Seleb Intertainment

Seleb Intertainment
58. Keributan



Kevin mengangkat tubuh Hana ke kasur mengambil minyak angin tapi Hana masih tidak sadarkan diri.


"Hana. Biasanya kalo menyadarkan orang pingsan, harus dilonggarkan bajunya, tapi kan Hana belum ganti baju." ucap Kevin bimbang.


"Aku minta tolong mama saja." ucap Kevin berlari keluar kamar.


Kevin mencari keberadaan mama nya tapi tidak ada dikamar.


"Tuan Kevin. Apa ada yang bisa saya bantu." ucap pengurus Vila Kevin mencari orangtua nya kedepan Villa.


"Kamu lihat orang tuaku tidak. Dikamar tidak ada, kemana mereka." tanya Kevin.


"Tuan Fadly dan Nyonya Sinta pergi. Baru saja?" jawab pengurus Villa.


"Pergi. Kemana?" tanya Kevin lagi.


"Tadi bilangnya ada urusan penting. Mereka tidak bilang mau kemana." ucap pengurus Vila.


"Ya sudah kamu kembali bekerja. Nanti kalau ada asisten saya datang suruh dia langsung ke kamar saya." perintah Kevin.


"Baik Tuan." jawab pengurus Villa.


Kevin kembali masuk untuk melihat Hana ke kamarnya.


Sesampainya disana Kevin menghampiri Hana yang masih tidak sadarkan diri.


"Belum sadar juga. Kamu itu pingsan atau tidur sih!" ucap Kevin frustasi mengacak rambutnya kasar.


"Disaat seperti ini. Mereka malah pergi, nggak bilang lagi, Ini lagi ditelpon tidak nyambung semua." gerutu Kevin kesal melemparkan ponselnya ke kasur dan merebahkan tubuhnya disebelah Hana.


Tok...Tok...Tok.... suara pintu Kevin beranjak langsung membuka pintu kamarnya.


"Ada apa Kevin?" tanya Kwak Hyun dibelakangnya ada Alfian.


"Cepat. Kamu langsung periksa Hana, dia pingsan lagi." ucap Kevin kepalanya mengarah ke Hana.


"Hana. Dia ada disini juga." ucap Kwak Hyun menghampiri Hana yang masih tak sadarkan diri.


"Dia kenapa lagi?" tanya Kwak Hyun.


"Kenapa tanya sama saya. Kamu dokter kan, aneh." ucap Kevin sinis.


Kwak Hyun hanya geleng geleng kepala melihat ke arah Kevin.


"Ada apa menatapku seperti itu?" tanya Kevin.


"Baju Hana harus diganti. Dia punya anemia, mungkin terlalu kelelahan karena kemarin juga belum sembuh dari sakitnya." jawab Kwak Hyun.


"Anemia. Sejak kapan?" ucap Kevin dan Alfian bersamaan.


"Sudah dari lama." ucap Kwak Hyun.


"Apakah berbahaya?" tanya Kevin cemas.


"Untungnya bisa ditangani. Kamu tau sendiri kan luka dikepala nya belum seperti pulih." ucap Kwak Hyun.


"Kenapa kamu diam saja. Cepat periksa dia." perintah Kevin.


"Oke. Santai aja kali." ucap Kwak Hyun.


"Bagaimana? Hana belum sadar juga." tanya Kevin.


"Hana terlalu kelelahan jadi biarkan dia istirahat dulu." ucap Kwak Hyun selesai memeriksa Hana.


"Kamu bawa obatnya Hana." ucap Kwak Hyun menatap Kevin.


"Bawa. Sepertinya ada di mobil." ucap Kevin.


"Dari kemarin belum diminum juga." ujar Kwak Hyun.


"Al? Kamu ambilkan obat Hana dimobil." perintah Kevin.


"Oke boss." jawab Alfian.


"Kamu tinggal bilang aja sama pengurus Villa ini. Untuk menyiapkan kamar untukmu, bilang saja disuruh sama aku." ucap Kevin duduk di tepi kasur.


"Terima kasih Kevin. Oh iya, apa kamu sama Hana sudah menikah, kenapa kau tak mengundangku." ucap Kwak Hyun.


"Dari mana kamu tau?" tanya Kevin.


"Disini. Pakaian yang kalian pakai, tenang saja aku akan merahasiakan semuanya." ucap Kwak Hyun.


"Iya aku sama Hana sudah menikah." ucap Kevin.


"Sebenarnya aku tidak percaya. Kalian juga jarang akur." ucap Kwak Hyun.


"Ya itu karena kita saling cinta. Kalau sering bertengkar berarti berbeda dengan yang lain, Pasangan lain kelihatannya sih iya, Romantis tapi mereka tidak mencintai satu sama lain." ucap Kevin tak ingin Kwak Hyun mengetahui hubungan pernikahannya.


"Oh iya. Kalau bisa kamu gantikan baju Hana, kasihan bajunya terlalu ketat, takutnya nanti pernafasan nya terhambat." ucap Kwak Hyun sudah diluar kamar mereka.


"Aku." ucap Kevin menunjuk kearah dirinya.


"Kamu kan suaminya. Apa aku saja yang menggantikan bahunya?" tanya Kwak Hyun menggoda Kevin.


"Sudah sana pergi." usir Kevin langsung menutup pintu.


"Dasar pengantin baru. Pertama aja malu malu, selanjutnya nggak tau malu." ucap Kwak Hyun tersenyum kemudian pergi.


Sedangkan didalam Kevin mondar mandir kesana kemari ingin membuka baju Hana tapi lagi lagi ia urungkan karena takut terbangun.


"Bagaimana ini. Ya sudahlah aku ganti saja, nanti kalau dia tanya aku harus jawab apa?" ucap Kevin bingung dengan sangat terpaksa Kevin mulai membuka gaun yang Hana pakai dengan hati hati takutnya tiba tiba terbangun.


"Dia tidur atau pingsan sih. Dibuka bajunya saja tidak sadar juga." ucap Kevin menurunkan gaun Hana.


"Ternyata body dia bagus juga." ucap Kevin melihat Hana dari atas sampai bawah tanpa berkedip.


"Akan aku jadikan istriku selamanya. Tidak akan kubiarkan kamu pergi dariku." ucap Kevin memakaikan piyama berwarna pink ke Hana.


Ia sengaja agar Hana terkejut saat terbangun nanti karena Hana tak menyukai baju berwarna pink baginya sangat mencolok.


Kevin tersenyum setelah selesai memakaikan baju Hana.


"Cantik bukan. Piyama ini kamu pasti suka." ucap Kevin menahan tawanya kemudian beranjak keluar mencari asistennya.


"Al? Alfian?" panggil Kevin menuruni tangga.


"Dia ambil nya dimana? diluar kota. Lama banget." gumam Kevin tiba tiba ia mendengar keributan dari luar.


"Siapa sih berisik banget?" ucap Kevin menghampiri asal suara.


"Apa yang kalian lakukan?" teriak Kevin melihat Alfian dan Kwak Hyun berantem sampai lebam.


Bukkk..... "Boss." satu pukulan mendarat ke wajah Alfian saat ia lengah.


"Kurang ajak kamu ya?" ucap Alfian mau memukul Kwak Hyun tapi tangannya dicekal oleh Kevin.


"Kalau mau berantem jangan disini. Ini Villa bukan Sirkuit." ucap Kevin menggema disana hingga para penjaga menoleh kearah mereka.


"Maaf boss. Tapi dia." ucap Alfian.


"Mana obatnya." pinta Kevin menyodorkan tangannya.


"Kamu membuangnya." ucap Kevin melihat obat Hana berceceran di lantai.


"Tidak boss. Dia yang menyenggol aku keras hingga obat yang ada di tangan aku jatuh semua." ucap Alfian.


"Saya nggak mau tau. Dalam waktu sepuluh menit Kalian harus cari obat yang sama seperti ini, jika tidak tau sendiri akibatnya." perintah Kevin kemudian pergi meninggalkan mereka.





*Bersambung*