
Drettt Drettt Drettt...
Hari sudah menjelang malam akan tetapi Kevin belum juga bangun, ponselnya terus berbunyi, hal itu tak membangunkan nya.
"Tuan Lee." Panggil Hyun saat ia bertemu mereka tak sengaja bertemu.
"Hyun. Sedang apa kau disini? siapa yang sakit? tuan sombong itu." ujar Lee menoleh ia mengamati dari ujung kepala hingga kaki.
Kwak Hyun melihat dirinya sendiri ia merasa tidak ada yang aneh.
"Saya bekerja di perusahaan ini. Lebih tepatnya asisten pribadi Kevin." ucap Hyun merapikan setelan jas nya.
"Bagaimana mungkin? yang ku tau kau seorang dokter. Kau pasti bercanda ya!" Lee sangat tidak percaya pandangannya masih sama.
"Hampir semua orang mengira saya berbohong. Padahal saya benar benar sekarang bekerja di perusahaan Kevin." ucap Hyun tersenyum tipis.
"Kalau kau asisten Kevin. Kau tau dimana dia sekarang? tadi saya ke rumahnya, disana tidak ada batang hidungnya." tanya Lee.
"Tuan Kevin ada di ruangan nya. Beliau sedang kurang enak badan." jawab Hyun.
"Antarkan saya ke ruangannya." pinta Lee ia bingung celingukan.
"Baik. Tuan." ucap Hyun menunduk.
Di saat Kevin keluar ia tak sengaja menabrak tubuh Lee.
"Aduh! siapa sih! berdiri di depan pintu." pekik Kevin kepalanya terbentak pintu.
"Hey! kau mau kemana?" seru Kevin, Lee menyelonong masuk tanpa izin.
"Sudah lama aku tidak ke ruangan ini. Ternyata masih sama seperti yang dulu." ujar Lee duduk bersilang kaki di sofa.
Kevin masih enggan masuk ia sebenarnya ingin segera pulang akan tetapi ada ada saja kendalanya.
"Biar ku beritahu padamu. Kondisimu sekarang kan berbeda dengan dahulu, jadi belajarlah menahan emosi, takutnya mati mendadak, kasihan Hana dia akan sangat kehilangan nantinya." ujar Lee.
"Jaga bicaramu. Kau menyumpahiku tiada, hah!" Kevin berjalan masuk mencengkram kerah leher Lee.
Kwak Hyun sedari tadi diam ia berusaha melerai keduanya.
"Tuan. Tenanglah, kondisi tubuhmu sekarang sedang kurang baik, anggap saja ini ujianmu agar kamu bisa melatih kesabaran." ucap Hyun mendorong Kevin pelan menjauh dari Lee.
"Hyun. Ayo!" ajak Kevin mengarahkan untuk segera pergi.
"Oke. Tuan Lee, saya permisi dulu." ucap Hyun beralih keduanya.
"Aku benar benar ingin berbicara denganmu. Kenapa kau pergi." seru Lee berjalan beriringan mendahului langkah Kevin.
"Kau tau ini jam berapa? sebentar lagi malam. Hana pasti cemas aku tidak pulang pulang." ujar Kevin memperlihatkan ke Lee.
Langkah Kevin terhenti ketika Lee sengaja menghalangi jalan di depan lift.
"Apa maumu? kau ingin berbicara denganku atau mencari masalah." ujar Kevin sedikit tersulut emosi.
"Dua duanya. Ayo!" ajak Lee menarik tangan Kevin masuk ke dalam lift meninggalkan Hyun.
"T-tuan. Astaga, bagaimana ini? aku bilang ke Hana tidak." gumam Hyun mondar mandir disana sembari menunggu lift kembali terbuka.
*****
"Lepaskan. Silahkan bicara, tapi waktuku tidak banyak." ucap Kevin memalingkan muka.
"Bukan disini. Kau lihat itu." ucap Lee menunjuk ke CCTV yang terpasang di dalam sana.
"Sudah ku." ucap Kevin.
"Aku sudah meminta izin ke istrimu. Kalau mau mengajak suaminya dinner bareng denganku." ucap Lee memotong ucapan Kevin.
"Hey! apa yang kau lakukan? menjauhlah dariku." gertak Kevin mendorong tubuh Lee menjauh darinya.
"Aduh! santai kali bro! kau takut sekali padaku. Padahal aku ini tampan." ujar Lee bergegas bangun saat ia di jatuhkan.
Wajah Kevin terlihat sangat geli ia menunggu lift nya berhenti, rasanya lama.
"Kau mendengarku tidak. Jauh jauh sana, satu meter dariku, lama lama bersamamu aku bisa gila." kali ini Kevin berteriak.
tringg....
Pintu lift terbuka, di luar sana terdapat para karyawan yang melihatnya marah, ada pula diantaranya sedikit takut karenanya.
"Selamat sore. Tuan?" sapa salah satunya tersenyum.
Kevin membalasnya dengan menundukkan badannya tanpa ada senyuman di wajahnya.
"Hallo? ladies." sapa Lee meraih tangan salah satu karyawan kantor, kemudian mengecup tangannya, hingga meninggalkan suara.
Kevin kembali lagi ia menarik kerah belakang kemejanya Lee paksa, ia dibuat malu dua kali.
"Alangkah baiknya kalian pulang. Jika semua pekerjaan sudah selesai." titah Kevin.
"B-baik. Tuan, kami permisi." ucap karyawan wanita itu tersenyum diam diam melihat wajah Kevin.
Kevin kembali membalikkan badan. "Bukankah pintu keluar ada di sebelah sana." tunjuknya.
"Aah! iya. Bagaimana jika kita pulang bareng?" ajak karyawan wanita itu dengan senyuman.
"Tidak bisa." tolak Kevin tanpa basa basi apapun ia berlalu pergi.
Wanita itu terlihat kesal karena gagal mengajak CEO baru itu. "Dasar sombong. Tapi saya tidak akan menyerah untuk mengejar cintanya." umpatnya menyeringai.
"Semoga berhasil. Kita akan selalu mendukungmu." ucap salah satu sahabatnya.
*****
"Lihatlah ke depan. Fokus menyetir." ujar Kevin ia tak suka Lee menatapnya mengintimidasi.
"Nampaknya wanita tadi menyukaimu. Kau harus berhati hati dengannya, cinta itu buta." ujar Lee memperingatkan.
"Ooh!" Kevin hanya berucap satu kata.
"What? aku bicara panjang lebar. Kamu cuma, ooh! apa tidak ada kata lain." ucap Lee kesal ia menghentikan mobilnya di tepi jalan.
"Lalu aku harus bilang apa? wow begitu. Bagiku wanita tercantik di dunia ini cuma ada satu, istriku." ucap Kevin.
"Aku masih penasaran. Bagaimana pertemuan kau dengan Caitlin? apa kau benar benar mencintainya?" tanya Kevin.
"Tentu. Kita berdua mencoba untuk menjalin hubungan pernikahan." jawab Lee terdengar tak masuk akal.
"Hanya itu saja. Tidak ada alasan lain, pernikahanmu itu terdengar tidak masuk akal, setiap kali kau bertemu dengan Caitlin selalu bertengkar." ujar Kevin.
Lee menggelengkan kepalanya. "Kau masih tidak percaya. Kita memang saling mencintai." jelasnya.
"Aku yakin dia sedang menyembunyikan sesuatu. Tapi apa? kenapa aku jadi memikirkannya, jelas jelas itu bukan urusanku." batin Kevin.
Di Cafe...
Mereka berdua di buat terkejut oleh kehadiran seseorang yang sangat ia kenal.
"Gino. Apa yang kau lakukan disini? bukankah seharusnya kau." ujar Kevin terkejut.
"Di penjara. Tentu saja saya sudah bebas, Tuan Kevin." ucap Gino tersenyum senang melihat kehadiran mereka.
BERSAMBUNG