
Hampir satu jam lamanya Hana belum keluar dari kamar mandi ia masih saja berdiam diri disana.
"BABY. Sedang apa kamu didalam, sudah hampir satu jam ada disana, BABY?" panggil Kevin dari luar kamar mandi.
"Mandi." jawab Hana malas.
"Lama banget. Cepat keluar, setelah itu kita turun." ucap Kevin.
Hana keluar dengan muka lesu tak bersemangat menatap Kevin malas ia malah berbaring di kasur menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
"BABY. Kenapa tidur lagi, apa kamu tidak lapar?" tanya Kevin menarik selimut yang menutupi Hana.
"Tidak. Sudah kenyang." jawab Hana menarik kembali selimutnya.
"Kenyang makan apa? dari kemarin kamu aja belum makan sama sekali." ucap Kevin.
"Itu juga gara gara kamu. Aku ngantuk, badanku sakit semua terasa seperti dipukuli orang satu desa." ucap Hana dengan mata terpejam.
Kevin menggulung tubuh Hana dengan selimut seperti bayi yang sedang dibedong saja hanya terlihat kepalanya.
"Hei. Apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Hana menggerakkan tubuhnya tapi susah.
"Makan." jawab Kevin.
"Ya sudah sana. Kenapa masih disini, lepaskan aku dulu, sebelum kamu pergi, apa kamu tidak kerja?" ucap Hana.
"Kerja apa? Kamu lihat ini." ucap Kevin membuka tirai jendela sampai membuat Hana silau sekaligus kaget.
Hana melihat ke arah jendela ia sekarang berada di sebuah hotel pemandangan di luar terdapat hamparan salju.
"Wah! Salju. Kita sebenarnya ada dimana? My Prince, Aku mau kesana." ucap Hana menggulingkan badannya hingga membuat Hana terjatuh ke bawah.
"Perasaan tadi aku jatuh. Tapi kenapa tidak terasa sakit?" ucap Hana membuka matanya ternyata ia berada di pangkuan Kevin.
"Bukan kamu yang sakit. Tapi lututku." ucap Kevin membuat Hana tersenyum dan segera berdiri.
"Hee...Hee. Maaf, Aku terlalu terburu-buru, dimana yang sakit?" ucap Hana berjongkok mengusap paha Kevin.
"Ceroboh. Sakit banget ini, aduh! aku tidak bisa berdiri rasanya sangat kaku." ucap Kevin kesakitan.
Sedangkan Hana merasa bersalah gara gara dia membuat suaminya kesakitan ia sendiri panik segera membantu Kevin berdiri tapi sangat berat.
"Maafkan aku. Apa ini sakit banget, biar aku pijitin kamu yah!" ucap Hana mengusap paha Kevin lagi.
"Kamu mau menggodaku atau memijit sih! bukan disitu yang sakit." ucap Kevin membuat Hana semakin bingung harus apa.
"Ya terus dimana yang sakit. Aku tidak tau." ucap Hana ia malah mondar mandir kesana kemari.
"Sini aku tunjukan. Pusing aku lihat kamu mondar mandir gak jelas." ucap Kevin meraih tangan Hana ditempatkan ke dadanya.
"Bukannya yang sakit lututmu. Kenapa jadi disini, aaah! Kamu membohongiku." ucap Hana melihat raut wajah Kevin yang tersenyum.
"Haa...Haa...Haa. Wajahmu itu sangat lucu kalau lagi panik, hal seperti tadi tidak akan membuatku sakit, aku ini kan laki laki sudah seharusnya melindungi wanita." ucap Kevin mendapatkan cubitan keras dari Hana.
"Rasain tuh. Apa sakit aau mau aku tambah lagi, kamu laki laki kan." ucap Hana semakin mengeraskan cubitannya.
"A-aaah, lepaskan tanganmu. Ini sakit tau, tuh! kan sampai merah kulitku, kejam banget kamu jadi istri." ucap Kevin menjauhkan tangan Hana darinya.
"Kamu lebih kejam. Istri sendiri kamu culik." ucap Hana berjalan ke arah pintu memegang handle tapi tidak bisa dibuka kuncinya pun tak ada.
"Bohong banget. Kalau begitu tadi kamu keluar pakai apa? menghilang gitu." ucap Hana menghampiri Kevin ia meraga raga saku baju yang dipakai Kevin tapi tak ada.
"Dimana kamu sembunyikan. Berikan kuncinya padaku." tanya Hana mengulurkan tangannya ke depan Kevin.
"Disini. Kamu ambil aja sendiri, ayo ambil." ucap Kevin mengarah junior miliknya.
Hana dibuat gugup olehnya, mana mungkin ia melakukannya walaupun suaminya Hana tak berani bertingkah berlebihan yang bisa merusak harga dirinya sendiri.
"Heeeey. Kamu mau kemana?" tanya Kevin.
Hana keluar ke membuka pintu balkon mengarahkan tangannya ke depan ia memegang salju senyumannya mengembang.
"Ini sangat dingin. Kamu bisa beku kalau pakaiannya seperti itu." ucap Kevin melampirkan jaket tebal ke tubuh Hana.
Hana hanya memakai pakaian kaos polos dan celana jin pendek saja yang awalnya ia memang tidak tau dimana sekarang ia berada.
"Sebenarnya sekarang kita ada di negara apa?" tanya Hana yang ia lihat disekitarnya banyak penginapan juga hotel dan pepohonan dengan hamparan salju.
"Nanti kamu akan tau sendiri. Sekarang kita turun dulu, simpan tenagamu buat nanti malam." jawab Kevin memeluk Hana dari belakang.
"Memangnya kita mau kemana?" tanya Hana.
"Kemana lagi. Kita bertarung lagi." goda Kevin ia perutnya disikut oleh lengan Hana.
"Nggak mau. Pagi tadi kamu sudah buat badan aku remuk semua, kamu mau istrimu pingsan, ini namanya enak di kamu nggak enak di aku." ucap Hana kesal.
"Kamu kan tinggal menikmatinya. Sedangkan aku yang bermain, bagaimana kalau kita gantian saja, tukar posisi gitu." ucap Kevin.
"Banyak alasan. Dimana mana otak lelaki itu mesum seperti contohnya ya kamu." ucap Hana.
"Itu tergantung. Aku cuma mesum sama istriku sendiri apa itu salah, nggak kan." ucap Kevin.
"Iya. Terserah kamu deh! ayo cepat perutku sudah lapar." ajak Hana menarik tangan Kevin ke pintu keluar.
Sampai di ruang makan mereka langsung disambut oleh para pelayan yang sudah Kevin siapkan sendiri di penginapan mereka.
Semuanya wanita itupun masih muda pastinya cantik cantik dan tinggi, putih, langsing juga.
Hana yang melihatnya merasa minder ia melihat ke dirinya sendiri kemudian menatap Kevin yang sedang makan dengan lahapnya.
"BABY. Kenapa makanannya tidak dimakan, apa nggak enak, atau biar aku masakan untukmu." tanya Kevin menenggol tangannya.
"Suka. Ini enak, aku sudah kenyang." jawab Hana tersenyum.
Kevin tau sedari tadi Hana melihat ke arah para pelayan ia berdiri memeluk Hana dari belakang kemudian mengecup bibir Hana di hadapan para pelayan.
Hana dibuat malu olehnya tapi ia malah senang melihat perlakuan Kevin yang mengerti perasaannya.
•
•
•
BERSAMBUNG