Seleb Intertainment

Seleb Intertainment
23. Diner Romantis



Hana menyeret tangan Kevin agar lebih cepat menuju pantai dengan sedikit berlari.


"Hati hati nanti kamu jatuh." ucap Kevin mengikuti kemana Hana melangkah memegang tangannya.


"Iya aku tau. Biar cepat sampai di pantai." ucap Hana tak mendengarkan ucapan Kevin.


Tiba tiba Hana tersandung batu yang ada didepanya karena terlalu focus ke depan.


"Aduh!" pekik Hana kesakitan kakinya sedikit berdarah dan akan jatuh kalau saja Kevin tidak segera menolongnya.


"Hana." teriak Kevin pasang badang segera menangkap tubuhnya, sehingga mereka terjatuh secara bersamaan di atas pasir pantai.


Kini Hana tepat berada di dada bidang Kevin, mereka cukup lama saling pandang satu sama lain, tak ada jarak untuk keduanya.


"Jantungku. Apa yang terjadi denganku." batin Kevin memandangi wajah Hana yang cantik membuat jantung nya berdebar kencang.


"Ini orang kenapa tampan sekali. Apalagi jika dilihat dari dekat, auranya semakin terpancar, seakan jantungku mau lepas, siapapun tolong selamatkan aku dari dia." ucap Hana tanpa mengedipkan mata.


"Ehemm." suara batuk seseorang yang tiba tiba datang mengagetkan mereka dan segera bangun.


"Maaf Tuan. Nona? mengganggu. Saya cuma mau menyampaikan ke Tuan, semuanya sudah siap." ucap pegawai tersebut menundukkan kepalanya.


"Aah. Iya pak, terima kasih, ini ada sedikit tips buat bapak." ucap Kevin mengambil beberapa uang kepada pegawai tersebut.


"Tolong di terima. Setidaknya berikan ini kepada anak dan istrimu." ucap Kevin agak memaksa meraih tangan pegawai tersebut dan memberikan uang kepadanya karena sempat menolaknya.


"Terima kasih tuan. Saya permisi dulu." ucap pegawai tersebut menunduk senang.


"Sama sama." ucap Kevin tersenyum kemudian beralih Hana yang terlihat kesakitan.


"Kaki kamu berdarah." ucap Kevin panik melihat kondisi Hana.


"Cuma sedikit luka goresan. Tidak sakit juga." ucap Hana tersenyum kecut.


"Tidak sakit bagaimana? tunggu sebentar. Jangan pergi kemana mana." ucap Kevin kemudian berlari entah kemana.


"Dia mau apa sih! cuma luka goresan kecil berlebihan." ucap Hana memandangi lukanya.


Setelah beberapa menit kemudian Kevin datang membawa sesuatu ditangan nya.


"Kamu mau apa?" tanya Hana bingung.


"Memakanmu. Ya mengobati kaki kamu." ucap Kevin meluruskan kaki Hana.


"Lain kali kalau jalan itu pakai mata." ucap Kevin sembari mengobati luka Hana dengan antiseptik kemudian menutup nya dengan plester.


"Ya dimana mana. Kalau jalan itu pake kaki, bukan pake mata." bales Hana cemberut.


"Kamu tau orang yang sering cemberut apa akibatnya. Kalo jalan bukan saja kaki yang di gunakan, tapi mata juga." ucap Kevin menekan.


"Apa? cepat tua." ucap Hana memegangi wajahnya menepuk pundak lelaki di hadapannya keras.


"Itu kamu sendiri yang bilang. Bukan saya, kenapa memukulku, apa kita pulang saja." ujar Kevin.


"Pulang. Nggak mau, kamu aja sana pulang sendiri." tolaknya Hana semakin cemberut.


"Baiklah." ucap Kevin mengulurkan tangannya.


"Kemana?" tanya Hana enggan menerima uluran yang di berikan padanya.


"Kali ini kamu dilarang protes." ucap Kevin lalu mengangkat tubuh Hana.


"Kevin. Lepas, kenapa kamu suka berbuat seenak jidatmu." tolak Hana menggerakan kedua kakinya ingin diturunkan.


"Disini tidak ada orang selain kita berdua. Jadi, bebas melakukan apa saja, kamu mengerti kan maksudku, apalagi tempat ini sepi." ucap Kevin menatap Hana tajam.


Degg....Seketika Hana kaget mendengar ucapan Kevin ia melihat sekelilingnya ternyata tidak ada orang kecuali dirinya dan Kevin.


"Kamu mau melecehkanku. Cepat turunkan aku." teriak Hana kembali memukul dada bidang Kevin.


Aaaaaaaa. "Kevin. Please, jangan berbuat macam macam di tempat ini." teriak Hana semakin histeris.


Haa...Haa...Ha... "Kita sudah sampai." ucap Kevin tertawa menurunkan Hana dari dekapannya ia sengaja mendekatkan wajahnya.


"Dasar mesum. Menjauhlah dariku, kamu pikir saya tidak bisa melawanmu." umpat Hana mendorong tubuh Kevin dengan satu tangannya.


"Coba dibuka. Ini akan sangat menyenangkan." pinta Kevin pada Hana yang memejamkan matanya karena takut.


"Kamu pikir aku wanita." ucap Hana menggantung berprasangka buruk.


Disana sudah ada meja berisi makanan Kevin mengajak Hana dinner romantis.


Tapi anehnya di sana cuma ada satu kursi, Hana menajamkan penglihatan, ternyata itu memang benar.


Kevin terlebih dahulu duduk, kemudian ia menarik Hana dalam pangkuannya, satu kursi untuk dua orang.


"Aneh. Kenapa kursinya cuma ada satu? kamu pasti sengaja melakukannya." ujar Hana merasa tak nyaman dengan posisi nya sekarang.


"That's right. Nikmati saja, aku sungguh tidak keberatan." ucap Kevin tersenyum.


"Berani turun. Kamu tanggung akibatnya." ucap Kevin sedikit menekan.


"Apa hobi kamu selain mengancam?" tanya Hana melirik Kevin tajam.


"Hmm. Membuatmu baper." jawab Kevin asal.


Hana menyipitkan matanya pertanda ia tak mengerti apa arti ucapannya.


"Bawa perasaan. Masa kamu tidak tau istilah itu." jelas Kevin.


"Aku kira bawa perkara. Itu habi kamu kan, aduh!" seru Hana dahinya kena sentil.


"Bagaimana kita makan? Kalau begini caranya." ujar Hana bingung.


"Gampang. Steak ini kan sudah di potong potong, kita tinggal memotongnya, ayo! buka lebar lebar mulutmu." ucap Kevin.


Aaaaaaaaaa.......


"Ini namanya tutorial mempersulit hidup. Dasar modus, aku tau dia sedang mencari perhatianku, sorry, tapi aku bukan wanita yang mudah tergoda oleh perlakuan kamu." batin Hana bertentangan dengan hatinya.


Selesai makan tak lupa Kevin membantu Hana untuk meminum obatnya.


"Sekarang. Waktunya minum obat, kamu jangan lupakan itu." ucap Kevin.


"Oke. Obatnya ada di dalam tasku." ucap mencari cari tapi tak ada.


"Kenapa? dimana obatnya. Kamu membawanya kan." tanya Kevin.


Hana menggeleng kan kepalanya. "Bawa. Kamu lihat kan waktu di rumah orang tuamu aku meminum obat." ujarnya.


"Apa mungkin?" lanjutnya.


"Terjatuh. Biar ku carikan, kamu duduk manis saja disini." ucap Kevin menurunkan Hana dari pangkuannya.


"Kevin. Sudahlah tidak perlu di cari, tempat ini sangat luas." teriak Hana tak di tanggapi olehnya.


Tiga puluh menit menunggu akhirnya yang di cari cari ketemu.


"Hana. Aku menemukannya." seru Kevin berlari mendekati nya.


"Hebat juga dia." gumam Hana tersenyum.





Bersambung...