Seleb Intertainment

Seleb Intertainment
26. Kesal



Di rumah Kevin


Kevin ingin turun dilihatnya Hana tertidur pulas ia tak tega membangunkannya. Kevin membuka pintu mobil dengan hati hati setelah itu mengangkat tubuh Hana pelan pelan agar Hana tidak terbangun.


Alfian mengikuti boss nya dibelakang nya.


"Al? tolong buka kan pintu." perintah Kevin lirih menoleh ke Alfian.


"Baik boss." jawab Alfian pelan membukakan pintu kamar Hana kemudian Kevin meletakkan tubuhnya ke tempat tidur dengan sangat hati hati kemudian menyelimutinya, ia memandang wajah Hana ketika tidur.


"Mimpi indah." bisik Kevin ditelingannya dan mencium pucuk rambutnya kemudian melangkah keluar dari kamar Hana.


Sebenarnya Hana sudah terbangun ketika Kevin mengangkat nya, ia memilih pura pura tidur agar tidak merasa malu ketika menatap Kevin dekat.


"Kevin mencium rambutku." ucap Hana tersenyum melihat punggung lelaki yang baru saja keluar dari kamar nya.


"Lebih baik aku tidur. Rasanya sangat lelah dan ngantuk sekali." ucap Hana menguap dan menutup mulutnya dengan satu tangannya.


"Semoga mimpi indah bersamamu." gumam Hana memejamkan mata lalu tertidur.


*****


Pagi Harinya...


Sayup sayup Hana mengerjap erjapkan matanya, cahaya matahari menyilaukan mata, pandangannya melihat kesana kemari kemudian bangun membersihkan diri dikamar mandi.


"Aku kesiangan. Jam berapa?" ucap Hana melihat ke dinding yang ada di kamarnya.


"Jam sembilan. Pasti Kevin sudah berangkat bekerja." ucap Hana berjalan di meja rias dan menyisir rambutnya.


Tok...Tok...Tok.... suara ketukan pintu dari luar kamar Hana.


"Masuk saja. Pintunya tidak terkunci." ucap Hana dari dalam kamarnya.


"God morning." ucap seseorang dari belakang Hana menoleh suaranya tidak asing baginya.


"Dokter Hyun?" teriak Hana berhambur memeluknya karena ia sudah menganggap sebagai kakak nya sendiri.


"Hey! ada apa?" tanya Hyun mengusap rambutnya merasa heran melihat tiba tiba Hana memeluknya.


"Kangen aja. Kak? emm! Dokter Hyun maksudnya." ucap Hana tersenyum malu karena salah memanggilnya dan melepaskan pelukannya.


"Tak apa. Kamu sudah saya anggap sebagai adik sendiri, jadi mulai sekarang, Kamu panggil saya kak atau apalah itu terserah kamu." ucap Hyun tersenyum melihat Hana.


"Benarkah. Akhirnya aku punya kakak, Ya walaupun bukan kakak kandungku." ucap Hana dengan mata berbinar binar menahan air matanya.


Hyun menganggukan kepalanya pelan membuat Hana memeluk lelaki yang didepanya lagi.


"Kalian sedang apa? seperti sepasang kekasih yang sudah lama tak bertemu." ucap Kevin tiba tiba datang mengagetkan mereka.


Hana segera melepaskan pelukannya ia kembali duduk di kursi rias.


"Kevin?" ucap Hyun.


"Kamu itu disuruh periksa Hana. Malah saling melepas rindu." ucap Kevin melirik Hyun tak suka.


"Iya maaf. Hana? bisa duduk dulu disana, biar saya periksa dulu kamu." ucap Hyun menunjuk ke arah tempat tidur.


"Iya kak?" jawab Hana berjalan mendekati tempat tidur nya.


"Sejak kapan Hana memanggilnya kak? apa dia menyukainya." batin Kevin melihat ke Hana kemudian Hyun.


"Keadaannya sudah membaik. Hanya setiap hari perbannya perlu diganti takutnya bisa infeksi." ucap Hyun selesai memeriksa Hana.


"Baik kak?" ucap Hana tersenyum ramah.


"Kalo sudah selesai. Silahkan keluar, kamu dokter kan, masih banyak pasien yang menunggumu." ucap Kevin mengusirnya tapi dengan cara yang halus.


"Oh Iya Hana. Barang pemberianku kamu masih menyimpannya kan." ucap Hyun membuat Kevin menyerngitkan dahinya melihat Hyun kemudian ke Hana seakan sedang bertanya.


"Masih kak? memangnya kenapa?" jawab Hana.


"Jangan lupa dipakai ya!" ucap Hyun mengelus rambut Hana lembut kemudian ia mendekati Kevin membisikkan sesuatu kepadanya.


"Jaga Hana. Jangan sampai dia terluka lagi." bisik Hyun lalu pergi, membuat Kevin menatapnya tajam.


"Apa dia pikir aku tidak bisa menjaganya." batin Kevin kesal kemudian menghampiri Hana yang masih duduk disana.


"Barang apa yang dia berikan kepadamu?" tanya Kevin menatap Hana dan duduk di sebelahnya.


"Emm. Rahasia, kamu tidak boleh tau." ucap Hana acuh membuat Kevin menahan emosi karena Hana tidak mau menjawabnya jujur.


"Bukannya kamu seharusnya ke kantor. Ini bukan hari libur kan." ucap Hana mengambil memainkan ponselnya.


"Hari ini aku tidak ke kantor. Cuma ada meeting bersama klien di luar nanti siang." ucap Kevin datar.


"Ooh! Gitu. Boleh aku ikut." ucap Hana yang masih setia memainkan ponselnya.


"Ikut. Aku mau kerja, Bukan jalan jalan." ucap Kevin membuat Hana berhenti memainkan ponselnya menatap Kevin.


"Please. Dirumah terus bosen." ucap Hana memohon.


"Memang kemarin itu apa? Kalau bukan liburan. Belum puas kamu seharian jalan jalan." ucap Kevin menatap Hana yang sedang memohon kepadanya.


"Belum. Aku pengen banget ke Mall." ucap Hana antusias membayangkan ia pergi ke Mall.


Kevin tak tega melihat Hana kemudian menggangukkan kepalanya.


Aaaaaaaa....


teriak Hana keras refleks memeluknya erat sehingga Kevin menutup telinganya dengan kedua tangannya menatap nya kesal.


"Ya ampun Hana. Bisa tidak kamu jangan berteriak, gendang telingaku bisa sakit karena teriakanmu." ucap Kevin meniup tangannya dan meletakkan di telinganya bergantian.


Hana tersadar kalau ia sedang memeluk Kevin dengan segera melepaskannya.


"Sorry. Karena aku terlalu senang." ucap Hana cengar cengir memalingkan mukanya malu.


"Kamu itu mirip anak kecil yang diberikan permen." ucap Kevin berlalu pergi dari kamar Hana.


"Sorry. Tapi boleh kan." teriak Hana dari dalam kamarnya merasa tidak ada jawaban Hana berlari buru buru keluar dari kamarnya.


Brukkk.... Hana menabrak dada bidang Kevin Hana melihat keatas siapa yang ada di hadapannya.


"Hmm. Sudah berapa kali ku bilang, jangan lari lari seperti anak kecil." ucap Kevin memarahi Hana melihatnya tajam.


"Aku bukan anak kecil." ucap Hana tak terima dibilang anak kecil bibirnya kini terlihat manyun.


"Kelakuanmu itu. Yang seperti anak kecil." ujar Kevin terkekeh menahan tawanya.


"Jadi bagaimana? Kita jalan jalan apa tidak." ucap Hana masih menatap Kevin kesal.


"Jadi atau tidak ya! Kamu harus merayuku terlebih dahulu." ucap Kevin menyembunyikan tawanya.


"Merayu." gumam Hana berpikir keras.





Bersambung...***