
Sinar matahari tersorot mengarah ke wajah Hana ia beberapa kali menutupi dengan selimut, akan tetapi kembali terbuka.
"Bisa diam nggak sih! ganggu orang lagi tidur aja." Hana mengerjabkan kedua matanya silau.
"Tuan putri. Kamu tidak berniat untuk bangun, sebagai perempuan seharusnya bangun sebelum matahari terbit." ujar seseorang Hana masih enggan membuka matanya.
"Memangnya ini jam berapa? hari ini aku ada meeting, bisa terlambat, kenapa kamu baru membangunkanku?" tanya Hana tanpa menatap lelaki di sampingnya.
"Sepuluh." jawabnya, membuat Hana terburu buru ke kamar mandi, lima menit kemudian ia keluar.
"My Prince. Kamu membohongiku." ujar Hana melihat ke arah jam dinding ternyata waktu menunjukan pukul enam tiga puluh.
"Sepertinya jam tanganku mati. Aku tunggu di meja makan, mama sama papa juga ada disana." gumam Kevin pergi begitu saja.
Hana menghentakaan kakinya kesal ia mengusap dadanya pelan, setelah itu menyusul suami nya.
Di meja makan....
"Good Morning sayang." sapa Sinta ketika menantunya datang.
"Morning Mah? Pah?" ucap Hana melirik suami tapi dia pura pura tak bermain ponselnya.
"Nyebelin. Apa dengan cara seperti itu dia membangunkanku, jadi lupa tadi mimpi apa? nyawaku saja belum berkumpul, bisa bisa jantungku berhenti mendadak." batin Hana, tatapannya masih sama ke suaminya.
"Dia tidak mau menarik kursinya atau apa gitu. Sebagai permintaan maaf." batin Hana lagi dirinya masih teramat kesal.
Kevin menarikan kursinya, bukan untuk istrinya melainkan dirinya yang berpindah tempat, sedangkan Hana memilih duduk di dekat Fadly, papa mertuanya.
"Kalian tidak sedang bertengkar kan." seru Fadly menatap keduanya.
"Tidak." jawab anak dan menantunya kompak.
"Syukurlah kalau begitu." ujar Fadly saling melempar senyum ke Sinta.
"Lho? sayang. Tangan kanan kamu kenapa?" tanya Sinta baru menyadarinya.
Terlihat telapak tangan Hana bengkak hingga membiru ia sendiri juga kaget.
Agrhhh.... "Jangan di pegang. Sakit." pekik Hana menekankan kata katanya.
"Aku ambil jaket dulu sebenar." ujar Kevin.
"M-mau kemana?." Hana kebingunan di saat suaminya mengajaknya pergi.
"Kita ke rumah sakit sekarang." ajak nya.
Di dalam mobil...
"My Prince. Pelan pelan, kita bisa celaka kalau cara menyetirmu seperti ini." teriak Hana ia merasa ada yang aneh dengan suaminya.
"Kevin. Awas di depan ada mobil." teriak Hana lagi, nyaris saja, untungnya Kevin berhasil menghindar.
"Stop. Berhenti atau aku akan lompat sekarang." pinta Hana membuka knop pintu mobilnya.
"You're crazy. Okey!" ujar Kevin ia meminggirkan mobilnya.
"Ada apa denganmu? sejak kemarin sikap mu itu aneh. Kamu bahkan mempermalukan istrimu di depan Caitlin, lihat apa hasilnya." ujar Hana memperlihatkan luka di telapak tangan nya ke Kevin.
"Bisa jelaskan apa itu?" ujar Kevin memberikan hasil medical check up Hana.
"Darimana kamu mendapatkan ini?" tanya Hana ragu ragu.
"Kamu tinggal jelaskan semuanya. Bukan malah berbalik bertanya." gertak nya Kevin memegangi dada kirinya yang tiba tiba sakit.
"My Prince."
Kevin menolak di bantu oleh istrinya ia mengangkat satu tangannya.
*****
Di Taman...
"My Prince. Aku ijinkan kamu, menikah lagi, selama itu membuatmu bahagia dan mempunyai anak banyak seperti yang kamu inginkan selama ini." lanjutnya memalingkan muka.
"You are sure." ujar Kevin baru mau berbicara, sedari tadi ia hanya terdiam tanpa ekpresi apapun darinya.
Hana menatap suaminya menyelidik. "Boleh saja kamu menikah lagi. Tapi tinggalkan aku sekarang juga dan kita jangan bertemu lagi." tegasnya.
"Sepertinya kamu punya stok air mata." ucap Kevin mengusap air mata yang terus menerus mengalir di wajah Istrinya.
"Nggak lucu." ujar Hana tersenyum kaku melanjutkan tangisnya.
"BABY. Kamu pikir suamimu ini laki laki macam apa? justru aku minta maaf. Karena waktu itu tidak bisa mendampingimu." ucap Kevin ia ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Hana.
Hiks...Hiks...Hiks...
"Sudahlah. Thank you, demi buah hati kita, kamu rela bertaruh nyawa." ucap Kevin memeluk istrinya.
"Andaikan rahimku masih ada." ucap Hana terhenti jari suaminya berada di bibir mungilnya.
"Kamu pernah mendengar istilah. Dua anak cukup, sudahlah jangan menangis lagi, hapuslah air matamu." ujar Kevin sembari bernyanyi membuat Hana tertawa geli.
"Suaramu jelek." ucap Hana memeluk sang suami.
Sepulangnya dari rumah sakit Kevin mengajak istrinya ke taman, setelah itu baru pulang kerumah.
*****
"Nah! itu Pappy and Mommy." tunjuk Sinta menggendong Yoora.
"Kalian kemana aja. Kasihan Yoora dia dari tadi terus menangis." ujar Fadly.
"Tadi di jalan kita sempat terjebak macet. Jadi harus putar balik cari jalan lain, Ayo Yoora main sama Pappy yuk!, Mommy kamu sedang sakit." ajak Kevin mengambil alih menggendong putrinya.
"Sayang. Bagaimana kejadian nya, kenapa bisa terluka seperti ini? pasti rasanya sakit." ucap Sinta ikut meringis melihat luka menantu nya.
"Aah! Sebenarnya kemarin tanganku sudah membaik. Tapi tadi aku nggak sengaja berbentak pintu kamar mandi, jadi ini hasilnya." ucap Hana menunjukkan mengangkat tangannya.
Kevin menoleh ia kembali menghampiri istrinya khawatir. "Kamu tidak bilang padaku. Aku ini suamimu, seharusnya kamu." ucapnya terhenti, Sinta menyuapi mulutnya roti berukuran lumayan besar, sehingga terlihat penuh di dalam sana.
Haa...Haa...Haa...
"Mah! aku. My Prince, jaga emosimu, nanti kamu cepat tua lho!" ujar Hana menunjuk ke kamarnya.
"Yoora. Perlihatkan senyummu, hmm! cantiknya." ujar Hana mengecup bibir putrinya.
"BABY. Kamu melupakan sesuatu." panggil Kevin menunjuk bibirnya.
Hana menyipitkan matanya melihat tingkah suami, yang kelakuannya sebelas dua belas dengan anaknya. "Dasar bayi. Nggak mau aaah! kamu bisa mencium pipimu sendiri." ujarnya berlalu pergi.
"BABY. Mana mungkin." panggil nya lagi ia sedikit merengek.
Cupp...Cupp...cup....
Kecupan manis mendarat di kedua pipi Kevin dan dahinya.
"Wow. So sweet." ucap Sinta membuka matanya lebar.
"BABY?"
"Apa lagi? No." tanya Hana ketika suaminya memanggilnya lagi.
"Aku lelah. Stop! berhenti memanggilku." Seru Hana kesal.
"Kamu jangan terlalu kepedean. Persiapkan dirimu untuk nanti malam." ujar Kevin terkekeh.
"What? dasar mesum." gerutunya Hana segera masuk mengunci pintu kamarnya.
BERSAMBUNG...