
~>> Kevin [[ Dimana kau sekarang? ]]
~>> Lee [[ Aaaa. Ha....Ha...Ha...! aku tidak tau, mungkin aku tersesat, kau mau membantuku ]] jawabnya bergumam tidak jelas.
"Orang sepertinya bisa tersesat juga." lirih Kevin terheran heran.
~>> Kevin [[ Matikan sekarang. Kita vidio call saja ]] teriaknya ai tak mengerti ucapannya.
Lee menuruti ucapan Kevin ia melakukan vidio call bersamanya.
~>> Lee [[ Hallo? kenapa? kau kangen sama aku. Padahal tadi siang kita baru ketemu, cepat katakan kau ada perlu apa ]] ucapnya melambaikan tangannya senyum senyum sendiri.
~>> Kevin [[ Kau dimana?. Cepat katakan, telingamu masih normal bukan ]] teriaknya karena Lee tak merespon apa apa.
Lee malam cengengesan seperti orang hilang kesadaran ia keluar dari mobilnya, menunjukkan dimana keberadaan nya sekarang.
~>> Lee [[ Tuh! kau puas. Aku ada di club xxx...! ]]
"Lee? kau masih disana? hello?" ucap Kevin.
"Dimatikan. Apa yang dia lakukan? orang orang itu siapa?" gumam nya.
Panggilannya berakhir ketika ada segerombolan orang menghampirinya.
Kevin buru buru mau keluar tapi ia terlupa karena Hana memanggilnya.
"My Prince. Kamu beli handphone baru, warnanya keren purple, mirip punyaku." sapa Hana ia habis keluar dari kamar mandi mengibaskan rambutnya yang basah.
"Ini bukan. Malam ini suasananya sangat dingin, kamu malah mandi, tidak baik buat kesehatan, coba lihat jam berapa itu?" ucap Kevin mengarah ke jam dinding di dalam kamarnya.
"Baru juga jam sepuluh lebih dikit. Kan biar lebih fresh, tadi aku kegerahan, mungkin sebentar lagi mau turun hujan." ujar Hana mengambil hair dryer ke suaminya.
"Bantu aku mengeringkannya. Kamu mau kemana sih! buru buru sekali, diluar bahaya, kalau tiba tiba hujan terus kamu tau sendiri kan selanjutnya apa?" pinta Hana ia duduk di atas kursi bercermin di meja rias.
"Dia bisa jaga diri. Buat apa aku kesana? lagi pula kalau terjebak hujan aku harus minta tolong ke siapa?" batin Kevin termenung.
"My Prince. Hello? Apa kamu mendengarkan ucapanku." panggil Hana mengibaskan tangannya di depan wajahnya.
"Hmm...! tidak. Aku cuma mau ke dapur, mengambil air, tenggorokan ku rasanya haus sekali." ucap Kevin tiba tiba mulutnya keluar begitu saja.
"Kenapa aku jadi berbohong? ada apa denganku." batin Kevin.
Kevin menuruti permintaan istrinya mengeringkan rambutnya.
"BABY. Aku mencium sesuatu keharuman." ucap Kevin mengendus endus tengkuk leher istrinya.
Hana seakan sudah paham dengan tingkah suaminya.
"Kamu jangan membuatku mandi untuk kedua kalinya. Aku mengantuk mau." ucap Hana ia dikejutkan oleh Kevin yang membawanya ke ranjang.
"Mulai lagi deh! malam ini aku tidak bisa melakukannya." ucap Hana menahan tangan kekar suaminya yang ingin melakukan aksinya.
Kevin sempat berhenti akan tetapi ia tetap melanjutkannya tanpa peduli ucapan istrinya.
"Kenapa kamu diam sajaa? Apa kamu mulai bosan padaku?" tanya Kevin berbisik kedua tangannya bergerak nakal.
"My Prince. Aku ingin bicara, tapi kamu jangan marah." lanjutnya mengusap dada bidang suaminya sembari memainkan ujung bibirnya.
Kevin mengangguk kan kepalanya memberi waktu untuk istrinya.
"Kamu yakin ingin melanjutkannya. Aku sedang datang bulan." ucap Hana menahan tawa melihat reaksi sang suami berubah menjadi suram.
"What? kenapa tidak bilang dari tadi. Kamu tega mengerjai suamimu sendiri." ujar Kevin memakai kembali bajunya yang sempat ia lepas.
Karena kesal Kevin keluar dari kamar meninggalkan istrinya sendiri di dalam sana dengan wajah tak bersahabat.
Sedangkan Hana ia berlari menyusul suaminya keluar ia agak sedikit terlambat, Kevin sudah menghilang entah dimana perginya.
Hana mencari suaminya kesana kemari tapi tak menemukannya, bahkan hampir semua ruangan ia cek satu per satu.
"Semua kamar bawah nggak ada. Apa Kevin sekarang ada di atas?" gumamnya Hana menaiki anak tangga.
"My Prince. Aku tau kamu ada didalam, cepatlah keluar, sorry tadi tidak bermaksud." panggil Hana membuka kamar mereka yang di atas tapi tak ada juga.
"Diruangan kerjanya tidak ada. Mungkin dia ada di ruangan kerjaku." ujar Hana, namun setelah di cek ia kembali terkejut.
Kakinya sampai lelah ia kemudian kembali menuruni tangga dan pergi ke parkiran mobil rumahnya, disana mobil Kevin tidak ada di tempat.
"Dia benar benar marah." ujar Hana berjalan tak bersemangat ia menunggu di depan gerbang rumahnya, padahal hari sudah mulai malam.
"Tadi disaat Kevin pergi. Apa dia bilang sesuatu tidak sama bapak atau menitipkan pesan?" tanya Hana pada satpam penjaga.
Penjaga Itu bilang jika Kevin pergi begitu begitu saja, tidak seperti biasanya yang menitipkan pesan kepadanya, bahkan ia sempat menyapanya tapi Kevin tidak menjawabnya dia cuma tersenyum.
Akhirnya Hana memilih ke kamar anak anak ia tidak bisa tidur padahal sudah memejamkan kedua matanya sembari sesekali keluar untuk melihat suaminya pulang.
"Dimana aku meletakkan ponselku. Perasaan tadi ada di sini, apa jatuh ke bawah." ucap Hana mencari di balik selimut juga di kolong ranjang.
"Apa mungkin aku tinggalkan di ruang kerja. Aaah! tapi seharian ini tidak kesana, kira kira ada dimana? aku nggak hafal lagi nomor Kevin." gumam Hana di buat pusing ia sebelumnya sempat membeli ponsel karena yang lama hilang.
"Masa aku harus beli ponsel baru lagi. Baru juga tiga bulan, pada akhirnya mereka bernasib sama." gerutu Hana kesal ia mondar mandir di ruang tamu cemas memikirkan suaminya yang tak kunjung pulang.
Pagi Harinya...
Jam menunjukkan pukul empat pagi Hana di kejutan oleh suara guci pecah dari luar rumahnya ia baru saja tertidur beberapa menit.
Pyarrr......
"My Prince. Kak Tae Yeong, apa yang terjadi denganmu?" tanya Hana melihat keadaan Lee begitu memprihatinkan, tubuhnya lemas, wajahnya lebam penuh luka lebam membiru.
"BABY. Tolong kamu siapkan es batu, buat mengompres lukanya." Pinta Kevin ia kembali memanggil nya.
"Jangan lupa sapu tangannya juga." seru Kevin.
Hana mengangguk pelan ia ingin membantu suaminya yang kelihatan keberatan memapah Lee tapi di urungkan nya.
BERSAMBUNG...