Seleb Intertainment

Seleb Intertainment
13. Khawatir



"Hana." panggil Kevin menggedor gedor pintu kamar nya keras.


Akan tetapi tidak ada sautan dari Hana membuat Kevin semakin emosi.


"Buka pintunya atau ku dobrak." ucap Kevin keras dari arah luar kamar Hana tapi tidak ada jawaban dari nya.


"Bik yanti?" panggil Kevin dari atas.


Suaranya begitu menggema sehingga Bibik Yanti buru buru keatas mendapat panggilan dari tuannya, dia adalah ketua dari para pembantu dirumah Kevin.


"Iya Tuan." jawab bik Yanti menghampirinya.


"Tolong ambilkan kunci cadangan kamar ini." perintah Kevin kepadanya.


"Baik Tuan." ucap nya mengangguk tidak butuh waktu lama bik Yanti menyerahkan kunci cadangan nya kepada Kevin..


"Ini Tuan." ucap bik Yanti menyerahkan kuncinya.


"Hana." panggil Kevin mencari keberadaan nya ternyata tidak ada dikamar tidur kemudian ia mencari nya di kamar mandi tidak ada juga.


"Dimana dia. Awas aja kalau berani kabur dariku, akan ku cari sampai kelubang semut pun." ucap Kevin ia baru teringat kalau Hana suka menyendiri di balkon kamarnya kemudian Kevin melangkah kan kakinya kesana.


"Ternyata kamu disini. Aku cari kemana kamu malah enak enakan duduk santai, enak sekali hidupmu." ucap Kevin kepada Hana tapi tak ada sautan.


"Hey!" panggil Kevin menyenggol badannya.


"Hana." panggil nya sekali lagi ia melihat Hana panik karena wajahnya begitu pucat badannya juga panas.


"Hana kamu kenapa?" ucap Kevin mengangkat tubuh Hana kemudian membaringkan nya dikasur.


"Badan kamu panas sekali. Tubuhmu menggigil bagaimana ini." ucap Kevin panik seraya mengambil ponselnya dari saku untuk memanggil Alfian.


~>> [[ Hallo? ada apa boss jangan bilang kamu suruh aku untuk menjemput dokter Hyun lagi.]] canda Alfian kepada Kevin ternyata itu benar.


~>> [[ Iya.]] ucap Kevin singkat.


~>> [[ Cepetan kamu jemput dia bawa kesini.]] ucap Kevin lalu menutup telponnya.


"Boss. Kenapa aku menawarkan diri." celoteh Alfian mengambil kunci nya untuk menjemput dokter.


"Apa kamu seperti ini karena aku. Kamu menyelamatkan ku ketika aku tercebur ke kolam renang." ucap Kevin mengusap rambut Hana yang sedang pingsan.


"Tangan kamu terluka juga karena aku. Tapi kenapa kau menyelamatkan ku, kenapa aku tidak mengetahuinya, seharusnya kamu memberitahuku." ucap Kevin mengamati luka nya Hana.


Ketika Kevin hendak mengusap rambutnya Hana ia dikejutkan oleh kedatangan dokter dan asistennya.


"Boss. Kamu sedang apa?" ucap Alfian melihat bossnya ingin mengusap rambut Hana tapi tidak jadi karena ada dirinya juga dokter Hyun.


"Bukan apa apa?" ucap Kevin gugup kembali duduk disebelah Hana.


"Apa kamu sebenarnya suka sama Hana. Tapi mereka selalu bertengkar setiap berdekatan, nggak mungkin." batin Alfian menggelengkan kepala.


"Bagaimana keadaan nya." ucap Kevin memperhatikan Hana.


Ketika itu Alfian melihat wajah bossnya sangat khawatir mencoba untuk bertanya tapi tidak berani takut nanti Kevin marah.


"Apa Hana sudah meminum obatnya?" tanya dokter Hyun kepada Kevin.


"Saya tidak tau. Dari tadi dia mengunci kamarnya, dan menolak makan." jawab Kevin.


"Kok bisa. Memang nya dia kenapa?" ucap dokter Hyun penasaran.


"Itu bukan urusanmu. Kalau sudah kamu pulang, biar aku dan Kevin yang menjaganya." usir Alfian kepada Hyun.


"Kevin. Tolong jaga dia baik baik." pesan dokter sebelum pergi.


"Baguslah. Akhirnya dia pergi juga." ucap Alfian merasa senang.


"Kenapa kamu mengusirnya." ucap Kevin kepada Alfian.


"Ya. Aku nggak suka aja dia lama lama disini." ucap Alfian malas.


"Terserah kamu." ucap Kevin kembali duduk disebelah Hana.


"Sepertinya boss menyukai Hana." ujar


Alfian mengintimidasi.


"Aku cuma khawatir nanti kalau dia sampai kenapa kenapa. Pasti aku juga yang disalahkan sama papa, besok dia harus jelaskan semuanya ke mereka." ucap Kevin berdiri lalu pergi ke keluar.


"Boss." panggil Alfian tapi tidak ada jawaban dari nya.


"Dasar boss gila. Diajak bicara malah pergi." gerutu Alfian kesal.


"Hana." ucap Alfian melihat Hana sudah mulai sadar.


"Kak Alfian ada disini." ucap Hana membuka matanya.


"Iya tadi kamu sempat pingsan." ucap Alfian duduk disebelah nya Hana.


"Maaf kak. Aku sudah merepotkan mu." ucap Hana ingin duduk dan dibantu oleh Alfian.


"Tidak apa apa Hana. Kamu sudah saya anggap sebagai adik sendiri, jadi jangan sungkan kalau butuh apa langsung bilang sama kakak." ucap Alfian mengusap bahu Hana.


"Terima kasih kak." ucap Hana tersenyum.


"Permisi tuan. Ini makanan buat nona muda." ucap bik Yanti meletakkan nampan berisi makanan dan minuman untuk Hana tidak lupa juga obat yang harus diminum olehnya.


"Tapi bik? saya nggak mau makan." ucap Hana menolak.


"Masih sakit aja keras kepala kamu." ucap Kevin tiba-tiba datang dari balik pintu.


"Kamu. Buat apa kemari." ucap Hana malas.


"Ini kan rumahku. Jadi bebas mau kemana aja, termasuk kamar ini." ucap Kevin tanpa melihat kearah Hana.


"Terserah." ucap Hana malas meladeni sikap Kevin yang menurutnya kekanak kanakan.


"Kenapa? masih nggak mau makan. Sudah merasa sehat kamu, udah sakit sok kuat." omel Kevin ketus terhadap Hana.


"Kamu lihat tangan aku sakit. Mana bisa makan pakai tangan kiri." ucap Hana tak kalah ketus.


Kemudian Kevin mengambil mangkok berisi bubur dari nakas untuk diberikan kepada Hana.


"Nona Hana yang cantik. Makan ya! nanti kamu tambah sakit, ujung ujungnya merepotkanku." ucap Kevin menyodorkan sesuap untuknya.


"Nggak mau. Kamu makan sendiri, sekalian tuh! sama sedoknya." ucap Hana memalingkan muka menolak suapan dari Kevin.


"Makan atau kamu mau pulang kerumah keluarga kesayanganmu. Masih untung saya baik padamu." ucap Kevin membujuk dan juga memaksanya agar mau makan.


Akhirnya Hana mengerti maksud dari perkataan Kevin, langsung menerima suapan darinya.


"Anak pintar." ucap Kevin mengelus pelan kepala Hana.


Alfian hanya menggeleng geleng kan kepalanya melihat perdebatan diantara Kevin dan Hana.


"Satu lagi. Tanggung kamu harus menghabiskannya." ucap Kevin sedikit memaksa Hana.


"Aku udah kenyang." ucap Hana tak mau makan lagi karena perutnya sudah terasa kenyang.


"Kenyang. Kamu bahkan baru makan tiga sendok." ucap Kevin.


"Iya. Satu sendok seperti dua sendok makan." ucap Hana mengulum mulutnya penuh dengan makanan karena suapan dari Kevin.


"Maklum. Dia itu tidak pernah menyuapi perempuan Hana." seru Alfian menertawakan bossnya dan langsung ditatap tajam oleh Kevin.


"Ohh! ternyata cowok seperti kamu jomblo." ucap Hana ikut menertawakan nya.


Uhuk...Uhuk...! suara batuk Hana karena ia tertawa sambil makan.


"Rasain. Itu akibatnya, kalau makan jangan ngomong apa lagi tertawa." ucap Kevin lalu mengambil kan Hana air putih.


"Ini minum." ucap Kevin menyodorkan air putih ke mulut Hana.


"*T*ernyata dia baik juga. Ahh! tetap saja nyebelin orangnya." ucap Hana dalam hatinya.





Bersambung...