
Kevin keluar untuk memasak tapi ketika sampai di dapur Fadly sudah berada di sana.
"Papa?,sedang apa disini?" tanya Kevin menghampiri Papanya.
"Cuci baju. Ya masak lah! kamu nggak lihat ini Papa lagi ngupas bawang." jawab Fadly.
"Hmm, tumben aja gitu. Biasanya juga Papa nggak pernah masak, apalagi ke dapur." ucap Kevin duduk di kursi makan yang berada di dapur.
"Daripada santai di situ. Sini bantuin Papa?" ucap Fadly mengarahkan tangannya ke arahnya.
Ujung ujungnya Kevin juga yang memasak ia menggantikan posisi Fadly karena terlihat kaku memang tidak bisa memasak.
Setelah semuanya matang Kevin langsung ke atas untuk membangunkan Hana sedangkan Sinta sudah terlebih dahulu bangun.
"Sayang, kamu di sini. Siapa yang masak?" tanya Sinta menghampiri suaminya.
"Ya tentu." jawab Fadly di potong ucapan oleh Sinta.
"Papa? tumben banget. Bukannya kamu nggak bisa masak." ucap Sinta duduk di kursi makan.
"Kevin yang masak. Papa mana bisa." ucap Fadly membuat Sinta tersenyum.
"Pantas saja. Rasa masakan Ini, nggak asing, ehh! ternyata." ucap Sinta ia melihat sekelilingnya cuma mereka berdua saja.
"Kevin mana. Apa dia nggak makan, Hana juga." tanya Sinta celingukan.
"Tadi Kevin ke kamarnya. Mungkin sedang membangunkan Hana?" jawab Fadly mengarahkan kepalanya ke atas.
Hana masih tertidur pulas ia sampai tak merasakan kehadiran suaminya yang membangunkannya berkali kali.
"BABY. BABY, BABY, bangun yuk. Mama, Papa?, ngajakin kita makan malam bareng." panggil Kevin menggoyang goyangan bahunya dan Hana cuma sedikit menggerakkan tangannya.
"Ya ampun. Kebiasaan banget deh! tidur pulasnya kebangetan." ucap Kevin memegangi jidatnya.
Kevin menggelitiki kakinya dan terbukti Hana langsung terbangun.
"Akhirnya kamu bangun juga. Nggak baik tau tidur terlalu pulas, nanti kalau tiba tiba disekitar kamu ada bahaya bagaimana? ayo kita turun, makan malam dulu, kamu juga kan harus minum obat." bujuk Kevin.
"Mau apa sih! kamu nggak lihat ini jam berapa? sudah malam tau. Gangguin orang tidur aja." ucap Hana masih enggan turun ia masih betah dengan selimutnya.
"Belum juga jam dua belas. Kamu mau aku memakanmu, hmm." ucap Kevin dengan nada menggoda ia menindih tubuh Hana tangannya menyangga di sisi kanan kiri bahu istrinya.
Hana menahan dada Kevin ia langsung melepaskan diri dari suaminya dan segera beranjak turun.
"Oke. Tapi aku mau cuci muka dulu." ucap Hana tersenyum kaku ia segera berlari ke kamar mandi melihat ke arah suaminya yang masih di atas ranjang.
"Lima menit. Kalo sampai telat kamu tau sendiri akibatnya." teriak Kevin di balik pintu kamar mandi.
Hana di dalam kamar mandi terus menggerutu sembari mencuci mukanya.
"Dasar nyebelin. Nggak pengertian, apa apa ngancam, masih ngantuk banget lagi." gerutu Hana kesal.
Setelah lima menit Kevin kembali lagi ke depan kamar mandi ia menggedor pintu dengan kerasnya karena Hana tak keluar juga.
"BABY, sudah lima menit. Cepat keluar, kamu cuci muka apa cuci baju sih! lama banget." panggil Kevin terlalu bersemangat untuk mengetok pintu hingga mengenai dahi Hana.
"Sudah aku maafkan." ucap Hana.
Kevin terus menatapnya dengan wajah memelas agar Hana tak kesal lagi.
"Hei. Mau kemana? kita naik lift aja, capek tau harus turun tangga." ucap Kevin mencekal tangan Hana yang baru turun satu langkah.
"Kamu kan nggak pernah naik turun tangga. Lagi pula kamar kita kan cuma lantai tiga, bukan sampai lantai lima atau sepuluh." ucap Hana ia tetap berjalan menuruni tangga meninggalkan Kevin yang masih berada di atas.
Kevin memilih memakai lift ia tak mengikuti Hana karena ia paling malas kalau harus naik turun tangga.
"Hana. Kevin, kalian lama banget, menurut Mama, mereka aneh ya Pah? enggak kompak banget, tapi serasi" ucap Sinta melihat suaminya beralih menatap Kevin dan Hana yang baru saja turun dari tangga.
"Benar kata kamu Sayang. Kira kira kapan kita bisa menimang cucu dari mereka?" tanya Fadly melihat ke arah istrinya.
Bukan Sinta tapi Kevin yang menjawab pertanyaan dari Papanya.
"Secepatnya. Bukan begitu BABY, tinggal tunggu waktu saja." jawab Kevin tiba tiba merangkul pinggang Hana.
"Bagaimana bisa? aku saja berhubungan dengannya baru beberapa hari ini. Belum juga satu minggu, Kevin apaan sih! memberi harapan palsu aja, kalau aku punya anaknya masih lama, apa antinya itu tidak akan membuat mereka kecewa." ucap Hana dalam hatinya.
"Mama jadi terharu deh! melihat kemesraan kalian. So Sweet, semoga apa yang kita harapkan bisa terwujud." ucap Sinta.
"Amin." ucap Kevin, Hana, Fadly bersamaan.
Fadly menyuruh anak dan menantunya duduk untuk makan malam bersama tidak lupa Kevin membuatkan minuman kesukaan mereka termasuk dirinya.
Setelah semuanya selesai mereka memilih berkumpul di taman belakang bercanda ria.
"Hana, ceritakan ke Mama. Pertama kali kamu bertemu Kevin?" tanya Sinta membuat Hana dan Kevin menegang.
Hana sendiri bingung pasalnya ia dari awal pernikahan mereka hanya pura pura saja bukan karena saling mencintai begitu pun Kevin.
Awalnya Kevin juga menikah dengan Hana hanya karena paksaan dari orang tuanya dan ingin membalas dendam atas kematian ayah kandungnya karena berselingkuh dengan ayah Hana.
Kevin sudah tegang mendengar jawaban dari pertanyaan Mamanya.
Takutnya akan membuat Sinta sedih karena mengetahui kenyataan yang sesungguhnya.
"Hana. Kenapa diam saja, pasti awal pertemuan kalian tidak baik ya! Kevin memang seperti itu, dia terlalu galak sama perempuan, nggak tau apa penyebabnyam" ucap Sinta.
"Kita tau. Kalian ini tidak pernah pacaran kan." ucap Fadly berada di tengah tengah Hana dan Kevin merangkul bahu mereka masing masing.
"Apa itu alasan Papa agar kita segera menikah?" tanya Kevin.
"Yah! itu salah satunya. Kami cuma nggak mau kamu mendapatkan pasangan yang nggak baik, waktu itu Papa lihat Hana orang ramah, murah senyum, cantik, baik lagi, dia juga mandiri." jawab Fadly.
•
•
•
Bersambung