Seleb Intertainment

Seleb Intertainment
167. Sebuah Mimpi



Hana terbangun mendengar suara rintihan suaminya ia segera membangunkan nya, akan tetapi Kevin tetaplah tenggelam dalam mimpinya.


"My Prince. Ada apa denganmu? bangunlah, jangan membuatku khawatir." panggil Hana menepuk pipi suaminya beberapa kali tapi tak ada reaksi apapun.


Keringat membasahi wajah suaminya, Hana semakin khawatir di buatnya, ia mengusap nya dengan sapu tangan, juga mengompres dahi Kevin menggunakan air hangat.


*****


Di dalam mimpinya Kevin di ingatkan kembali pada ibu kandungnya.


"Ibu. Ku mohon jangan tinggalkan aku." teriak Kevin waktu itu ia belum mempunyai nama.


"Berhenti memanggilku ibu. Mulai sekarang kau bukan siapa siapa ku lagi, stop! mencariku, pergilah dariku." ujar ibunya mendorong tubuh Kevin yang terseret kakinya kemudian pergi meninggalkan nya tanpa peduli teriakan dari anaknya.


"Ibu. Kenapa kamu sangat membenciku? apa salahku? aku telah menuruti semua ucapanmu." teriak Kevin lagi sembari menangis.


"Melahirkanmu ke dunia ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Kau tau kenapa saya tidak memberimu nama?" ujar ibunya kembali menghampiri anaknya.


Kevin menggeleng pelan. "Bagaimana dengan ayahku? dimana dia? dimana aku harus mencarinya?" ujarnya di sela sela tangisnya.


"Kau cari saja sendiri. Suatu saat nanti kau akan bertemu dengannya, semoga dia mengenalimu." ujar ibunya tersenyum menyeringai setelah itu pergi meninggalkan nya tanpa rasa bersalah.


*****


"Ibu?" teriak Kevin terbangun dengan nafas terengah engah.


"My Prince." ucap Hana memberikan air putih ke suaminya.


Kevin memeluk istrinya erat ia menangis di pelukannya.


"Apa sekarang kamu sudah lebih baik?" ucap Hana di angguki Kevin.


"Maaf. Tidurmu jadi terganggu." ucap Kevin menunduk.


Hana menggeleng kepalanya. "Sebenarnya kamu mimpi apa? sampai seperti ini. Aku dengar tadi kamu memangil manggil ibu." tanya nya mengusap air mata Kevin.


"Dia hadir dalam mimpiku. Mungkin karena akhir akhir aku sering memimpikan nya." ucap Kevin.


"Bagaimanapun Kevin anak kandungnya. Apa aku beritahu yang sebenarnya? sekarang ibunya sedang koma di rumah sakit, aku tidak mau dia menyesal, seperti yang ku rasakan pada mendiang Ayah, setidaknya aku ada disaat saat terakhir nya, aku hanya bertemu sebentar sebelum dia pergi." batin Hana tak terasa air matanya terjatuh.


"BABY. Aku baik baik saja, kamu jangan nangis begitu dong! a-apa soal kemarin, a-aku akan selalu bersamamu baik susah maupun senang." ucap Kevin berbalik mengusap air mata istrinya.


"Don't worry im fine. Tadi aku mengambil wadah buat mengompres kamu, mataku gak sengaja kena debu." ucap Hana berbohong.


"Hey! BABY. Berapa lama kita saling mengenal?" tanya Kevin.


Hana menghitung jari. "Hmm...! tiga tahun. Masa kamu lupa, belum lama ini kita merayakan anniversary pernikahan." ujarnya.


"Bukan itu maksudku. BABY, apa kamu belum mengingatnya? amnesia kenapa lama sekali." Kevin menggerutu sendiri.


Dengan muka polosnya Hana menggeleng tak mengerti. "Ooh! iya. Aku pernah amnesia, sebagian ingatanku hilang, tapi apa sebelumnya kita pernah bertemu atau mungkin saling mengenal." ujarnya penasaran ia berusaha mengingat ingat kejadian sempat dilewatkan sewaktu kecil.


Kevin mengacak acak rambut istrinya gemas ia mengambil sesuatu di laci lemari nya.


"Buka saja." pinta Kevin memberikan sebuah album foto ke Hana.


"Tampan sekali. Ini kamu kan, masih kecil saja sudah terlihat angkuh, pantas kak Tae Yeong selalu memanggilmu sebutan itu." ujar Hana.


"Kamu itu memuji atau mengejekku. Wajahku memang begitu, tampan bukan." ucap Kevin duduk di sebelah istrinya.


Tangannya terhenti ketika Hana melihat sebuah foto perempuan wajahnya mirip dengan nya.


"Ini siapa? temanmu." tanya Hana menatap mata suaminya.


"Bukan." jawabnya singkat.


"Lalu siapa? sahabatmu. Cinta monyet kamu." tanya Hana lagi masih penasaran.


"Dia cinta pertamaku." ucap Kevin.


"Benarkah. Cantik juga, dimana dia sekarang? masih hidup kah." Hana sedikit meninggikan suaranya.


Haa...Haa...Haa... "Kamu mau tau dia itu siapa? orangnya ada disini di sampingku. Iya kamu." ujar Kevin di sela sela tawanya.


"Kamu pasti berbohong. Mana mungkin itu aku, orang jelas wajah kita itu, sama sih! mirip, tapi kenapa aku gak bisa mengingat apapun." ucap Hana menggaruk rambutnya yang tak gatal.


"Terserah kalau kamu mau percaya atau tidak. Tapi aku sama sekali tidak berbohong." ujar Kevin kesal ia berbaring memejamkan mata.


"Lho! kamu mau apa? aku juga mengantuk mau tidur. Geser sedikit, ini terlalu sempit." Hana ikut berbaring di samping suaminya.


"Good Night. BABY." ucap Kevin, Hana sudah tertidur padahal baru beberapa menit yang lalu mereka berbincang.


"Baru juga nempel bantal." gumam Kevin memeluk wanita di sampingnya layaknya guling.


"My Prince. Bisa di longgarkan lagi tidak." pinta Hana kesempitan.


"Tidurlah. Jangan kebanyakan protes, atau aku akan membuatmu tidak bisa tidur sampai pagi." bisik Kevin terdengar merinding di telinga Hana.


"Bagaimana aku bisa tidur. Panas sekali rasanya malam ini, apa AC di kamar mati, jauh lagi, aku tidak bisa mengambilnya." batin Hana meraba remot di nakas namun tangannya tak sampai.


"Berhentilah berbicara. Pejamkan matamu, kamu jika tidak mau malam ini semakin panas." bisik Kevin lagi ia sedikit melirik istrinya yang terus bergerak juga gelisah.


"Aku benar benar tidak bisa tidur. Perutku sangat lapar." batin Hana lagi ia melirik suaminya sudah tertidur lelap baru ia mindik mindik keluar kamar.


"BABY. Aku mencintaimu." langkah kaki Hana terhenti ia mengibas ngibaskan tangannya di depan wajah Kevin.


"Sejak kapan Kevin mengigau. Aku juga mencintaimu." lirih Hana memberi luv ke suaminya sebelum pergi.


Di dapur Hana bolak balik membuka kulkas, didalamnya banyak bahan makanan ia bingung harus masak, dengan kondisi tangannya di perban.


"Banyak sekali sayuran. Apa aku makan salad saja kali, aah! tapi aku bukan kambing." gumam Hana menggigit kuku jarinya bimbang, padahal didalam kulkas banyak bahan makanan juga buah buahan.


"Butuh bantuanku." seru seseorang mengagetkan Hana ia sampai tersedak saat minum, untuknya gelas yang ia pegang tidak sampai jatuh.


Uhukk....


BERSAMBUNG