Seleb Intertainment

Seleb Intertainment
19.Ngambek



"Hana. Kamu lihat wajah Kevin." ucap Alfian yang masih sambil menahan tawanya.


"Ada apa di wajahnya dia. Aku tidak melihat ataupun tadi." ucap Hana tak mengerti mengangkat kedua bahunya acuh dengan muka polos nya.


"What. Kamu ini polos apa pura pura lugu." ucap Alfian heran.


Hee...Hee... "Memang Aku nggak tau kak." ucap Hana jujur dengan tawa dipaksakan.


"Maksudnya itu wajah Kevin. Dia lucu sekali kalau lagi kesal." ucap Alfian menjelaskan menggelengkan kepala pelan.


"Owalah. Itu, sering sering kak, kita kerjain dia." ucap Hana tertawa.


"Dari dulu. Boss itu suka." ucap Alfian lalu terdiam ketika melihat Kevin jalan ke arah nya, sedangkan masih saja tertawa tanpa menyadari kedatangan Kevin.


"Suka apa?" seru Kevin datar dengan tatapan tajamnya, seketika Alfian terdiam dan Hana menghentikan tertawanya dengan menutup mulutnya.


"Bukan apa apa boss." ucap Alfian gelagapan tidak berani menatap Kevin.


"Kenapa diam. Silahkan dilanjutkan, saya ingin mendengarnya." ucap Kevin menajamkan mata nya kearah Kevin dan Hana.


Namun diantara mereka tidak ada yang berani melihat Kevin hanya saling pandang.


"Lanjutkan menertawakan kamu." dengan polosnya Hana mengatakan itu.


"Kamu berani menantang saya." ujar Kevin tatapannya tak lepas dari wanita di sampingnya.


"Siapa takut. Kamu jual aku beli." ucap Hana malah semakin membuat Kevin emosi.


Kevin mendekat merangkul pinggang Hana mesra, ia sengaja memajukan wajahnya semakin dekat, sehingga jarak di antara mereka cuma satu centi.


Banyak di antara pengunjung di sana merasa iri ada pula yang tak suka.


"Kevin. Menjauhlah dariku, ini tempat umum kamu jangan coba macam macam." ucap Hana ia tak bisa berbuat apa apa, walaupun sudah berusaha melepaskan diri.


"Kak Alfian. Kamu mau kemana? tolong aku." pinta Hana tanpa suara.


Alfian malah pergi ia tak ingin menanggung malu karena ulah mereka.


"Itu bukannya. Kevin Sanjaya Pratama." bisik bisik dari salah satu pengunjung.


Hana menyusutkan tubuhnya ke bawah, segera kabur dari sana ia sampai menutup wajahnya agar tidak terlihat banyak orang.


Di belakangnya Kevin menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya melihat tingkah calon istrinya hampir saja dia menabrak orang di depannya karena berlari tak tentu arah.


Kevin merogoh sakunya menghubungi asistennya datang menghampirinya.


~>> Kevin [[ Al. Saya tunggu dalam waktu satu menit, jika tidak kamu tau sendiri akibatnya]] ucap nya segera mematikan panggilan nya.


Buru buru Alfian kembali menghampiri bossnya yang yang baginya sangat aneh.


"Kevin. Keterlaluan sekali, dalam satu menit kamu menyuruhku datang." seru Alfian kesal nafasnya terdengar ngos ngosan karena berlari.


Kevin memberikan Black Card ke asistennya lalu pergi begitu saja, pandangannya mengarah ke meja berisi makanan.


Alfian berjalan menuju kasir lalu membayar semua yang sudah dipesan dan menyuruh mereka untuk membagikannya.


"Kamu tolong bungkus. Makanan yang belum di makan." perintah Alfian ramah kepada pelayan tersebut segera membayar nya.


"Baik Tuan." jawab salah satu pelayan ramah.


"Ini bonus buat kamu. Tolong di bagikan ke orang yang lebih membutuhkan." ucap Alfian memberi uang ke salah satu pelayan.


"Tuan. Apa ini tidak terlalu banyak." ucap pelayan tersebut menolak.


"Udah terima saja. Kamu bisa bagikan uang ini ke teman kamu." ucap Alfian menarik tangan pelayan tersebut lalu memberikan uang cukup banyak.


"Terima kasih. Tuan baik sekali." ucap pelayan tersebut tersenyum menunduk hormat.


"Sama sama." jawab Alfian membalas senyumnya kemudian pergi.


"Sudah ganteng. Ramah lagi." puji pelayan tersebut tersenyum melihat ke belakang punggung Alfian yang sudah tak terlihat.


Di parkiran Restoran


"Lama banget sih!" ucap Kevin datar lalu masuk ke dalam mobilnya.


"Ya ampun boss. Dia pikir foto copy apa? tinggal ditempel langsung jadi." gerutu Alfian kesal menyusul ke dalam mobil karena Hana terlebih dahulu sudah masuk sedangkan Kevin menunggu Alfian datang.


"Siap." jawab Alfian mengacungkan jempol.


"Waah! Serius kita mau kesana." ucap Hana antusias lalu memegang tangan Kevin tanpa ia sadari.


"Hmm!" ucap Kevin melirik ke arah tangan nya.


"Aaah! Maaf aku terlalu bersemangat." ucap Hana melepaskan peganganya dari tangan Kevin.


"Dia baik juga. Walaupun tidak harus memperlihatkan kebaikannya ke orang lain." ucap Hana dalam hatinya memandang wajah Kevin lalu tersenyum.


Kevin membalas tatapan nya, Hana langsung memalingkan mukanya ke jendela.


"Saya tau dari tadi kamu diam diam memandang wajahku yang tampan. Janggan lama lama nanti suka lagi, atau mungkin cinta." ucap Kevin melirik Hana.


"E-enggak. A-aku cuma lihat itu, pemandangan di sana." ucap Hana menoleh ke arah menunjuk dengan dagunya kearah kaca jendela dekat Kevin.


"Masa. Kamu suka kan sama aku." goda Kevin sengaja mendekatkan badanya ke Hana.


Chitttttttttt...


Bunyi suara mobil tiba tiba berhenti sehingga tidak sengaja Kevin mencium tepat di bibir Hana sejenak nafas kedua nya berhenti sejenak dan detak jantung mereka berdetak semakin cepat.


"Kalian tidak apa apa?" tanya Alfian menoleh kebelakang terkejut melihat Kevin memeluk Hana dan menciumnya.


Cukup beberapa menit posisi Hana dan Kevin masih sama Alfian melihat nya tertawa hatinya.


"Kevin. Hana?" panggil Alfian mengagetkan mereka seketika Hana tersadar dan mendorong tubuh Kevin agar menjauh darinya.


"Bisa menyetir nggak sih!" teriak Kevin kesal.


"Maaf boss. Tadi ada kucing lewat." ucap Alfian dengan senyum dipaksakan.


"Kamu itu. Terlalu banyak alasan." ucap Kevin ketus tak percaya.


"Ya ampun boss. Saya tidak bohong." ucap Alfian mengangkat jari tengah dan jari telunjuk.


"Hana percaya sama kak Al?" ucap Hana lalu melirik kearah Kevin.


"Jalan sekarang. Tapi ingat jangan sampai kejadian seperti tadi terulang lagi." perintah Kevin tak ingin membahas masalah yang baru saja terjadi.


"Baik boss." jawab Alfian mengangguk.


"*K*enapa jantung aku masih berdetak kencang?, apa yang sebenarnya terjadi kepadaku." batin Kevin memegang dadanya dengan satu tangannya.


"Kedua kalinya dia. Dasar mesum." umpat Hana dalam hatinya melirik Kevin dengan tatapan sinis.


"Dia kenapa? menatapku seperti itu. Apa dia marah lagi, ribet banget jadi cewek, kebanyakan ngambek." batin Kevin balik melirik Hana.


"Kalian capek apa bertengkar terus. Yang lihat aja udah pusing, kalau saja Tuan Fadly nyonya tau pasti syok melihat kelakuan mereka." batin Alfian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Setelah tiga puluh menit kemudian mereka sampai ke tempat yang dituju.


"Apa sekarang kita sudah sampai?" tanya Hana melihat lihat sekitar nya.


"Iya Hana." jawab Alfian.


Hana segera membuka pintu mobil dan keluar dengan sangat gembira.


"Wanita itu selalu saja terburu-buru." ucap Kevin segera menyusul Hana dan mencekal tangan Hana.


"Mau apa?" tanya Kevin kepada Hana.


"Ya masuk lah!" jawab Hana enteng.


"Kamu tidak bisa ke dalam tanpa aku." ucap Kevin berjalan mendahului Hana.


"Sok! berkuasa." gerutu Hana menghetakkan satu kakinya.





Bersambung...