
"Si Lee. dia juga ikut." ucap Kevin.
"Ya pasti. Kamu antarkan aku ke rumahnya." ucap Hana.
"Tapi kan. Orang tuaku nyuruh kita menginap disini." ucap Kevin.
"Kalo kalian masih ada urusan. Nanti sore kesini lagi nggak papa." timpal Sinta dari belakang mereka.
"Mamah. Sejak kapan ada disini?" tanya Kevin.
"Baru saja." jawab Sinta.
"Kita harus pergi. Hana juga ada reuni, Kevin juga masih ada urusan di luar." ucap Kevin.
"Tapi nanti sore bener ya! kalian datang kesini lagi." ucap Sinta mewanti wanti.
"Iya Mah? Papa dimana?" tanya Kevin tidak melihat Fadly di ruang tamu.
"Ooh! ke kantor sama Alfian." jawab Sinta.
"Aku juga ada urusan sama Alfian. Nampaknya dia menyembunyikan sesuatu dariku." batin Kevin.
"Kalau begitu. Kita pergi dulu." pamit Hana meraih tangan Sinta lalu menciumnya.
"Hana. Ayo cepat." panggil Kevin terlebih dahulu pergi tanpa pamit kepada orang tua nya.
"Iya." ucap Hana.
"Hana permisi dulu mama. Sampai jumpa nanti sore." ucap Hana melambaikan tangan berlari mengejar Kevin.
"Anak itu tidak ada sopan santun sama sekali." ucap Sinta melihat Kevin dan Hana sudah memasuki mobil.
"Buru buru banget. Perasaan aku yang ada urusan, kenapa kamu jadi ikutan?" ucap Hana.
"Kebiasaan deh! itu belum dipasang." ucap Kevin melihat Hana belum memasang sabuk pengaman.
"Belum kali. Baru juga mau dipasang." ucap Hana tak suka.
"Bisa tidak. Kamu jadi wanita anggun, lemah lembut, judes banget." celetuk Kevin.
"Itulah diriku. Bukan mereka wanita di luar sana, jadi kamu jangan samakan aku dengan yang lainnya." ucap Hana cemberut.
"Iya deh! Kamu itu berbeda." ujar Kevin.
"Apa yang berbeda?" tanya Hana.
"Kelakuan kamu yang aneh seperti preman." ucap Kevin.
"Terima kasih atas pujian nya. Aku begitu tersanjung." ucap Hana dengan senyum terpaksa.
"Gitu aja marah. Iya deh! kamu wanita tercantik di dunia." ucap Kevin menyentuh bahu Hana dengan jari telunjuk nya.
Hana merasa kesal menepis tangan Kevin yang menyentuhnya dengan jari telunjuk nya berkali kali.
"Kevin?" teriak Hana keras hingga orang disekitarnya mendengarnya dengan segera Kevin langsung menutup mulut Hana dengan kedua tangannya.
"Suaramu itu keras. Nanti kalo Mama dengar bisa gawat, taunya aku apakan kamu." ucap Kevin membulatkan matanya sedangkan Hana berusaha melepaskan tangan Kevin darinya.
Kevin melihat kedatangan mamanya langsung melepaskan tangannya dan segera menancap gas pergi dari sana.
"Apa yang terjadi pak?" tanya Sinta kepada kepala penjaga di depan gerbang.
"Sepertinya suaranya dari dalam mobil Tuan Kevin." jawab Kepala penjaga.
"Apa yang terjadi pada mereka?" tanya Sinta.
"Mungkin mereka sedang bercanda. Setelah Nyonya datang mereka pergi" jawab Kepala penjaga.
"Ya sudah kamu lanjutkan pekerjaamu." perintah Sinta.
"Baik Nyonya." jawab Kepala penjaga itu.
Sementara didalam mobil Hana sedari tadi menahan nafasnya gara gara Kevin membekap mulut dan hidung nya jadi terhambat pernafasan nya.
"Kamu mau membunuhku." ucap Hana menatap Kevin tajam.
"Sorry. Itu karena kamu, kita hampir saja ketahuan sama mama." ucap Kevin tak merasa bersalah sama sekali.
Hana mengatur kembali nafasnya dengan mengambil nafas dari hidung dikeluarkan dari mulut berulang kali.
"Mau lahiran kamu." ejek Kevin menahan tawanya.
"Ihhh! Malah mengejek. Ini semua juga gara gara kamu." ucap Hana kesal mencubit lengan Kevin keras.
"Aduh Hana. Sakit tau." pekik Kevin kesakitan lengan nya di cubit begitu keras hingga memerah.
"Gitu aja sakit. Laki laki kok lembek." ucap Hana.
"Saya ini lelaki sejati." ucap Kevin tak terima.
"Hmm. Masa." ucap Hana menyeringai memutar bola matanya malas.
"Kamu di baik kin. Lama lama ngelunjak ya?" ucap Kevin.
"Terserah kamu aja deh! Pusing ngomong sama kamu, nggak kelar juga sampai ke ujung dunia." ucap Hana memilih memalingkan muka.
"Kamu mau kemana. Rumah Lee atau langsung ke tempat kamu reuni." seru Kevin mengganti topik pembicaraan.
"Kerumah Tae Yeong aja." jawab Hana kini fokus bermain handphone.
"Kita sudah sampai. Apa mau antar kamu samapai dalam?" tanya Kevin.
"Bercanda ya kamu. Kita aja baru sepuluh menit dari rumahmu." jawab Hana masih focus dengan ponselnya.
"Apa kamu tidak lihat. Rumah siapa itu, lupa atau sudah pikun." ucap Kevin menolehkan kepala Hana ke rumah Lee Tae Yeong.
"Apa itu rumah Tae Yeong. He..He...! Iya benar." ucap Hana menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Huuu! Lihat apa sih kamu?" ucap Kevin merebut ponsel Hana.
"Kembalikan itu punyaku." ucap Hana ingin merebut dari Kevin.
"Siapa laki laki ini. Pacar kamu, Ingat sebentar lagi kita mau menikah." ucap Kevin memperingati.
"Bukan siapa siapa. Hanya teman, apa aku tidak boleh punya teman laki laki?" tanya Hana merebut ponselnya.
"Boleh. Kenapa di kontak kamu laki laki semua?" ucap Kevin malah bertanya.
"Emang tidak boleh apa. Teman temanku kebanyakan lelaki dan pastinya tampan semua." ucap Hana.
"Nanti jam tiga sore aku jemput kamu." ucap Kevin.
"Jam tiga. Apa tidak terlalu cepat. Belum mandi, make up terus." ucap Hana.
"Apalagi. Saya tidak mau tau, jam tiga sore sudah siap, NGGAK ADA ALASAN APAPUN." ucap Kevin menekan.
"Iya dasar cerewet." ucap Hana membuka pintu mobil kemudian lari ke dalam rumah Lee Tae Yeong.
"What? Awas aja nanti kalo sudah menikah. Apa nanti kamu masih bisa membantah ucapanku." ucap Kevin tersenyum penuh arti.
Ketika Hana memasuki rumah Lee Tae Yeong sudah ada didepan pintu menatap Hana dari atas sampai bawah.
"Tae Yeong? Aku kira siapa?" ucap Hana mengusap dadanya.
"Dari mana kamu? pakai gaun seperti ini. Ada pesta." tanya Lee Tae Yeong.
"Iya." jawab Hana singkat.
"Kamu mau apa? Masuk rumah orang bukannya permisi sama tuan rumah. Pergi tidak bilang sekarang balik lagi." ucap Lee Tae Yeong kesal.
"Permisi Tuan Lee. Boleh saya masuk." ucap Hana sangat halus dan sopan.
"Silahkan masuk. Nona?" balas Lee Tae Yeong menahan kesalnya.
BERSAMBUNG