Demi keluargaku, agar perjuangan Papa membangun bisnis tidak jatuh ketangan orang lain." batin Kevin.
"My Prince. Benar bukan apa yang aku katakan." ucap Hana.
"Iya itu memang benar." ucap Kevin tersenyum kaku.
"Terus. Apa ada alasan lain?" tanya Hana.
"Tidak." jawab Kevin menggeleng geleng kan kepalanya.
"Aku janji akan berikan apapun ke kamu. Asalkan Kamu harus beri tau semua alasan, Kenapa kamu menikah denganku." ucap Hana.
"Apapun yang aku mau. Apa kamu yakin?" tanya Kevin memastikan.
"Yakin seratus persen." jawab Hana.
"Tapi ingat. Harus semuanya, jangan ada yang terlewatkan." ucap Hana.
"Oke. Apapun." ucap Kevin memastikan.
"Yah! Tapi jangan ada yang ditutup tutupi dariku." ucap Hana.
"Aku pasti akan menceritakan semuanya nanti setelah kamu sembuh. Kamu juga harus janji tidak akan marah ataupun meninggalkan aku." ucap Kevin.
Hana mengangguk kemudian tersenyum bahwa ia menyetujui dengan mengangkat sedikit jari kelingking ke atas dan Kevin membalas dengan mengaitkan jari kelingking ke Hana.
"Gadis cantik. Sekarang kamu tidur, jangan lupa bawa aku kedalam mimpimu." ucap Kevin mengusap rambut Hana lembut kemudian mengecup kedua pipi dan juga bibir Hana.
"Kamu juga istirahat. Good night My Prince?" ucap Hana memejamkan mata.
"Good Night BABY?" ucap Kevin sekali lagi mengecup bibir Hana.
🌿🌿🌿
Pagi Harinya Hana terbangun terlebih dahulu sedangkan Kevin tertidur dengan posisi tangannya menyangga wajahnya.
Satu tangannya memegang tangan Hana yang tidak diperban.
Kevin terbangun ketika ada pergerakan dari tangan Hana dengan raut wajah masih sangat mengantuk kantong matanya seperti panda terlihat sekali di wajahnya.
"BABY. Kamu sudah bangun. Hoahh?" ucap Kevin menguap.
Badannya terasa sakit semua semalaman ia jagain Hana menahan diri dari rasa kantuk.
"Tanganmu. Kenapa berdarah?" ucap Kevin menekan tombol Nurse Call.
Tak lama kemudian perawat datang disusul oleh Kwak Hyun ke dalam ruangan Hana.
"Iya kak maaf. Tapi aku bosan harus berbaring disini tanpa bergerak." ucap Hana.
"Ini demi kesembuhan kamu BABY. Nurut aja perkataan Hyun." ucap Kevin.
Hana menarik nafasnya dalam kemudian mengeluarkan dengan kasar.
"Setelah ini kamu minum obat. Sebelumnya kamu makan dulu." ucap Kevin ingin menyuapi Hana tapi menolak dengan memalingkan muka.
"Nggak mau. Bosen harus makan bubur terus." ucap Hana.
"BABY Please. Kamu makan ya sedikit saja, ini enak lho!" ucap Kevin menyuapkan bubur didepan mulut Hana tapi ia kembali memalingkan mukanya.
"Ya sudah. Kamu saja yang makan." ucap Hana.
"Kok jadi aku. Yang sakit siapa?" tanya Kevin.
"Cicipi dulu buburnya. Baru setelah itu aku deh!" ucap Hana dengan wajah memelas.
"Memangnya masakan apa? Baiklah. Biar aku coba dulu." ucap Kevin ia menyuapkan bubur ke dalam mulutnya kemudian beralih ke Hana.
"Enak kok. Aku pergi nih! kalau kamu tidak mau makan." ucap Kevin sedangkan Hana masih tetap tidak mau.
"Terserah kamu. Sudah sana pergi." usir Hana ia memalingkan muka kembali sembari melirik Kevin yang sudah berada di depan pintu ingin keluar.
"Katanya mau jagain aku. Kenyataannya apa? malah pergi, dasar nyebelin banget." gerutu Hana kesal.
Hana menunggu kedatangan Kevin kembali tapi bukan orang yang ia tunggu malah suster yang datang.
"My Prince. Ehh. Suster, Suamiku dimana?" tanya Hana.
"Tadi Tuan Kevin menyuruh saya untuk menjaga Nona Hana?" ucap suster tersenyum.
Hampir sepuluh menit Kevin tak muncul juga entah ia kemana Hana selalu bertanya pada suster tapi jawabannya masih sama.
"Dia kehabisan kata kata atau bagaimana?, ditanya baik baik. jawabannya tetap sama saja, buat apa Kevin menyuruh suster seperti dia coba?" ucap Hana dalam hatinya.
Tak lama kemudian orang yang diharapkan Hana muncul juga membawa nampan berisi bubur buatannya.
"My Prince. Kemana aja kamu? aku cari juga, itu kamu bawa apa?" tanya Hana.
"Ooh ini? tadi aku masak bubur, dijamin rasanya pasti enak." ucap Kevin ia meletakkan di nakas.
Kemudian membantu posisi Hana agar sedikit duduk tapi tetap berbaring.
"Aku kira kamu marah padaku. Aku tidak bermaksud mengusirmu, jangan pernah tinggalkan aku." ucap Hana.
"Kamu makan ya! Setelah ini minum obatnya." ucap Kevin.
Hana mengangguk membuka mulutnya tidak sabar untuk memakan masakan dari suaminya.
"Kamu adalah bidadari cintaku. Sampai kapanpun aku tidak akan meninggalkan kamu." batin Kevin.
"Hmm. Ini baru enak." ucap Hana disela sela makannya tersenyum ke arah Kevin.
"Kalau mau. Nanti aku masakin kamu setiap hari." ucap Kevin.
"Jangan. Nanti kalau aku sudah sembuh, biar aku saja yang masak, jamu kan suami aku, dan sudah kewajiban istri yang mengurus suami." ucap Hana.
•
•
•
BERSAMBUNG