
"Saya mau keluar. Jangan telat makan dan juga minum obatmu, saya tidak mau jika kamu merepotkanku." ucap Kevin kepadanya Hana hanya diam tanpa menjawab sepatah kata pun langsung masuk ke kamarnya tanpa memperdulikan ucapan Kevin.
"Hey! Aku berbicara denganmu. Main masuk masuk aja, tidak ada sopan santun sama sekali." seru Kevin kesal menendang keras pintu kamar Hana.
"Aduh!" keluh Kevin kesakitan karna terlalu keras menendang pintu kamar Hana.
"Sebenarnya tuan rumah ini. Aku apa dia sih!" ucap Kevin menggerutu.
"Boss. Setelah ini kita ada meeting penting." ucap Alfian tiba tiba datang melihat wajah boss nya terlihat kesal seperti menahan rasa amarah.
"Oke." ucap Kevin datar.
"Dimana lokasi meetingnya?" tanya Kevin masih dengan wajah kesalnya.
"Di cafe tempat biasa. Boss?" jawab Alfian kepada bossnya.
"Kamu tau. WO terbaik dikota ini." ucap Kevin.
"Tau boss? memangnya siapa yang mau menikah?" ucap Alfian berbalik bertanya.
"Kamu siapkan semuanya. Bulan depan saya akan menikah." ucap Kevin mengagetkan Alfian sehingga menghentikan mobilnya tiba tiba sontak membuat Kevin kaget dan terbentur kedepan.
"Kamu mau membunuhku." ucap Kevin memegang keningnya sakit karena terbentur.
"Sorry. Boss?" ucap Alfian menggaruk kepalanya yang sama sekali nggak gatal.
"Tidak ada maaf untukmu." ucap Kevin ketus mengambil Handphone yang ada di saku jas nya.
"Al.....?" teriak Kevin melihat jidat nya memerah segera Alfian menutup kedua telinganya.
"Gara gara kamu. Ketampanan ku hilang, apa kata orang nanti." ucap Kevin menunjukkan telunjuk jari nya kearah Alfian.
Alfian menahan tawa nya karena melihat jidat bossnya memerah membuat Kevin semakin marah.
"Boss sudah punya pacar. Memangnya mau menikah dengan siapa?" tanya Alfian penasaran.
"Hana?" jawab Kevin santai.
"Hah! serius boss?" ucap Alfian masih tidak percaya apa yang diucapkan boss nya.
"Lakukan saja apa yang ku perintahkan. Jangan banyak tanya, mauku potong gaji kamu." Kevin menegaskan.
"S-siap." ucap Alfian lalu melajukan mobilnya ke tempat meeting.
Sesampainya disana Kevin memasuki Cafe dengan menggunakan topi nya menemui Investor.
"Selamat siang." ucap Kevin ramah kepada investor luar negeri dengan bahasa inggris.
"Siang." jawabnya.
Setelah menjelaskan semuanya akhirnya Investor menyetujui mau bekerja sama dengannya.
"Kami sangat tertarik bekerja sama dengan anda." ucap Investor tersebut kepada Kevin.
"Terima kasih pak? karena sudah mau bekerja sama dengan perusahaan kami." ucap Kevin menundukkan kepalanya.
"Sama sama pak? Kita permisi dulu. Nanti semuanya akan diurus oleh asisten ku." ucapnya menjabat tangan Kevin dan Alfian bergantian.
"Mau kemana boss?" tanya Alfian kepada Kevin.
"Club. Antarkan aku kesana." perintah Kevin kepada asistennya.
"Mau ngapain Kevin pergi kesana." ucap Alfian dalam hatinya.
"Tapi boss. Jam segini belum buka." ucap Alfian.
"Ya udah. Antar aku mengelilingi kota ini sampai Club itu buka." ucap Kevin.
"Dia itu kenapa sih! hari ini aneh sekali. Tidak seperti biasanya." ucap Alfian dihatinya.
Akhirnya Alfian melajukan mobilnya mengelilingi kota itu hingga sore karena melihat wajah boss nya yang terlihat murung.
"Ini sudah sore boss. Mungkin club nya sudah buka." ucap Alfian memberi tau kepada bossnya.
"Kita kesana sekarang." ucap Kevin lalu menengok ke arah jendela mobilnya.
Sesampainya di club Kevin langsung memesan minuman.
"Boss. Kamu pesan minuman." ucap Alfian menahan minuman beralkohol yang mau diminumnya.
"Lepas." ucap Kevin menghempaskan tangan Alfian.
"Tapi boss." ucap Alfian dipotong oleh Kevin.
"Aku minta kamu diam." ucap Kevin meneguk minuman nya berulang ulang.
"Kevin. Sudahlah." ucap Alfian menghentikan karena Kevin terlalu cepat meminum minumannya tapi ia tak menghiraukan ucapan asistennya.
"Pergi sana." ucap Kevin mendorong Alfian dengan keadaan mulai mabuk karena Kevin tidak biasa minum dengan dosis yang tinggi.
"Aduh! kalau Tuan Fadly dan nyonya Sinta bisa gawat." ucap Alfian frustasi mondar mandir kesana kemari.
"Kamu duduklah. Saya akan mentraktir mu." ucap Kevin menyodorkan minumannya dijawab gelengan oleh Alfian.
"Nggak mau. Ya sudah." ucap Kevin meminum kembali minumannya Alfian mulai bingung harus berbuat apa boss nya sangat keras kepala.
Alfian menghentikan Waitress untuk tidak lagi memberikan minuman kepada bossnya karena Kevin sudah mulai tak sadarkan diri, Alfian langsung membawa Kevin keluar dari tempat itu walaupun Kevin terus memberontak.
"Hey! Lepaskan, aku bisa jalan sendiri." ucap Kevin mendorong tubuh asistennya dengan sempoyongan akan tetapi Alfian terus berusaha membawanya keluar dari tempat tersebut.
"Sadar Kevin. Kamu ini siapa? nanti kalo ada yang lihat kamu dalam keadaan seperti ini bagaimana?" ucap Alfian mendorongnya ke dalam mobil.
Kemudian Alfian melajukan mobilnya kerumah Kevin karena khawatir ia bisa berbuat aneh aneh nanti reputasi nya bisa hancur karna perbuatannya sendiri.
"Kamu tunggu disini dulu. Aku mau ambilkan kamu minum." ucap Alfian meletakkan tubuh Kevin ke sofa tiba tiba ia melihat Hana keluar dari kamar nya.
"Kamu. Kemarilah." panggil Kevin menujuk ke arah Hana akan tetapi ia tidak menjawabnya hanya terdiam didepan pintu kamar nya.
Kevin berdiri menghampirinya Hana mulai takut karena kata katanya tidak seperti biasanya.
"*D*ia Mabuk atau bagaimana?" ucap Hana didalam hatinya hendak kembali masuk ke kamar tetapi tangannya sudah ditahan oleh Kevin Hana semakin ketakutan berusaha meminta bantuan kepada orang lain.
"Tolong." suara Hana ketakutan karena jarak diantara mereka sangat dekat Kevin menghimpit tubuh Hana agar tidak bisa bergerak.
"Sayang kamu kenapa?"tanya Kevin membelai wajahnya sehingga membiat seluruh tubuh Hana gemetaran.
Kemudian Kevin langsung mencium bibir Hana tanpa persetujuan dari nya ia hanya bisa pasrah apa yang dilakukan oleh Kevin.
"Kevin. Apa yang kamu lakukan?" ucap Hana berusaha melepaskan diri.
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu sayang." ucap Kevin kembali mencium Hana hingga nafas Hana terengah engah karena Kevin melakukannya berulang ulang.
"Boss?" panggil Alfian datang membawa air putih ia meletakkan di meja berusaha melepaskan Kevin dari Hana.
Kemudian Kevin langsung menghempaskan tubuh Hana sehingga mengenai guci yang ada disebelah nya.
Pyarrrrrr.....!
Suara guci pecah terkena tubuh Hana hingga tangannya terluka mengeluarkan banyak darah.
"Aduh!" pekik Hana sembari menangis kesakitan dan memegang tangannya yang terkena pecahan guci.
"Hana?" ucap Alfian panik karena tangannya banyak mengeluarkan darah belum lagi ada pecahan guci yang menancap karena guci tersebut terbuat dari kaca.
"Keterlaluan kamu Vin?" ucap Alfian menghantam wajah Kevin biar dia sadar lalu menyiramkan air yang ada didalam gelas ke wajahnya.
"Bawa dia ke kamar nya." perintah Alfian kepada salah satu bodyguard.
"Panggil dokter untuk mengobati Hana?" perintah Alfian lagi.
•
•
•
Bersambung...