Seleb Intertainment

Seleb Intertainment
104. Dicuekin



"Sudah ahh! malu. Ayo kita keluar, aku mau lihat salju, sekarang ayooo." ucap Hana berdiri ia menarik tangan Kevin.


"Nanti aja. Kamu bilang apa tadi, capek kan mau tidur." ucap Kevin.


"Nggak. Kalau kamu tidak mau menemaniku, biar aku sendiri saja." ucap Hana ia ingin berjalan tapi daerah sensitifnya perih mau marah dengan Kevin tapi disana ada pelayan.


"Ternyata rasanya sakit banget. Kevin sengaja membuatku seperti ini agar aku tidak bisa pergi kemana mana tanpa dia." ucap Hana dalam hatinya ia menatap ke arah Kevin kesal.


"Kenapa? sudah sana. Katanya mau melihat salju." ucap Kevin tersenyum.


Hana diam saja ia tidak mungkin berjalan sendiri kesana seperti orang yang habis melahirkan Hana memilih duduk di sofa dengan wajah ditekuk.


"Aku benar benar tidak bisa kemana mana tanpa Kevin. Tadi aja turun di gendong, menyebalkan sekali." ucap Hana dalam hatinya ia teramat kesal.


"Cantiknya memudar nanti. Kalau wajahmu cemberut begitu, baiklah aku temani kamu kesana, tapi sebentar aja yah!" ucap Kevin membujuk Hana sebenarnya ia sangat lelah tapi demi istri tercintanya.


"My Prince. Gendong." rengek Hana.


Kevin membungkuk menepuk kedua pundaknya Hana langsung menyergap punggung Kevin hingga tercekik lehernya.


"BABY, tanganmu. Jangan terlalu erat, aku susah nafas nih!" ucap Kevin.


"Sorry. Aku nggak sengaja." ucap Hana melonggarkan peganganya.


Hana takjub melihat pemandangan sekitarnya tertutup salju membuatnya menjerit sangat kencang di telinga Kevin.


"Aaaaaaaaaa. Beautiful." teriak Hana kencang orang orang yang mendengar sampai menoleh ke arah Hana dan Kevin.


Kevin menurunkan Hana ia tersenyum ke arah orang orang yang melihatnya dan mengatupkan kedua tangannya sambil membungkukkan badannya tanda ia meminta maaf.


"BABY, jangan berteriak. Kupingku panas, tempat ini bukan milikmu, jaga privasi orang." ucap Kevin mengusap telinganya yang terasa panas akibat teriakan Hana.


"My Prince. Sebenarnya kita ada dimana sih! kenapa banyak pohon pinus disekitar sini?" tanya Hana menunjuk ke arah pepohonan.


"Nanti malam kamu akan tau. Ayo kita masuk." ajak Kevin.


"Memang ada apa dengan malam ini. Aku masih ingin disini, belum juga lima menit, udah mau masuk aja." ucap Hana.


"Kita pergi sekarang. Barang barang kita sudah dipindahkan ke mobil." ajak Kevin menggandeng tangan Hana menuju ke mobil yang akan ditumpanginya.


Hana bingung ia liburannya akan berakhir secepat itu tapi ternyata mereka berhenti tidak jauh dari hotel tempat ia menginap sebelumnya.


"Ayo turun!" ajak Kevin mengulurkan tangannya ke Hana untuk menuruni mobil mereka tiba disebuah Kakslauttanen Arctic Resort.


Sebuah Resort di timur laut Lapland terdapat sekitar dua puluh bangunan Glass Igloo yang unik dan sangat istimewa.


Glass Igloo House sendiri bentuknya seperti kubah yang terbuat dari kaca sehingga dapat melihat secara langsung pemandangan langit dari dalam kamar.


Meskipun diluar dingin tapi didalam tetap hangat karena terbuat dari kaca khusus thermal yang bisa menahan dingin dan suhu di luar ruangan fasilitasnya juga sangat nyaman.


Kamar yang mereka tempati adalah Small Glass Igloo yang menampung dua orang saja.


Hana dibuat takjub dengan kejutan yang Kevin berikan padanya ia rela diculik oleh suaminya sendiri sesering mungkin karena pasti sangat romantis.


Pasalnya Hana pernah bilang kalau tempat yang ingin ia kunjungi adalah melihat Northern Light atau Aurora borealis sebuah cahaya hijau dari utara seperti aurora yang ada di Lapland.


"Kenapa diam saja. ayo turun!" ajak Kevin lagi melihat Hana yang hanya diam saja.


"Kamar kita sebelah ada di sebelah mana?" tanya Hana dijalan menuju kamar mereka.


Karena kamar mereka letaknya di urutan ke sepuluh Kevin harus berjalan melewati sembilan kamar para penghuni lain sembari membawa Hana dalam dekapannya.


"Akhirnya sampai juga." ucap Kevin ia langsung membawa Hana ke kamar mandi.


Kevin membawa pakaian untuk dirinya dan Hana kedalam kamar mandi.


Sedangkan Hana sudah melepas semua kain yang melekat di tubuhnya kaget melihat Kevin masuk dengan santainya.


"Eitss. Apa yang ingin kamu lakukan disini?" tanya membulatkan matanya melihat kedatangan suaminya masuk ke kamar mandi bersamanya.


"Mandi. Ya kali tidur." jawab Kevin santai menutup pintu kamar mandinya ia malah melepaskan semua yang ia kenakan.


Hana berbalik arah membelakangi Kevin yang menatap ke arahnya.


"Kamu jangan macam macam disini. Ini kamar mandi lho! sempit juga." ucap Hana yang menahan tangan Kevin yang nakal.


"Ohh! kamu mau kita melakukannya di kamar transparan itu." ucap Kevin tangannya semakin tidak bisa dikendalikan oleh Hana.


"Bukan begitu." ucap Hana ketika Kevin menyatukan joniornya kembali ke kandangnya membuat Hana ingin menjerit tapi mulutnya dibungkam dengan bibir Kevin.


Kevin hanya melakukannya satu ronde saja


padahal Kevin masih ingin lagi tapi ia menahannya tak tega dengan Hana yang kelelahan akibat ulahnya.


Setelah melakukan pertempuran yang panas Kevin membantu Hana menggosok punggungnya bahkan memakaikan pakaian untuk Hana.


"Aku lapar nih. Kita makan yuk!" keluh Hana membaringkan tubuhnya di kasur.


"Bukannya kita sudah makan tadi. Belum juga satu jam sudah lapar." ucap Kevin.


"Ini karena ulahmu. Capek tau, kamu mau membuat aku senang apa menyiksaku sih!" ucap Hana.


"Maaf BABY. Aku tidak akan membuatmu seperti ini lagi, tapi kita lanjutkan nanti." ucap Kevin berbaring di sebelah Hana.


"Dasar mesum. Apa kamu tidak bisa menahannya." ucap Hana berbalik menatap Kevin.


"Hmm. Anggap saja itu hukuman buat kamu karena sudah berbohong padaku, bisa saja kan kita melakukannya dirumah kita, tapi kamu memilih disini jadi jangan salahkan aku." ucap Kevin tersenyum.


"Terserahmu aja. Pusing aku bicara sama kamu, nggak ada ujungnya." ucap Hana memejamkan kedua matanya ia menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.


"Hei. Jangan ngambek dong! katanya kamu lapar, kok malah tidur." ucap Kevin tak dipedulikan Hana.


"BABY. BABY, BABY?" panggil Kevin tiga kali tapi tak ada jawaban.


"Dicuekin nih. Hufff." ucap Kevin menghembuskan nafasnya kasar.





BERSAMBUNG