Seleb Intertainment

Seleb Intertainment
170. Anugerah Terindah



Lee membawa keponakan nya bermain di luar, ketika itu sepasang mata melihatnya tak suka ia benar benar tak bisa apa apa untuk mengurus anaknya.


"Wajahmu sangat menggemaskan. Mirip sekali sama ibunya, nanti kalau sudah besar pasti cantik seperti Hana." ucap Lee duduk di ayunan yang ada di taman sembari menggoda Yoora hingga tertawa ria bersamanya.


"My Prince. Kamu mau tau sesuatu nggak tentang kak Tae Yeong." ujar Hana menatap suaminya lekat.


"Buat apa aku cari tau tentang dia." Kevin berkata tak peduli.


"Eemm! nggak asik kamu. Orang di ajak bicara juga, bagaimanapun dia itu saudara kembarmu." ujar Hana memalingkan muka.


"Lee memang saudaraku. Tapi dia bukan saudara kembarku, kehidupan ini begitu rumit dan membingungkan." batin Kevin.


Hana menunggu suaminya meminta untuk bercerita, tapi malah diam saja, wajahnya terlihat kosong.


"BABY. Bisa tolong antarkan aku ke dalam, kaki ku masih terlalu kaku untuk berjalan, tubuhku juga lelah sekali." pinta Kevin di angguki istrinya.


"Okey. Kamu mau mampir ke kamar anak anak tidak." ucap Hana.


"Lengan lenganku sudah kuat. Bolehkan menggendong mereka, anak sendiri masa dilarang." pinta Kevin.


"Benarkah. Tentu saja boleh." ucap Hana membuat sang suami tersenyum lebar saking bahagianya.


Lee menggerakan tangan Yoora ke Hana dan juga Kevin ia jingkrak di gendongan nya.


"Ada Daddy kamu tuh! and Mommy. Paman pergi dulu yah! kita ketemu lagi nanti, bye!" tunjuk Lee, Kevin mengambil alih Yoora dari gendongan nya.


"Kak Tae Yeong mau kemana? buru buru sekali." tanya Hana.


Lee melempar kiss bye ke Yoora. "Biasa ada urusan sebentar. Sampai jumpa nanti." ucapnya melambaikan tangan berjalan memasuki mobilnya.


"Urusan apa?"


"Palingan juga wanita. Kamu nggak tau aja sifatnya, playboy." ujar Kevin.


"Dia bukan playboy kak. Hanya saja pacarnya banyak." ucap Hana terkekeh.


"That's enough. I'ts up to him, itu bukan urusan kita." ucap Kevin mengangkat kedua bahunya.


"Asyik banget. Jung Hwa juga pengen di gendong sama papanya." seru Sinta ketika anak dan menantunya bercanda ria bersama Yoora.


Yoora lebih suka merangkak dari pada berjalan, padahal ia sudah lancar berjalan, sedangkan Kim Jung Hwa kembaran nya ia sangat aktif berjalan sehingga neneknya sedikit kewalahan mengimbanginya, sedikit demi sedikit ia sudah bisa berbicara walaupun satu dua kata seperti memanggil nama orang tua dan juga kakek nenek nya.


"Ganteng nya anak Pappy. Hmm...! harum sekali, pasti habis mandi." ucap Kevin menghirup bau wangi dari tubuh Jung Hwa.


"Apakah Yoora sudah mandi?" tanya Kevin ia tak mencium bau asam di tubuhnya, malah sebaliknya wangi nya sama dengan Jung Hwa.


Lee ~>> {Honey? Yoora sudah ku mandi kan.} isi pesan singkat dari Lee.


Hana~>> {Thanks kak} balas nya memberi emoji tersenyum.


"Kak Tae Yeong tadi kirim pesan. Katanya dia sudah memandikan Yoora." ucap Hana ketika membuka ponselnya.


"Kenapa bengong?" tanya Hana menenggol lengan suaminya.


"Di saat Yoora lagi rewel. Orang pertama yang dia cari itu kak Tae Yeong untuk menemaninya, kamu tidak cemburu kan." ucap Hana menjelaskan.


"Suami macam apa aku ini. Di masa masa masa kesulitan Hana aku tidak berada di sampingnya, aku juga bukan ayah yang baik." batin Kevin risau.


"Semua yang terjadi adalah ujian dari yang maha kuasa. Stop! menyalahkan diri sendiri, okey! selama ini kamu adalah anugerah terindah dalam hidupku dan anak anak kita." ucap Hana ia seakan mengerti isi hati suaminya.


"Kamu murid yang baik. Aku bangga sama kamu, BABY." ujar Kevin mengecup pipi istrinya.


Hana Salah tingkah tersenyum malu. "Siapa dulu gurunya?" ujarnya.


"So sweat. Mama jadi iri, Papa nggak pernah seromantis ini." ucap Sinta.


"Mama mau tau nggak apa rahasianya." lirih Kevin membuat Sinta penasaran ia melempar senyum menggoda ke istrinya.


"Apaan sih! jaga ucapanmu. Jangan bertingkah macam macam." ujar Hana malu malu pipinya berubah merah tomat.


"BABY. Mau kemana? kok suamimu di tinggal." seru Kevin.


"Kamu bisa jalan sendiri kan." ujar Hana mengajak Jung Hwa ke dalam.


Sedangkan Kevin bersama Sinta menyusul ke dalam.


"Sini biar Yoora mama gendong." pinta Sinta.


"Nggak apa apa Mah! lagipula jaraknya dekat dari sini ke kamarnya." tolaknya sedikit demi sedikit Kevin melangkahkan kakinya.


"Sepertinya kamu cepat sekali pulih." ujar Sinta mengimbanginya di belakang.


"Iya dong! Kevin kan kuat." ucapnya membanggakan diri.


"Bisa aja kamu. Lihatlah Pappy mu, nanti kamu kalau sudah besar jangan seperti dia." ucap Sinta melihat wajah Yoora yang tersenyum padanya.


*****


Di tempat lain seseorang sedang bercanda ria di klub, siapa lagi kalau bukan Lee ia berada di antara para wanita yang bergelanyut mesra di pundaknya.


Wanita mana tak terpesona akan ketampanan dan kewibawaan Lee, ia terkenal rayuan mautnya, entah apa yang membuatnya melajang hingga sekarang.


"Kemarilah sayang. Mendekatlah padaku." panggil Lee menarik wanita penghibur itu ke pangkuannya.


Wanita itu mulai mengecup bibir lelaki yang memangkunya, juga membelai dada bidangnya.


Lee tak pernah memintanya ia hanya menerima tanpa harus memulainya, banyak wanita yang datang padanya.


"Entah mengapa rasanya berbeda seperti dulu. Di saat aku risau aku selalu datang ke tempat ini, tapi sekarang, aneh sekali, aku lebih bahagia bersama Hana, dia penyemangat ku." batin Lee


Tanpa di sadari tangan wanita itu merambat ke bawah.


"Lancang sekali kau. Menjijikan, siapa yang mempekerjakan dia?" teriak Lee, reflek ia memelintir tangan wanita itu.


Sontak itu membuat para pengunjung di sana ketakutan, terutama wanita wanita itu ia sampai terkejut menjauh darinya.


"Mulai sekarang kau di pecat. Kau telah melanggar peraturan di cafe ini." teriak Lee.


"T-tapi Tuan. S-saya." ucap wanita itu menunduk ketakutan sembari menahan sakit di pergelangan lengannya karna di pelintir tadi.


BERSAMBUNG...