
"Pelan pelan makan nya." ucap Kevin melihat Hana memakan Donat dengan cepat.
"Ini enak. Kamu tidak makan." ucap Hana melanjutkan Donat.
"Hana. Kamu lapar atau bagaimana? aku saja baru makan satu, itupun belum habis." ucap Kevin merasa heran, Hana memakan lima buah Donat.
"Lapar. Kita makan malam diluar ya!" ucap Hana selesai menghabiskan semua Donat nya.
"Kamu rakus banget sih. Aku yang lihat kamu makan aja sudah kenyang, di tambah lagi mau makan malam, ini baru beberapa menit yang lalu." ucap Kevin tak percaya menggelengkan kepalanya.
"Bukanya rakus tapi aku ini pecinta kuliner. Semua makanan yang ada dinegara ini aku jelajahi, kan aku belum makan malam, ini uma cemilan, nggak kenyang." ucap Hana.
"Hah! Apa kamu tidak takut gendut?" ucap Kevin.
"Tidak sama sekali. Aku tipe orang makan banyak, tetapi perutku tetap ramping, setiap hari aku selalu lari pagi mengelilingi sekitar rumahmu yang seperti lapangan." ucap Hana tersenyum.
"Terserah kamu. Pusing aku bicara sama kamu." ucap Kevin menepuk jidatnya kemudian melihat ke arah Hana dahinya memerah.
"Mau kan. Kamu mengajakku makan malam." ucap Hana antusias tersenyum penuh arti.
"Dahimu kenapa memerah. Kamu buat masalah lagi ya! dasar anak kecil." ucap Kevin, membuat Hana menutupi dengan tangannya.
"Tidak apa apa. Ini tidak sakit, tapi aku ini bukan anak kecil." ucap Hana tak terima.
Kevin berdiri dan melangkah keluar dari kamar Hana.
"Apa yang dia lakukan. Bukan nya khawatir malah pergi dasar pria tidak peka." ucap Hana memalingkan muka ke samping tak menyadari kalau Kevin sudah ada disampingnya.
"Siapa pria yang kamu maksud?" tanya seseorang dari samping Hana ia menoleh kaget.
"Kevin. Sejak kapan kamu." ucap Hana menatap nya kaget tanpa berkedip.
"Sejak kamu megataiku tadi" ucap Kevin memotong pembicaraan, duduk membawa mangkuk berisi es batu dan handuk kecil.
"Maaf aku tak sengaja." ucap Hana tak enak hati.
"Tak apa." ucap Kevin menyeret kursi mendekat ke Hana.
"Kamu mau apa?" ucap Hana.
"Menurutmu. Untuk mengompres dahimu, apa kamu berfikir aku akan menciummu." ucap Kevin membuat Hana gugup.
"T-tidak juga." ucap Hana tak berani menatap Kevin.
"Sudah diam. Sini aku kompres." ucap Kevin menyingkirkan rambut Hana yang berantakan diselipkan di telinganya.
"Oke." ucap Hana lagi lagi ia menatap wajah Kevin dekat.
"Kamu boleh menatapku sepuasnya." ucap Kevin melihat Hana hanya menunduk tanpa menatap Kevin yang ada di depannya.
"Biasa aja. Diluar sana masih banyak lelaki yang tampan melebihimu." ucap Hana menatap Kevin kesal.
"Masa. Kamu sendiri suka kan sama aku." ucap Kevin membuat jantung Hana tiba tiba berdebar kencang menatap Kevin tanpa berkedip.
"Haa...Haa...Haa. Aku cuma bercanda, Oh Iya aku lupa, Kamu kan mencintai pacar kamu yang terakhir." ucap Kevin tertawa.
"Sebenarnya aku." ucap Hana terhenti.
"Sudahlah akui saja." ucap Kevin.
"Apa dia tidak memberiku kesempatan untuk mengutarakan isi hatiku kepadanya." ucap Hana dalam hatinya.
"Hey! jangan bengong. Sakit tidak." ucap Kevin mengompres jidat Hana pelan.
"Kan aku sudah bilang tadi. Ini tidak sakit." ucap merapatkan giginya.
Kevin berfikir akan mengerjai Hana dengan mengompres agak menekan keras ke dahi Hana.
"Aduh! pelan pelan. Sakit tau." pekik Hana merasa pusing ketika Kevin menekan memar didahinya.
"Kevin. Iya ini sakit, kalau bukan karena kamu aku tidak akan jatuh dari kasur." ucap Hana tanpa sadar.
"Oooh. Jadi diam diam kamu memikirkanku sampai terjatuh. Haa...Haa.. Haa." ucap Kevin kemudian tertawa.
"Ini mulut pake keceplosan lagi. Aku harus jawab apa? masa aku bilang karena aku menunggu balasan pesan dari dia." ucap Hana frustrasi dalam hatinya.
"Hayoo. Tuh! kan melamun lagi. lama lama kamu bisa kemasukan mahluk tak kasat mata." ucap Kevin membuat Hana tersadar dari lamunannya.
"Sok bilang gitu. Kamu sendiri aja takut sama hantu, Haa...haa...haa." ucap Hana dengan ekspresi menakutkan kemudian tertawa terbahak bahak.
"Aku tidak takut." ucap Kevin mengelak.
"Waktu itu apa? Kamu bahkan memelukku disaat aku menakutimu." ucap Hana.
"Siapa yang takut aku cuma kaget." ucap Kevin mencari alasan.
"Oke. Takut atau kaget." ucap Hana mengejek Kevin.
"Cepat kamu siap siap. Kalau mau ikut denganku." ucap Kevin kemudian pergi.
"Dasar Kutup utara. Nyebelin banget, main pergi pergi aja." ucap Hana kesal menatap punggung Kevin yang sudah keluar dari kamarnya.
"Hana. Saya tunggu sampai jam tujuh malam, jika terlambat aku pergi sendiri." teriak Kevin dari luar kamarnya.
"Iya bawel." ucap Hana berdiri melangkah menutup pintu kamarnya dengan membantingnya keras.
"Lama lama pintu kamarmu rusak. Aku tidak akan memperbaikinya." ucap Kevin dari luar tak ada jawaban dari Hana.
"Bodo amat." ucap Hana lirih tanpa didengar oleh Kevin.
"Mau pake baju apa?" ucap Hana melihat satu per satu pakaian dilemarinya.
"Ini cantik." ucap Hana memakai atasan jin dan rok pendek kotak kotak bermotif kuning dan hitam.
Hana keluar dari kamarnya dan berjalan ke depan kamar Kevin.
"Kevin. Aku sudah siap." teriak Hana dari luar.
"Terkunci. Apa dia ada diruang kerjanya." ucap Hana perlahan memegang knop pintu dan menggerakanya ternyata terkunci.
"Kevin?" panggil Hana menuruni tangga melihat kesana kemari.
"Pasti nona mencari. Tuan Kevin." ucap Bik Yanti diangguki Hana.
"Tuan Kevin ada di ruang musik. Nona di suruh datang kesana." ucap Bik Yanti memberi tau.
"Makasih bik. Tapi ada dimana ruang musiknya?" tanya Hana memang belum tau.
"Nona lurus saja dari sini. Ada di sebelah ruang perawatan." ucap Bik Yanti menunjukan.
"Oke bik. Hana mengerti." ucap Hana berlari agar cepat sampai.
Bik Yanti hanya geleng geleng melihat kelakuan Hana.
"Kevin?" panggil Hana melihat pintunya sedikit terbuka.
"Masuk." jawab Kevin dari dalam.
Hana buru buru masuk melihat ada kursi ia langsung mendudukinya dan tersenyum kearah Kevin.
Kevin melihat Hana terpesona dengan kecantikan nya apalagi senyuman sangat cantik dan imut.
"Bidadari Cantik." gumam Kevin.
^^BERSAMBUNG^^