Seleb Intertainment

Seleb Intertainment
6. Mengingat Masa lalu



"Itu dia putra kita akhirnya datang juga." ucap Fadly kepada istrinya.


Kevin berjalan mendekati kedua orangtuanya.


"Pah? Mah?" ucap Kevin lalu mencium kedua tangan orang tuanya bergantian.


"Kevin. Duduk dulu kita mau bicara sesuatu sama kamu." ucap Fadly melirik ke Sinta.


"Oke. Kalian mau bicara apa? bukankaah dari tadi." ucap Kevin.


"Sayang. Kita kamu segera menikah." ucap Sinta menatap Kevin serius.


"Apa? Menikah jangan bercanda deh! nggak lucu tau." ucap Kevin terkejut membulatkan kedua matanya.


"Bercanda? Kita serius kamu harus secepatnya menikah." ucap Fadly menatap putranya.


"Memangnya kenapa? Kevin belum siap untuk menikah." ucap Kevin protes memalingkan muka karena kesal.


"Papa nggak mau tau. Kamu harus cepat menikah." tegas Fadly menatap Kevin yang memalingkan mukanya.


"Kamu harus menikah untuk meneruskan perusahaan Papa. Kamu itu satu satunya pewaris keluarga Pratama, jadi kamu harus segera menikah sayang?" bujuk Sinta lembut dan memegang wajah Kevin.


"Atau kamu belum punya pacar. Papa jodohkan sama anak teman papa." ucap Fadly


"Apa dijodohkan memangnya ini zaman apa , udah zaman modern masih ada, tapi kan selama ini mereka udah baik sama aku walaupun aku bukan anak kandung nya." ucap Kevin didalam hati memejamkan kedua matanya.


"Kevin?" panggil Fadly mengagetkan Kevin yang sedari tadi hanya diam.


"Kevin sudah punya pacar." ucap Kevin.


"Kebetulan sekali. Kalau begitu kamu harus secepatnya menikah." titah Fadly.


"Papa ini kenapa sih? ingin sekali anaknya menikah, kira kira ada apa ya? pasti ada alasan dibalik semua ini, aku harus cari tau semuanya, kalau aku tanya mereka pasti mereka nggak akan kasih tau soal itu." ucap Kevin didalam hatinya.


"Jadi bagaimana? kapan kamu akan menikah?" tanya Sinta menyadarkan Kevin dari lamunannya.


"Kevin mau bicarakan dulu sama pacarku." jawabnya berdiri merapikan pakaiannya.


"Kamu harus janji sama kita sayang." ucap Sinta lembut.


"Papa pegang janji kamu. Awas aja kalo kamu mengingkari." ucap Fadly kepada anaknya.


"Iya. Kevin janji, nanti aku kabarin soal tanggal pernikahan Kevin ke kalian, okey!" ucap Kevin melangkahkan kakinya.


"Kevin?" panggil Fadly berteriak karena Kevin sudah ada diluar rumahnya.


"Percayalah sama putra kita. Dia pasti akan memegang janjinya." ucap Sinta menenangkan suaminya.


Sementara didalam mobil Kevin terus memikirkan ucapan orang tuanya.


"Kenapa aku harus bilang sudah punya pacar? aku kan udah putus sama pacar ku." ucap Kevin frustasi didalam sana.


Sesampainya dirumah Kevin ia baru punya cara untuk mengatasi masalahnya.


"Aku tau caranya." ucap Kevin keluar dari mobilnya menyunggingkan senyumnya.


Kemudian Kevin menuju ke kamarnya istirahat karena sudah jam sembilan malam karena Kevin selalu tidur sebelum jam dua belas malam kalau ia merasa kesal ataupun sedih ia merebahkan badan nya dan langsung tertidur karena baginya bisa menghilangkan pikirannya sejenak.


Didalam mimpinya ia bertemu dengan seorang laki-laki lalu menghampiri Kevin yang sedang duduk di bangku taman.


"Kamu siapa?" tanya Kevin menghampiri laki laki itu.


"Maafkan ayah nak? Ayah nggak bisa jagain kamu." ucap laki laki itu.


"Ayah? apa kamu ayah kandungku?" tanya Kevin dalam mimpinya langsung memeluk laki laki yang ada di depannya dan menitihkan air mata.


"Ayah harus pergi. Kamu jangan pernah benci ibu kandungmu, bagaimanapun dia yang telah melahirkan kamu ke dunia ini." ucap laki laki itu lalu melepaskan pelukannya.


"Tapi kan. Dia orang yang telah meninggalkan aku." jawab Kevin.


"Pesan Ayah kamu jangan terlalu membenci ibumu." ucap laki laki itu menepuk pundak Kevin lalu menghilang begitu saja.


"Ayah?,..Ayah?,..Ayah?" ucap Kevin terbangun dari tidurnya dengan nafas yang terengah engah.


"Kenapa tiba tiba aku mimpi seperti itu?" ucap Kevin lalu mengambil benda pipih hitam yang ada kasur sebelahnya.


~>> [[ Hallo boss? ada apa tiba-tiba nelfon. Ini masih terlalu pagi kali, ayam jago aja belum pada bangun.]] ucap orang disebrang sana karena Kevin bangun masih jam empat pagi.


~>> [[ Saya ada tugas buat kamu.]] ucap Kevin.


~>> [[ Oke boss? tugas apa?]] tanya Alfian ia kemudian menyimak baik baik di saat Kevin menceritakan kepadanya.


Sementara disebelah kamar Kevin perempuan itu mulai terbangun dan melihat sekelilingnya.


"*I*ni dimana ya? sepertinya bukan dirumah sakit tempat ini seperti rumah. Aahh! jangan jangan aku diculik lagi." ucap perempuan itu dalam hatinya.


Tiba tiba suara pintu terdengar ia terkejut dan was was karena ia belum bisa menggerakkan badannya.


"Siapa itu? aku harus pura pura tertidur biar dia nggak macam macam sama aku. Aduh! gimana nih! jantung aku bergerak sangat cepat." ucap perempuan itu didalam hati dan memegang dadanya dengan kedua tangannya lalu mengembalikan posisi tangannya kembali.


"Dia belum juga bangun. Lama sekali efek obat tidurnya." ucap Kevin duduk di sofa yang ada disebelah kasur.


Kevin kembali tertidur di sofa karena ia masih ngantuk.


"Kenapa dia tidur disitu sih?" ucap perempuan itu lirih melirik kearah sofa.


"Jadi laki laki itu yang bawa aku kesini? kenapa harus dia? kutup utara dingin, jadi orang gak ada senyum senyumnya sama sekali." ucap perempuan itu menggerutu dan terdengar oleh Kevin.


"Kamu ngomong apa?" ucap Kevin dengan mata masih terpejam.


"Dia sudah bangun rupanya." ucap perempuan itu takut.


"Jika kamu berani bicara aneh aneh tentang ku. Saya tidak segan segan tinggalin kamu di jalanan ngerti." ancam Kevin membuka matanya lalu pergi meninggalkannya.


"I-iya ngerti." jawab perempuan itu gemetaran juga gugup.


"*K*enapa sih! harus ketemu sama dia. Udah dingin, judes, ngeselin lagi, kalau aja aku nggak sakit pasti akan langsung pergi dari sini dan kenapa aku selalu dipertemukan sama orang yang selalu membuatku menderita, aku bahkan memiliki keluarga tiri, mereka selalu saja menyiksa raga dan batinku orang tuaku, mereka meninggalkan aku untuk selamanya, dan aku harus bekerja dirumah aku sendiri mereka merebut semuanya." ucap perempuan dalam hati dengan tangisnya.


"Apa aku tidak berhak bahagia?" ucap perempuan itu disela sela tangisnya.


"Tenang Hana. Suatu hari nanti akan datang apa itu kebahagiaan." ucap Hana menangkan diri sendiri lalu mengusap air matanya dengan kedua tangannya.


Beberapa jam kemudian dokter datang memeriksa keadaannya.


"Selamat pagi Nona." ucap dokter kepada Hana lalu tersenyum kepadanya.


"Pagi dok?" balas Hana dengan senyuman.


"Permisi ya? saya mau periksa kamu dulu." ucap dokter sopan memeriksa nya.


"Silahkan." ucap Hana singkat.


"Keadaan kamu sudah mulai membaik. Hanya saja jangan terlalu stress untuk masa pemulihan kamu." ucap dokter dijawab anggukan dari Hana.


"Dokter?" panggil Hana menahan tangan nya.


"Boleh saya tau siapa nama dokter?" ucap Hana tersenyum.


"Kenapa? kamu suka sama saya." jawab dokter menggoda Hana.


"Ehh! enggak dok? saya cuma mau tau aja nama dokter siapa? biar lebih akrab, kita akan sering bertemu, lucu jika nggak tau nama satu sama lain." ucap Hana memaksakan tersenyum karena grogi.


"Benar juga. Perkenalkan nama saya Kwak Hyun? dokter paling tampan di dunia ini." ucap dokter mengulurkan tangannya.


"Nama saya Hana Seo Yeon?" ucap Hana membalas uluran tangannya.





Bersambung...