
"My Prince." panggil Hana berlari menghampiri suaminya.
"Ada apa lagi. Ini udah sekian kalinya kamu memanggilku." ujar Kevin di halaman depan rumahnya.
"Kamu lupa sesuatu." ucap Hana tersenyum ia memberi kode dengan kedipan matanya.
"Itu mata kamu kenapa? sakit." tanya Kevin pura pura tidak mengerti.
Hana mendesah pelan. "Kemarilah." pintanya.
Cupp...
Kevin mengecup bibir mungil istrinya.
Kemudian Kevin menarik pinggang ramping istrinya hingga tak ada jarak di antara keduanya.
"Kevin. Apa kamu masih di depan?" seru Fadly tercengang.
"Di luar panas sekali? perasaan di dalam dingin." gumam Fadly mengibas ngibaskan tanahnya.
Hana salah tingkah sendiri karena malu, ternyata ada papa mertuanya datang.
"BABY. Kenapa pergi? kita lanjutkan permainan kita tadi." tanya Kevin setengah berteriak, istrinya sudah masuk ke dalam.
"Kamu ini. Suka sekali menggodanya, kasihan dia jadi malu kan." ujar Fadly menepuk pundak nya.
"Biasalah. Dia yang memulai, jadi harus tau akibatnya." ucap Kevin tersenyum menyeringai.
Fadly memberikan sesuatu ke putranya. "Kamu pasti perlu itu kan." ujarnya.
"Surat. Buat Kevin? buat apa? kalau ada apa apa tinggal bilang langsung, kenapa harus pakai?" ujar Kevin.
"Udah sana berangkat. Nanti kamu terlambat lho!" ucap Fadly ketika Kevin membuka isi suratnya.
Kevin melihat jam tangannya. "Aah! iya. Aku berangkat dulu, sampaikan salamku ke Hana." ucapnya masuk ke dalam mobil melambaikan tangannya.
"Hati hati. Jangan lupa makan, obatnya juga." seru ucap Fadly.
Kevin mengacungkan jempol nya. "Siap." ucapnya tanpa suara.
*****
"Asisten baru. Siapa? kenapa dia tidak menyapaku? di hari pertama kerja tidak ada sopan santun sama sekali." batin Kevin mengamatinya dari belakang.
"Tapi. Sepertinya orang itu tidak asing, mirip seseorang yang ku kenal, aah! mana mungkin itu dia." batinnya lagi.
"Maaf Tuan. Boleh saya memperkenalkan diri." ucap asisten barunya membuka kaca mata dan masker hitamnya.
Kevin dibuat terkejut melihatnya. "Kwak Hyun. Sedang apa kau di dalam mobilku? dimana asisten baruku? jangan bilang kau." ujar nya.
Kwak Hyun tersenyum mengangguk ia menepi di pinggir jalan. "Iya. Saya asisten barumu." jelasnya membuat Kevin semakin tak mengerti.
"Kamu gila. Bagaimana dengan pekerjaanmu sebagai dokter?" tanya Kevin.
"Saya tidak gila. Tuan Kevin? otakku masih waras, sebelumya saya sudah mengundurkan diri." ujar Kwak Hyun.
"Mengapa? kau ini bodoh atau bagaimana? mana ada seorang dokter mengundurkan diri demi menjadi asisten." ujar Kevin tak masuk akal.
"Ceritanya panjang. Kita lanjutkan nanti, sebentar lagi ada meeting." ucap Kwak Hyun menancap gas mobilnya kembali.
"Pelan pelan. Kau ingin saya mati disini." teriak Kevin jantungnya seketika nyeri menepuk pundak Kwak Hyun keras.
"Sabar Tuan." ucap Kevin.
"Maksudnya apa coba? dan kenapa Hana tidak bilang padaku soal dia? di hari pertama kerja udah membuatku darah tinggi." batin Kevin kesal.
Di Kantor
Para karyawan disana menunduk hormat ke mereka, terlebih Kevin ia sudah lama sekali tak menginjakkan kaki nya.
Kevin membalasnya dengan menundukkan badannya tersenyum ramah.
"Tentu saja ke ruanganku." jawabnya.
"Ruanganmu ada di sebelah sana. Di situ ruangan para karyawan." tunjuk nya Kwak Hyun mendapat tatapan tajam dari Kevin.
"Oke. Saya lupa." ujar Kevin.
*****
"Nyaman. Rasanya kangen sekali, akhirnya aku bisa datang ke kantor ini lagi." gumam Kevin duduk di kursi kebesarannya.
"Maaf Tuan. Sepuluh menit lagi kita ada meeting, jadi persiapan diri anda." ucap Hyun entah datangnya dari mana tiba tiba muncul di depan mata Kevin.
"Lain kali bisa tidak. Ketuk pintu dulu sebelum masuk." ucap Kevin menekankan kata katanya.
"Tidak perlu minta maaf. Udah sana keluar, nanti saya akan menyusul." usir Kevin mengarahkan jari telunjuknya ke pintu.
Kevin meraba sakunya ia mengeluarkan surat yang di berikan oleh Fadly.
"Sebaiknya aku simpan saja. Nanti akan ku baca nanti." gumamnya menempatkan di dalam laci sebelum pergi meeting.
Di Ruang Meeting
Disana Kevin hanya diam mengamati presentasi Kwak Hyun, sesekali ia menjawab pertanyaan dari klien.
"Bagus juga presentasi nya. Tidak salah Hana memilih dia menjadi asistenku, tapi apa penyebabnya dia mengundurkan diri dari pekerjaan nya, padahal Hyun termasuk dokter terbaik." batin Kevin berpikir keras.
"Agrhh...! kenapa dadaku nyeri sekali? Apa mungkin tubuhku penolakan dari pendonor." batin Kevin sedikit meringis menahan sakit.
"Tuan. Are you alright." lirih Kwak Hyun.
Pasalnya Kevin wajahnya terlihat pucat pasi.
"Saya akhiri meeting kita hari ini. Kita berjumpa lagi di pertemuan berikutnya." ucap Kwak Hyun menjabat tangan para klien.
"Kev-Kevin. Bangunlah, astaga dia pingsan lagi." panggil Kwak Hyun memapah tubuh Kevin ia kemudian memindahkan ke ruangannya.
Beberapa saat kemudian Kevin baru sadar, suhu tubuhnya sempat naik akan tetapi Kwak Hyun mengompres nya dengan air dingin menggunakan sapu tangan ia tempatnya di dahi dan lehernya.
"Syukurlah. Kamu sudah sadar." ucap Kwak Hyun lega.
"Apa yang terjadi?" tanya Kevin bersandar.
"Tadi kamu pingsan." jawab Hyun memberikan air ke Kevin setelah keadaannya benar benar sadar.
"Hana?" ujar Kevin.
"Tenang saja. Hana tidak mengetahuinya." ucapnya Hyun juga memberikan makanan tapi Kevin menolaknya.
"Aku tidak lapar. Kamu saja yang makan." ujar Kevin.
"Disini yang sakit siapa? kamu ini sungguh keras kepala." ujar Hyun gemas akan kelakuan Kevin sedari dulu sifatnya tidak berubah.
"Bawa sini makanan itu. Perutku tiba tiba lapar." pinta Kevin, Hyun memberikan nya.
"Perlahan saja. Tidak perlu banyak banyak." tuturnya ia kembali di beri makanan oleh Kevin.
"Saya sudah makan. Sekarang apalagi." ujar Kevin cuma makan sesuap.
Kwak Hyun hanya menggeleng kan kepalanya orang di depannya membuat dirinya tau cara menahan amarah.
"Oke. Sekarang kamu istirahat, aku masih ada urusan dengan klien kita." ucap Hyun.
"Ooh iya. Kalau kamu tidak mau penyakitmu kambuh lagi, hindari stress." lanjutnya mengingatkan.
"Iya bawel." ucap Kevin meniup niup, tujuannya untuk menyuruh asistennya pergi.
"Benar apa kata Hana. Saya harus banyak bersabar." gumam Kwak Hyun sebelum membuka pintu.
BERSAMBUNG