
Hana malah tersenyum melihat ekpresi wajah kedua lelaki yang ada di depannya sangat terlihat panik.
"Honey. Bukannya kamu tadi ke toilet, kenapa bisa berada di sini?" tanya Lee Tae Yeong.
"BABY. Coba jelaskan sama aku, kamu habis dari mana, sampai berkeringat seperti ini." tanya Kevin ia mengusap dahi Hana dengan sapu tangannya.
"Hmm. Tadi ada urusan sebentar, tapi sekarang sudah selesai, kalian tidak usah khawatir, kita pulang saja yuk! aku capek banget pengen istirahat." ajak Hana ia berjalan terlebih dahulu ke mobil yang ditumpangi mereka.
"Aneh. Hana terlihat seperti habis berkelahi, sebenarnya ada urusan apa?" batin Kevin menatap Hana tanpa berkedip.
Ketika Kevin sibuk dengan pikirannya ia dikagetkan oleh Lee Tae Yeong yang memanggil dan membunyikan klakson keras hingga membuyarkan semuanya karena ia bukannya masuk ke dalam mobil malah berdiri di sebelahnya padahal pintunya sudah terbuka.
"Heeey. Mau masuk tidak, atau aku tinggal kamu disini." ucap Lee Tae Yeong.
"Iya bawel. Berisik banget, memangnya tidak bisa kalau bicaranya biasa saja." gerutu Kevin kesal ia sampai menendang ban mobil sebelum masuk ke dalam mobil.
"Itu mahal. Nanti kalau ban mobil aku sampai rusak, kamu harus ganti rugi." ucap Lee Tae Yeong tanpa menoleh ke belakang.
"My Prince. Apa kamu sedang sakit, kenapa diam saja?" tanya Hana melambaikan tangannya di depan wajah suaminya.
"Kemasukan kali Honey?" seru Lee Tae Yeong ia menancapkan gas nya kencang.
"Sembarangan kalau bicara. Jaga mulutmu, nyetir yang benar, tidak usah mengoceh." ucap Kevin tak terima ia sampai menjitak kepala Lee Tae Yeong.
"Stop! jangan diteruskan, aku pusing mau tidur sebentar." seru Hana.
Kevin terus saja bertanya pada Hana tapi tak ada jawaban darinya ia sampai capek harus berbicara sendiri tanpa ada balasan dari pertanyaan nya.
"Kepalamu pusing kenapa? apa perlu kita kerumah sakit lagi." tanya Kevin menatap wajah Hana dekat ia mencondongkan badannya lebih dekat ke istrinya.
"Hei, kok diam saja. Jawab pertanyaanku, BABY, atau jangan jangan telingamu terganggu, jadi tidak bisa mendengar ucapanku, atau kamu tidak cinta lagi sama aku, tidak sayang lagi sama aku, aku minta maaf, tapi jangan marah dong please?" ucap Kevin panjang kali lebar.
Lee Tae Yeong yang melihatnya ingin rasanya pengen tertawa tapi ia menahannya.
Melihat tingkah lakunya Kevin waktu Hana sedang hamil sangat berbeda dengan sebelumnya yang hanya terlihat dingin didepan orang lain.
Lee Tae Yeong merasa senang tinggal bersama mereka walaupun Kevin selalu saja mengajaknya bertengkar sebenarnya itu hal yang membuatnya bahagia ia jadi merasakan kehangatan di dalam keluarga yang sebenarnya.
"BABY. BABY, BABY, BABY?" panggil Kevin pelan ia mengecup wajah Hana dari dahi, kedua pipinya dan bibir manisnya.
Hana yang diperlakukan seperti itu ia sebenarnya malu karena ia hanya memejamkan matanya saja belum tidur.
"Hei. Cerewet banget, biarkan saja Hana istirahat, dia kelihatan sangat lelah, kamu kan bisa bicara nanti, kalau sudah dirumah." ucap Lee Tae Yeong.
Cuaca yang tadinya cerah berubah menjadi gelap karena akan segera turun hujan membuat Kevin melihatnya sangat takut apalagi kalau ada guntur dan sebagainya ia memilih menundukkan kepalanya ia memeluk Hana erat.
"Sial. Siapa yang menaruh pohon itu ditengah jalan?" gumam Lee Tae Yeong masih terdengar oleh Kevin.
"Kenapa berhenti?" tanya Kevin sedikit panik suasana hujan disertai angin yang berhembus kencang.
Ditambah lagi terdengar suara guntur dengan tiba tiba sampai mengagetkan Hana yang sedang tidur
Begitupun Kevin ia tak kalah kagetnya sampai tubuhnya gemetaran.
"Kamu nggak lihat itu. Terpaksa kita harus putar balik ke jalan lain." jawab Lee Tae Yeong menunjuk tangannya ke arah depan.
"My Prince. Kamu tidak apa apa kan." ucap Hana ia menyangga kedua pipi suaminya.
Seperti biasa wajahnya selalu pucat saat trauma yang ia alami terjadi lagi.
Lee Tae Yeong segera memutar balikkan mobilnya ke arah lain.
"Kak Tae Yeong. Bisa lebih cepat lagi nggak." ucap Hana karena Kevin sudah tak sadarkan diri.
"Iya sabar Honey, ini kan lagi hujan. Harus hati hati bawa mobilnya, bisa bisa kita, sendiri yang celaka, kamu coba kasih apa gitu biar dia sadar." ucap Lee Tae Yeong.
*****
Dirumah Kevin
Lee Tae Yeong mengangkat tubuh Kevin ke dalam kamarnya ia agak kewalahan karena memang tubuhnya lebih berat darinya.
Beda dengan dirinya ia sendiri sangat jarang berolahraga walaupun sebentar ia selalu disibukkan oleh pekerjaan nya.
"Berat banget suamimu. Punggung aku jadi sakit nih!" keluh Lee Tae Yeong setelah menempatkan tubuh Kevin ke aras kasur ia merenggangkan kedua tangannya dan menggerakkan pinggang ke kanan dan kiri.
"Kak Tae Yeong ini kan laki laki. Masa mengangkat Kevin saja tidak kuat, dulu aku juga pernah mengendongnya dipunggunku, kuat kuat aja, yah! walaupun berat." ucap Hana tersenyum melihat ekpresi wajah Lee Tae Yeong sampai berkeringat padahal didalam kamar ada AC.
"Kamu kan berbeda denganku. Aku sama sekali tidak pernah olahraga, sudah pingsan nyusahin orang lagi, huh?" ucap Lee Tae Yeong.
"Nggak boleh begitu kak? ikhlas tidak menolong Kevin, salah sendiri tidak pernah olahraga, lihat badan suamiku, six pack, tinggi, putih, yang paling penting dia sangat tampan." ucap Hana sembari mengompres dahi suaminya.
Lee Tae Yeong menatap dirinya memang badan Kevin jauh lebih bagus darinya pantas saja Hana sangat menyukainya karena itu adalah tipe lelaki idamannya dari dulu.
"Apa karena itu kamu menikah dengannya. Aku juga nggak kalah tampan, di luar sana juga banyak wanita yang tergila gila padaku." ucap Lee Tae Yeong.
"Hmm. Tapi kenapa kak Tae Yeong sampai sekarang masih jomblo. Cari pacar atau menikah gitu." ucap Hana membuat Lee Tae Yeong diam saja ia sendiri sebenarnya belum bisa membuka hatinya untuk wanita lain.
•••BERSAMBUNG••