
"Eits... " Main pergi aja." ucap Kevin ia menarik tangan Hana yang ingin keluar.
"Oh iya" ucap Hana bersalaman dengan Kevin kemudian mengecup bibir Kevin dan kedua pipinya.
"Bye...?, Aku masuk dulu. Kalau kamu masih ada urusan, nanti biar aku pulang sendiri aja atau sama Doni?" ucap Hana menutup pintu mobil.
"Tidak. Biar aku saja yang jemput, kabarin aku kalau kamu mau pulang." ucap Kevin.
"Baiklah. Hati hati dijalan, jangan ngebut." teriak Hana dibalas lambaian tangan Kevin.
Hana memasuki Cafe ia disambut para karyawan laki laki dan juga perempuan dengan ramah.
"Selamat pagi Nona." sapa Tomi manajer cafe milik Hana.
"Pagi Tomi?" ucap Hana tersenyum.
"Oh iya. Sebentar lagi Doni datang bersama temannya, suruh dia langsung keatas saja." titah Hana menoleh kearah Tomi.
"Baik Nona. Apa anda mau saya buatkan makanan atau minuman?" tanya Tomi.
"Hmm?, jus stroberi saja. Saya sudah makan tadi dirumah." jawab Hana.
"Siap Nona. Tunggu sebentar." ucap Tomi beranjak pergi.
Hana melangkahkan kakinya ke lift menuju ke Ruftop Cafe ia melihat ponselnya mendapati sebuah pesan dari Kevin.
Kevin: BABY. Hati hati.
isi pesan dari Kevin.
Hana: Buat apa? Seharusnya aku yang bilang seperti itu sama kamu.
balas Hana.
Kevin: Jangan terlalu dekat dengan laki laki lain selain aku.
Hana: Nanti aku usahakan.
balas Hana.
Kevin: Teman kamu laki laki atau perempuan
tak ada lagi balasan dari Hana karena ponselnya tidak aktif.
Hana merubah desain Rooftop sebelah kiri ia memilih tema outdoor.
Sedangkan disebelah kanan ia desain seperti rumah rumah beratap semi transparan didalamnya juga ada sofa dan meja yang sangat nyaman untuk sekedar bersantai.
***
Ditempat lain Kevin bertemu dengan perempuan di Cafe yang berusaha menggodanya dengan duduk dipangkuanya kemudian merangkul leher Kevin.
Sofia juga berpakaian serba terbuka entah dibagian atas dengan belahan dada karena kemeja yang dikenakan sengaja ia melepas kancing.
Sedangkan bawahannya hanya memakai rok ketat diatas lutut dan dalaman yang ia pakai sengaja diperlihatkan kepada Kevin.
"Sayang. Apa kamu tidak cinta lagi sama aku." tanya perempuan itu bernama Sofia Smith.
"Apa mau kamu. Jangan pernah sentuh saya lagi." ucap Kevin mendorong Sofia sampai jatuh ke lantai untung saja disana sangat sepi jadi tidak ada yang melihat mereka.
"Tega banget kamu sayang. Apa kita tidak bisa balikan, Aku masih sayang sama kamu." rengek Sofia.
"Kamu pikir aku mau. Asal kamu tau, saya sudah punya pacar, dan dia jauh lebih cantik dari kamu, oh iya, Ini kan yang kamu mau." ucap Kevin menunjuk ke wajah Sofia kemudian melemparkan uang ke arahnya.
"Bukan ini yang aku mau. Sayang tunggu." panggil Sofia mengejar Kevin yang sudah pergi meninggalkannya.
Kevin mengingat momen disaat bersama Sofia waktu pacaran dulu ia di dikhianati oleh sahabat yang sudah dianggap sebagai kakak sendiri.
Saat itu Kevin memergoki Sofia dan sahabatnya dulu berada di Apartemen miliknya yang ia berikan pada Sofia.
"Cihh..?, Dasar wanita tidak tau diri. Bodoh banget, kenapa aku dulu pernah mencintai wanita seperti itu, beda banget dengan Hana." umpat Kevin memukul stirnya.
Awalnya Kevin kesana ingin bertemu dengan Gino tapi tak disangka malah tak sengaja bertemu dengan mantan pacarnya membuat suasana hati terasa panas apalagi melihat wajahnya Kevin sangat muak.
Tiba tiba saja langit mendung dan suasana mulanya terang menjadi gelap Kevin melihat kilatan petir dari arah kejauhan ia dengan cepat melajukan mobilnya menuju ke Cafe menjemput Hana.
Hal yang tak Kevin harapkan terjadi hujan turun bersamaan dengan suara guntur yang menggelegar di telinganya membuatnya memberhentikan mobilnya di tepi jalan.
"Aduh. Kenapa pakai acara hujan coba, Hana pasti sudah menungguku." ucap Kevin melihat ke arah kaca mobilnya terlihat dari kejauhan kilatan petir yang membuatnya merasa deg degan dan lemas disaat ia melihatnya.
Rasa takut yang Kevin yang karena ia trauma di masa kecilnya masih sekarang bahkan tidak bisa dihilangkan.
Setiap hujan turun apalagi ada suara guntur beserta kilatan petir membuat tubuhnya panas dingin apalagi kalau ia sendian tidak ada orang di sampingnya untuk memenangkan dirinya.
Ponsel Kevin bergetar ia mengambilnya dengan tangannya yang gemetaran.
~>> [[ My Prince. Kamu dimana?, Katanya mau jemput, Ini sudah hampir sore lho! Dari tadi ponselmu kenapa tidak aktif, aku nungguin kamu sampai jamuran nih! ]] berondong Hana dengan nada kesal.
Sedangkan Kevin hanya bisa diam karena tiba tiba saja pandangan matanya buram kepalanya pusing ia hanya bersandar di kursi mobil.
"Perasaan nyambung. My Prince, Kamu dengar aku tidak." ucap Hana ia masih belum ada jawaban dari Kevin.
Tiba tiba saja baterai Hana habis ia buru buru ke dalam untuk charger handphone nya.
"Ada apa Nona?" tanya Tomi melihat Hana berjalan sambil berlari dengan terburu-buru.
"Apa kamu punya power bank." tanya Hana pada Tomi.
"Punya Nona. Sebentar saya ambilkan." ucap Tomi.
Hana mondar mandir kesana kemari menunggu Tomi.
"Ini Nona?" ucap Tomi memberikan power bank pada Hana.
"Thanks?" ucap Hana.
Hana segera menghidupkan ponselnya ia kembali menelpon Kevin.
"Tidak diangkat lagi. Sebenarnya Kevin ada dimana? kalau pergi nggak pernah bilang mau kemana dengan siapa?" gerutu Hana kesal berulang kali panggilan tidak dijawab.
"Oh iya. Mobil itu kan ada GPS." ucap Hana mengecek lokasi mobil yang ditumpangi Kevin ia sebelumnya memang sengaja memasang GPS untuk sekedar berjaga jaga saja.
"Lho! Kevin dekat sekitar sini. Apa mobilnya mogok, Ahh! Tidak mungkin." ucap Hana ia mengambil jas hujan dan payung yang ada di dalam Cafe.
"Nona Hana mau kemana? Biar saya antar." ucap Tomi mengejar Hana yang sudah ada di depan halaman.
"Tidak usah. Saya sendiri saja." tolak Hana.
"Diluar bahaya Nona. Sedang hujan lebat." ucap Tomi.
"Ya sudah. Antar aku ke gang sana, dekat kok dari sini." ucap Hana dijawab anggukan dari Tomi.
•
•
•
**BERSAMBUNG**