Seleb Intertainment

Seleb Intertainment
47. Calon Mertua



"Sakit. Rasain tuh! Maka nya jadi orang jangan suka usil." ucap Alfian menyeringai.


"Berani ya kamu. Dasar asisten tidak tau diri." ucap Kevin mau menendang kaki Alfian dengan cepat Alfian menghindar.


"Sorry. Nggak kena." ucap Alfian lalu pergi.


"Kamu mau kemana? jangan kabur kamu." teriak Kevin.


"Kerja. Ohh iya kemarin Tuan Fadly menanyakanmu." ucap Alfian memasuki mobil langsung menancap gas.


"Papa?" gumam Kevin pelan.


"Al? Ishhh. Main pergi saja, asisten nggak tau diri." umpat Kevin kesal mengambil ponselnya untuk menelphone seseorang.


~>> [[ Hallo? Kebetulan kamu menelphone.]] ucap orang disebrang sana.


~>> [[ Ada apa pah?]] tanya Kevin.


~>> [[ Kamu dari kemarin kemana saja. Ibumu menelfonmu terus, kenapa tidak kamu angkat.]] ucap Fadly.


~>> [[ Emmm. A-aku kemarin.]] ucap Kevin memilih tidak melanjutkan ucapannya.


~>> [[ Sekarang juga kamu datang kesini. Ajak Hana juga.]] ucap Fadly lalu menutup teleponnya.


"Pah? Papah. Aaah! kebiasaan banget sih! suka banget matiin telphone." ucap Kevin kesal padahal dirinya sendiri sering melakukan nya.


Dengan cepat Kevin berlari menaiki tangga menghampiri kamar Hana dan kebetulan pintunya tidak terkunci.


"Katanya orang kaya tapi masih pake manual. Rumah sebesar ini lift saja tidak ada, dasar pelit, apa dia tidak lelah." ucap Kevin sudah ada didepan kamar Hana yang sedang berbaring memainkan ponselnya tak menyadari kedatangan Kevin.


"Hana. Kita pergi sekarang." ucap Kevin tapi Hana tidak melihat Kevin ditambah lagi memakai handset dan menghadap ke samping.


"Hana?" panggil Kevin keras Hana tetap asyik mendengarkan musik.


Kevin duduk disebelah Hana dan memegang tangan Hana.


Hana terkejut melihat Kevin kini berada dikamar ditambah lagi memegang tangan nya reflek Hana menghempaskan tangan yang memegangnya pegangan Kevin sangat kuat sehingga Hana ikut ketarik mereka berdua terguling di kasur


Mata bertemu satu sama lain Hana kini berada di bawah sedangkan Kevin mengunci tangan Hana dan menindih tubuh mungil Hana wajah mereka juga hanya ada jarak satu centi saja bibir Kevin hampir saja mencium bibir Hana.


"Apa yang kamu lakukan. Mau berbuat mesum, cepat lepaskan." ucap Hana memberontak tangan yang satunya menyangga ke dada Kevin.


"Kalo iya kenapa? mari kita lakukan sekarang juga." ucap Kevin berniat mengerjai Hana karena masih ingin membalas perlakuanya.


"Maksud kamu apa? Lelaki dan perempuan tidak boleh melakukan itu sebelum menikah." ucap Hana kini merasa takut dan gugup.


Kevin tersenyum melihat kelakuan Hana yang dikirannya mau berbuat macam macam ia berhasil mengerjai Hana.


"Setelah menikah boleh kan." ucap Kevin menaik turunkan alisnya dengan mata menggoda.


"Apa maumu. Aku masih ingin mengejar cita cita, kamu jangan lakukan ini kepadaku." ucap Hana ingin menangis Kevin melihat nya merasa bersalah ia sangat keterlaluan sam Hana.


"Haaa...Haaa...Haaa" tawa Kevin melihat ekpresi wajah Hana yang ingin menangis.


"Anda pikir ini lucu?" ucap Hana kesal.


Kevin melepaskan pelukannya dari Hana dan duduk di Sofa yang ada di dekat kasur menyilangkan kedua kakinya, tangannya menyangga ke dagu tersenyum manis.


"Lucu sekali kamu. Maksudnya kita pergi sekarang, otak kamu dibersihkan dulu, aku bukan lelaki yang seperti itu, juga agama kita melarangnya." ucap Kevin pelan.


"Terus kamu ngapain ke kamar. Memelukku lagi." ucap Hana menangis.


"Hey! aku cuma mengerjaimu saja. Aku nggak tau akan seperti ini, Sorry." ucap Kevin menghampiri Hana dan memeluknya membenamkan kepala dadanya.


"Ku minta kamu jangan lakukan itu lagi. Nggak lucu tau." ucap Hana masih menangis sampai sesegukan.


"Iya. Iya dimaafkan tidak." ucap Kevin mendapat pukulan kecil dari Hana.


"Nggak." ucap Hana jutek.


"Cup, cup, cup. Jangan nangis lagi ya? nanti cantik nya hilang." ucap Kevin membuat Hana tersenyum.


"Aku bukan anak kecil. Dari dulu aku sudah cantik, meskipun menangis aku tetap cantik." ucap Hana cemberut masih mengusap sisa air matanya.


"Uluh uluh. Kamu cantik tapi sombong." ucap Kevin tersenyum lucu.


"Kamu juga. Sudah sombong ngeselin lagi." ucap Hana masih cemberut.


"Wajahmu kalau seperti itu terus jelek tau. Senyum sedikit kenapa?" ucap Kevin.


"Sudah sana pergi. Aku mau ganti baju." usir Hana.


"Oke. Tapi lepaskan dulu tanganmu, aku tidak bisa berdiri kalau kamu terus memelukku, Emang ya! dari dulu wanita kalau di peluk sama laki laki tampan betah, pengen peluk terus rasanya." ucap Kevin sombong.


Hana baru menyadarkan langsung melepaskan tangannya yang memeluk Kevin erat.


"Sombongnya kumat. Udah sana tunggu diluar." usir Hana lagi.


"Baik Tuan putri." ucap Kevin tersenyum dengan badan sedikit membungkuk meletakkan tangan kanan ke dada sedangkan tangan kiri ke belakang.


"Pangeran tampan. Keluar sekarang." ucap Hana dengan senyum tipisnya mendorong tubuh Kevin keluar.


"Tuan putri." gumam Hana pelan tersenyum senang segera berganti baju.


"Hana. Kamu lama banget sih! Ini sudah lima belas menit lho!" ucap Kevin duduk di tangga menyangga kedua tangannya merasa bosan.


"Aku sudah siap." ucap Hana tersenyum menepuk bahu Kevin.


"Ayo?" ajak Kevin langsung menarik tangan Hana.


"Pelan pelan. Susah ini pake heels." ucap Hana membuat Kevin melihatnya dari ujung kaki sampai ke ujung kepala.


"Aku tau aku cantik mempesona. Tapi biasa aja lihatin nya, seperti nggak pernah lihat perempuan cantik, Dasar mata keranjang." ucap Hana melirik Kevin.


"Kepedean banget kamu. Kita mau ke rumah orang tuaku, kenapa harus pake gaun segala." ucap Kevin masih memperhatikan Hana.


Hana memakai gaun putih panjang tanpa lengan, dihiasi bunga bunga kecil bewarna biru dan pink dibagian bawah sehingga terlihat mewah tapi elegan.


Ditambah lagi bagian rambut Hana dibiarkan terurai ke belakang dengan sedikit dikeriting, samping kanan kiri dihiasi cepitan kupu kupu warna biru agar rambut tidak berantakan ke wajah.


"Agar terlihat cantik di depan camer." ucap Hana Kevin mengerutkan kening nya tak mengerti.


"Camer. Apa itu." ucap Kevin bingung.


"Calon Mertua. Gitu aja nggak tau." ucap Hana.





*BERSAMBUNG*