
Mereka semua duduk di kursi bersantai bersama sambil melihat bintang juga bulan karena masih kebetulan suasana langit sangat cerah tidak mendung.
Ini momen yang pas untuk mereka menikmati indahnya malam walaupun masih bulan sabit karena masih tanggal muda.
"BABY. Kamu lihat deh bintang bewarna biru itu. Bintang yang paling terang diantara yang lainnya." ucap Kevin menunjuk ke arah langit.
"Oh itu. Cantik banget, apa kamu bisa ambilkan satu untukku?" tanya Hana mendongak ke atas karena ia berada di pangkuan suaminya dengan kaki selonjor.
"Aku kan sudah memberikannya untukmu, dan kamu sudah mendapatkannya." jawab Kevin membuat Hana tak mengerti.
"Maksudmu. Aku nggak ngerti, kapan aku mendapatkannya?" tanya Hana lagi.
"Bintang yang ada di hatiku BABY? masa kamu nggak ngerti juga. Dan kamu juga memberikan bintang hatimu untukku." jawab Kevin tersenyum ia mencubit pipi Hana gemas seperti anak kecil saja.
"Ooh! sakit tau. Kamu pikir aku anak kecil apa? suka banget cubit pipiku." ucap Hana menyingkirkan kedua tangan Kevin.
"Karena kamu terlalu menggemaskan. Dan pipimu ini sangat cabi, semua orang yang melihatnya pasti ingin mencubitnya." ucap Kevin kembali mencubit pipi Hana kembali membuat pemiliknya kesal karena ulah suaminya.
Hana beranjak turun dari kursi ayun yang di tumpangi mereka ia sangat kesal dengan Kevin yang selalu usil terhadapnya.
"Mau kemana kamu. Disini aja, temani aku, tunggu sampai jam dua belas malam, kamu mau kita melakukannya disini, di depan Mama, Papa, hmm?" bisik Kevin memeluk Hana dari belakang.
Tangan yang satunya meraba ke dalam baju yang dikenakan Hana yang hanya memakai piyama longgar jadi Kevin gampang menyelusup kedalam nya.
Hana hanya berdiri tegang ia sampai tak berani bergerak sama sekali seperti patung yang berdiri tegak.
"My Prince. Jangan macam macam deh! aku cuma mau ke toilet sebentar, cepat lepaskan." pinta Hana menekankan suaranya agar tak terdengar oleh Fadly dan Sinta yang tak jauh dari mereka.
"Ohh! kamu benar benar menginginkannya. Oke, aku akan melakukannya." ucap Kevin tangannya semakin menjadi membuat Hana yang awalnya berbohong ia harus mengikuti ucapan Kevin.
"Baiklah. Terserah kamu saja." ucap Hana kesal.
Kevin mengajak Hana kembali ke kursi ayunan sementara Fadly dan Sinta tak menyadari kalau Kevin dan Hana meninggalkan kursi karena mereka sibuk dengan urusannya masing masing.
"Hei. Wajahmu jangan ditekuk begitu dong! Cantiknya hilang nanti." ucap Kevin menempelkan kedua tangan Kevin ke wajah Hana dengan muka gemasnya.
"My Prince?" ucap Hana beralih menyenderkan kepalanya ke bahu Kevin.
"Ada apa? apa ada yang ingin kamu tanyakan?" tanya Kevin merangkul bahu Hana.
"Ada. Nanti kalau kita punya anak, kamu maunya laki laki atau perempuan." ucap Hana.
"Hmm. laki laki." ucap Kevin.
"Aku maunya perempuan. Biar bisa diajak masak bareng, mengucir rambutnya, pasti wajahnya imut imut seperti aku." ucap Hana tersenyum.
"Bagaimana kalau keduanya?" tanya Kevin.
Hana menatap suaminya bingung ia tak mengerti ucapan Kevin.
"Maksudmu keduanya apa? anak kembar begitu. Apa keluarga kita ada keturunannya, perasaan enggak, apa kamu punya saudara kembar?" ucap Hana malah bertanya.
"Iya juga sih! nggak ada. Siapa tau bisa, menghasilkan keturunan baru, iya kan." ucap Kevin dengan mata genitnya kemudian memeluk Hana dengan eratnya.
Kevin dan Hana sampai tak menyadari orang tuanya melewatinya karena mereka terlau asyik berduaan jadi nggak melihatnya.
"Pah? kita langsung masuk aja yuk! sudah ngantuk nih! dingin juga." ucap Sinta pada suaminya.
"Bagaimana dengan mereka. Kita tinggal begitu." tanya Fadly.
"Sudah. Biarkan saja, jangan ganggu mereka, ayo?" ajak Sinta merangkul lengan suaminya masuk ke dalam rumah meninggalkan Hana dan Kevin berdua.
Kevin dan Hana tak menyadari kalau mereka ditinggal berdua saja karena tujuannya untuk menemani orang tuanya tapi malah ditinggal sampai lebih dari jam dua belas malam.
"My Prince. Kamu mau kita punya berapa anak?" tanya Hana ia menjadikan dada Kevin sebagai sandaran.
"Hmm. Kalau bisa sih! sebelas anak, kira kira bisa tidak kita mengurusnya." jawab Kevin.
Hana sampai terkejut dengan jawaban Kevin baginya sangat tidaklah mungkin.
Kalaupun bisa ia sendiri tidak membayangkan melahirkan satu anak saja sudah membuat ia merasa takut apalagi kalau punya anak sebanyak itu.
"Yang benar aja. Kamu pikir mudah melahirkan anak, butuh perjuangan tau, antara hidup dan mati." ucap Hana.
"Haa...Haa...Haa. Bercanda kali, serius banget, ya! setidaknya dua atau tiga anak cukup, eehh enggak, hmm, empat anak kali yah! biar rumah kita nanti semakin ramai." ucap Kevin membuat Hana semakin pusing saja.
"Iya terserah yang diatas saja. Kita mau dikasih anak berapapun, tetap harus di syukuri kan." ucap Hana.
"Oh iya. Mama sama Papa kemana? kok nggak ada, kamu lihat mereka ada dimana?" tanya Kevin celingukan.
"Nggak. Mungkin mereka sudah masuk ke dalam, kita masuk yuk! disini dingin banget, tidak baik angin malam, mendung juga, bagaimana kalau tiba tiba hujan, apalagi kalo ada." jawab Hana menggantung karena Kevin sudah mengajaknya masuk.
"Ayo kita masuk. BABY, cepat." ajak Kevin buru buru masuk.
Hana sampai ditinggalkan karena terlalu takut dengan hujan apalagi kalau ada kilat atau semacamnya.
"My Prince. Kenapa aku ditinggal sendiri, ishhh! nyebelin banget jadi suami." gerutu Hana kesal tapi tiba tiba Kevin kembali lagi menarik tangannya.
Sesampainya di kamar mereka Hana langsung menghempaskan tubuhnya kasar ke kasur yang empuk karena badannya sangatlah lelah sedangkan Kevin ke kamar mandi dulu sebelum tidur.
"Akhirnya bisa istirahat juga. Ngantuk banget, badanku pegal semua." ucap Hana menarik selimutnya ia menutupi seluruh tubuhnya.
Baru lima menit Kevin meninggalkan Hana ke kamar mandi ia sudah melihat istrinya tertidur pulas.
"Kebiasan. Kalo lagi capek, baru nempel bantal sudah tidur aja." ucap Kevin berbaring di sebelah Hana memeluknya seperti bantal guling.
•
•
•
♡♡♡BERSAMBUNG♡♡♡