
"My Prince. Kak Tae Yeong, dia minta oleh oleh dari kita, kamu mau kasih dia apa?" tanya Hana selesai merapikan semuanya kemudian ia membuka pesan dari Lee Tae Yeong.
"Sebelum pulang kita beli oleh oleh yuk! buat dibagikan ke tetangga dan yang lainnya. Masa kita senang senang disini menghabiskan banyak uang, di luaran sana masih banyak lho! orang yang membutuhkan." ucap Hana memegang tangan Kevin ia masih fokus sama ponselnya.
Sedangkan Kevin masih sibuk dengan pikirannya sendiri ia mendengarkan ucapan Hana tapi ia sendiri raganya di sini jiwanya entah berada dimana.
"Hello? apakah tuan suami masih ada disini?" tanya Hana ia melambaikan tangannya di depan wajah Kevin.
"Kamu ngagetin aja deh. Ada apa? kamu bilang apa tadi, Tuan suami." ucap Kevin malah bertanya.
"What? dari tadi ternyata aku di kacangin. Sungguh kejam suamiku ini, sebenarnya apa yang kamu pikirkan, Hmm!" ucap Hana ia beralih duduk di kasur memutar bola matanya malas.
"Maaf. Oke, kita beli oleh oleh dulu, nanti pulangnya sore aja yah!" ucap Kevin membelai rambut Hana.
Tiba tiba saja perut Hana sakit dan perih karena maag nya kambuh lagi padahal ia sudah meminum obatnya dan mereka sudah sarapan pagi juga bersama mertuanya.
"BABY. Perutmu kenapa? sakit lagi. Kita ke rumah sakit saja ya?" tanya Kevin khawatir.
"Nggak mau. Kamu tau kan aku paling tidak suka rumah sakit." jawab Hana menolak ia sampai menyingkirkan tangan Kevin darinya.
Awalnya Hana tak mau tapi Kevin sengaja menelphone orang tuanya agar mau membujuknya.
Alhasil usahanya berhasil karena Hana tak dapat menolak ucapan mertuanya.
Sedangkan mereka dari rumah sakit Kevin langsung ke bandara bukan ke hotel tempat mereka menginap.
"My Prince. Kenapa kita kesini, katamu pulangnya nanti sore." tanya Hana menatap Kevin.
"Kita pulang sekarang. Barang barang kita sudah ada di dalam, ayo masuk!" jawab Kevin kemudian mengajak Hana memasuki pesawat jet miliknya.
"Lho! kok pulang. Kamu janji kan mau beli oleh oleh dulu." ucap Hana merasa bingung pasalnya Kevin sendiri yang mengatakan kalau mereka akan pulang sore hari tapi malah siang harinya.
"Kamu nggak lihat wajahmu. Sangat pucat, masih saja bandel, ayo cepat masuk." ucap Kevin menunjuk ke arah wajah Hana yang pucat.
Hana terlalu memaksakan untuk memakan makanan pedas sampai di luar batasan.
Karena terlalu lama menunggu Hana ia langsung mengangkat tubuh istrinya masuk ke dalam pesawatnya.
"Istirahatlah. Aku tinggal sebentar, jangan kemana mana." ucap Kevin ia menempatkan Hana di atas kasur kemudian menyelimutinya.
"Kamu mau kemana? tinggalin aku sendiri. Tega banget, Mama sama Papa mana, kenapa mereka belum sampai kesini?" tanya Hana mencekal tangan Kevin ia sampai duduk untuk meraih tangan suaminya.
"Ke depan. Bukannya aku tega sama kamu tapi aku ada urusan sebentar, nanti aku jelaskan, kalau Mama sama Papa mereka ada di luar." ucap Kevin menjawab semua pertanyaan Hana.
"Oooh!" ucap Hana melepaskan tangan Kevin setelah pergi ia merebahkan badannya kasar sampai sikutnya terbentur keras sampai berbunyi keras.
Dugggg
Saking kerasnya sampai terdengar ke telinga Kevin yang baru melangkahkan kakinya di depan pintu ia dikejutkan adanya suara keras ia segera menghampirinya.
"BABY. Kamu kenapa lagi, makanya jadi orang jangan kebanyakan tingkah, Ceroboh." tanya Kevin menghampiri Hana kembali.
"Kamu tau kan. Kepalamu ini ada bekas operasi, nanti kalau cidera bagaimana? bisa pendarahan otak nanti, kamu ngerti nggak sih!" ucap Kevin dengan raut wajah dingin tapi khawatir.
Hana hanya bingung pasalnya yang sakit bukan dibagian kepalanya mainkan tangannya karena ruangan itu sangat kedap suara jadi suara lirih terdengar sangat keras.
"Ngomong apa sih! aku nggak ngerti. Bukan kepalaku, tapi ini." ucap Hana menunjukkan siku tangannya sampai lebam hingga sedikit tergores olehnya.
"Ada apa ini. Tanganmu kenapa Hana, itu sampai berdarah gitu." tanya Sinta yang baru datang langsung masuk menghampiri mereka.
"Cuma luka kecil saja. Mama tidak usah khawatir, ini nggak sakit kok!" jawab Hana yang sebenarnya sangat ngilu rasanya seperti ada banyak semut yang berjalan di tangannya dan juga pegal.
Kevin segera keluar mengambil air hangat dan juga handuk kecil untuk mengompres luka lebam Hana.
"Sini biar Mama saja. Kasar banget kamu, sudah sana keluar, temani Papa mengurus barang barang yang kamu beli." ucap Sinta mengambil alih posisi Kevin.
Yang awalnya mengompres tangan Hana yang baginya kasar sampai menantunya meringis kesakitan.
Setelah menempuh perjalanan pulang selama kurang lebih delapan jam lamanya Kevin tertidur di kursi pesawat sangat pulas.
Sedangkan Hana ia sendiri tak bisa tidur hanya beberapa menit saja setelah minum obat.
"My Prince. Sepertinya kita sudah sampai, ayo bangun." ucap Hana menepuk tangan Kevin tapi tak ada reaksi hanya merentangkan kedua tangannya saja setelah itu tidur lagi.
Hana mencari cara yang jitu ia duduk di pangkuan suaminya sampai kakinya menggaung seperti anak kecil yang minta pangku saja ia melingkarkan tangannya ke leher Kevin juga meraba bagian sensitif Kevin yaitu dada bidangnya dan perut six pack nya.
"Kenapa dia belum bangun juga. Perasaan yang sakit siapa? yang tidur siapa?" ucap Hana ingin beranjak turun dari pangkuan Kevin tak bisa karena ada tangan yang melingkar di pinggangnya.
"BABY, jadi ceritanya kamu menggodaku. Apa tidak takut kalau harimau sedang tidur terbangun, memakanmu, hmm!" ucap Kevin memajukan posisi Hana agar bisa lebih dekat lagi.
"Tidak. Setiap hari juga aku selalu dimakan sama kamu." ucap Hana tersenyum menggoda.
"Sekarang kamu mulai nakal yah! baiklah kita akan melakukannya disini." ucap Kevin mencium bibir Hana.
Sedangkan tangan Kevin yang satu memeluk Hana yang satunya lagi membuka semua kancing pakaian istrinya sampai pemiliknya terkejut apa yang dilakukan oleh suaminya kata katanya benar benar dibuktikan.
"Nyesel aku menggodanya. Ujung ujungnya aku yang kena juga." ucap Hana menahan tangan Kevin.
"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya seseorang di ambang pintu sampai mengejutkan mereka yang sedang bermesraan.
•
•
•
***BERSAMBUNG***