Seleb Intertainment

Seleb Intertainment
54. Jujur



"Kamu ini bodoh. Apa pura pura tak mengerti apa yang ku maksud? Hmm?" tanya Kevin.


"Memang aku tidak tau." jawab Hana.


"Kamu pemilik Cafe yang populer di negara ini kan." ucap Kevin.


"Cafe apa?" ucap Hana seakan tak mengerti.


"Aku tadi perempuan mirip denganmu. Ada di Cafe tempat aku meeting Rooftop dan anehnya baju yang dikenakan juga sama seperti kamu, dan anehnya lagi pelayan Cafe sangat menghormatinya memanggil dengan nama Nona Hana?" ucap Kevin membuat Hana terpaksa jujur padanya.


"Iya itu aku. Puas?" ucap Hana memejamkan mata.


"Anak manis. Akhirnya kamu ngaku juga, kebohongan apalagi yang kamu sembunyikan." ucap Kevin mendekati Hana sehingga jarak mereka hanya beberapa centi saja.


Hana merasakan hembusan nafas Kevin yang sangat dekat ia membuka matanya kaget melihat Kevin kini berada didepan wajahnya membulatkan matanya dan menutup mulutnya.


"Hey! Jangan terlalu dekat. Kamu tidak lihat itu semua orang yang ada di sini melihat ke arah kita, Malu tau." ucap Hana menyandarkan kepalanya di kursi dan Kevin malah semakin mendekat.


"Emang kenapa? tidak boleh. Ini sudah sore sebaiknya kita ke rumah orang tuaku, mereka pasti sudah menunggu kita." ucap Kevin.


"Aku mau ganti baju dulu." ucap Hana mendorong tubuh Kevin.


Segera Hana ingin beranjak bangun dan ingin berlari tapi mau terjatuh dengan cepat Kevin menangkapnya.


"Berdiri aja susah. Pake sok mau jalan, lari lagi." ucap Kevin mengangkat tubuh Hana.


Hana reflek langsung mengalungkan tangannya ke leher Kevin.


"Shuttt?, Jangan teriak. Banyak orang disini, nanti salah satu dari mereka ada yang mengenaliku." Kevin menatap Hana tajam.


Hana yang tadinya mau berteriak nggak jadi karena Kevin menatapnya.


"Kita mau kemana?" tanya Hana bingung kini berada didepan mobil Kevin.


"Kemana lagi kalau bukan kerumah orang tuaku." jawab Kevin.


"Tapi aku mau ganti baju dulu. Nggak mungkin pake pakaian seperti ini." ucap Hana.


Kevin sudah menempatkan Hana ke kursi mobilnya dan memasang Seat belt.


"Diam. Jangan pergi kemana mana? saya akan mengurus administrasi dulum" ucap Kevin menutup pintu mobil.


"Kevin?" panggil Hana kesal menghentak hentakan kakinya.


Beberapa saat kemudian Kevin datang langsung menancap gas.


Hana sama sekali tak melihat Kevin ia memalingkan mukanya ke jendela.


Kevin melihatnya hanya tersenyum dan mengambil tas yang ada di kursi belakang diberikan ke Hana.


"Kamu nggak mau. Ini tas kamu, kamu tenang aja isinya masih lengkap." ucap Kevin.


Hana menoleh dan menerima tasnya.


"Mobil aku mana?" tanya Hana.


"Ada di rumah aku." jawab Kevin fokus menyetir.


"Kok bisa. Tadi kan ada dijalan." ucap Hana.


"Saya sudah menyuruh orang untuk mengantarkannya ke rumah." ucap Kevin.


"Kita mau kesana. Tapi bagaimana dengan bajuku, Ini terlalu ketat, nanti aku dicap sebagai calon mantu yang tidak sopan." ucap Hana.


"Bukannya kamu sendiri yang memakainya. Kenapa malu coba." ucap Kevin.


"Itu karena aku ada meeting tadi." ucap Hana kesal.


"Kamu memang susah di ajak bicara." ucap Hana cemberut memalingkan mukanya kembali.


"Apa semua perempuan itu kalau marah suka banget cemberut, Kamu malah terlihat cantik disaat marah." batin Kevin melirik wanita di sampingnya tersenyum.


"Hana. Ayo turun." ajak Kevin menoleh ke Hana.


"Dia tertidur. Apa nggak cukup tadi pingsan lama, sekarang malah dilanjutkan, mereka marah nggak ya!" ucap Kevin melihat ke jam tangannya sudah pukul setengah enam sore.


"Bagus deh?! Dia tidur. Jadi nggak bawel kalau aku mengangkat dia." ucap Kevin turun.


Pengawal ingin membukakan pintu mobilnya tapi ditahan oleh Kevin.


"Kenapa badannya ringan sekali. Perasaan makannya banyak, apa dia kurang gizi kali ya?" gumam Kevin mengangkat tubuh Hana dalam dekapannya.


Orang tua Kevin sudah ada didepan pintu ingin marah tapi melihat Kevin mengangkat tubuh Hana jadi diurungkan.


"Hana kenapa? Pingsan?" tanya mama nya panik.


Shuttt...."Diam dulu. Hana lagi tidur nanti bangun." ucap Kevin berbisik.


"Okey!" ucap Sinta pelan mengekor dibelakang Kevin bersama suaminya.


Kevin menempatkan Hana di kamarnya sudah lama ia tinggal dan memilih hidup mandiri di rumahnya sendiri.


Walaupun sudah lama tidak ditempati masih rapi dan bersih karena setiap hari selalu dibersihkan.


"Kita kedepan dulu. Ada yang mau Kevin tanyakan pada kalian berdua." ucap Kevin merangkul kedua orangtuanya.


"Apa yang ingin kamu tanyakan sama kita?" tanya Fadly menatap istrinya.


"Kalian punya rencana apa?" tanya Kevin.


Fadly melempar pandangan ke Sinta seakan bertanya.


"Maksud kamu apa Kevin?" jawab Fadly.


"Aku tau semua rencana kalian. Sudah ngaku saja." ucap Kevin.


"Mama nggak ngerti. Kamu ini kenapa?" tanya Sinta lembut.


"Kalian yang kenapa? Merencanakan pernikahan aku dan Hana tanpa persetujuan dariku." jawab Kevin.


"Kami tidak bermaksud Kevin. Mama takut kalau hubungan kalian tidak sampai ke jenjang pernikahan." ucap Sinta memegang tangan Kevin.


"Aku tau mah?, Alasan kalian bukan hanya itu. Karena mau menyelamatkan perusahaan ke Kevin dan syaratnya harus menikah terlebih dahulu baru bisa mengalihkan atas namaku." batin Kevin.


"Apa kamu setuju dengan rencana kita?" tanya Fadly.


"Pasti. Kita kan memang mau menikah." jawab Kevin mengambil air putih dan meminumnya.


"Kami sangat senang. Kalau begitu besok kamu sudah siap kan." ucap Fadly membuat Kevin langsung tersedak.


Uhukk... "What? Besok. Apa tidak terlalu cepat?" tanya Kevin tersedak padahal ia tak meminum apapun.


"Lebih cepat lebih baik. Iya kan sayang." ucap Fadly merangkul bahu Sinta menatapnya manja.


"Hmm. Iya, Kalian benar juga." ucap Kevin senyum yang dipaksakan.


"Ya sudah. Kita ke kamar yuk?" ajak Fadly.


Kevin menatap punggung mereka mengusap wajahnya kasar.


"Ini terlalu cepat. Bener juga lebih cepat lebih baik." ucap Kevin berjalan ke kamarnya untuk melihat Hana sudah bangun atau belum.


"Belum bangun rupanya. Hufff! ulas banget tidurnya seperti tidak ada beban hidup saja." ucap Kevin duduk disebelah Hana.





*Bersambung*