Seleb Intertainment

Seleb Intertainment
14.Bertengkar part 2



"Saya memang sangat tampan. Tapi nggak usah berlebihan juga lihatin mukaku nanti kamu naksir lagi." ucap Kevin menggoda Hana menaikkan satu alisnya.


"Percaya diri banget kamu. Lelaki diluar sana masih banyak yang lebih tampan dari pada kamu." ucap Hana.


"Ooh! berarti kamu mengakui dong! kalau saya itu memang tampan." ucap Kevin memajukan wajahnya ke hadapan Hana membuat nya gugup.


"Maumu apa sih!" ucap Hana gugup.


"hmm! apa yah?" ucap Kevin pura pura berfikir menyangga dagunya.


"Besok kamu harus ikut saya. Jelaskan semua salah paham terhadap kita ke orang tuaku." perintah Kevin terhadap Hana.


"Oke aku turuti permintaan kamu. Tapi kamu harus kabulkan permintaanku juga." ucap Hana menawar.


"Apa keinginan kamu?" seru Alfian terhadap Hana.


"Nggak ada keinginan buat kamu." timpal Kevin menolak keinginan Hana.


"Ya. Kalau begitu aku tidak akan menuruti apa maumu." ucap Hana.


"Oke. Kamu mau apa?" tanya Kevin terpaksa menuruti nya.


"Aku pengen jalan jalan besok. Di dalam rumah terus bosen." ucap Hana.


"Cuma mau jalan jalan. Nanti biar ku suruh supir buat nganterin kamu kemanapun." ucap Kevin duduk di sofa bersebelahan dengan Alfian.


"No. Aku pengen nya sama kamu. Bukan supir kamu." ucap Hana menolak.


"Kamu pikir aku supirmu. Sudah bagus aku turuti permintaan kamu." ucap Kevin emosi tapi ditahan oleh Alfian.


"Sudah lah Vin? atau kamu mau orang tua kamu salah paham sama kamu." ucap Alfian menasehati sahabat nya sekaligus bossnya.


"Oke. Kali ini aja." ucap Kevin lalu pergi meninggalkan kamar Hana.


"Asik akhirnya bisa jalan jalan bosen tau kak dirumah terus." ucap Hana pada Alfian.


"Bosen dirumah atau bosen lihat Kevin terus." ucap menggoda Hana.


"Dua dua nya kak." ucap Hana santai.


"Kalau sudah. Kamu minum obatnya setelah itu langsung istirahat, hari udah mulai malam, Kakak keluar dulu, Good night, sweet dreams." ucap Alfian di depan pintu masuk kamar Hana.


"Siap." ucap Hana mengacungkan jempol kepada Alfian.


¤


¤


¤


Pagi Harinya Hana seperti biasanya melakukan rutinitas sehari hari.


"Aku pakai baju apa?" ucap Hana bingung memilih baju yang akan ia pakai bertemu orang tua Kevin dan jalan jalan bersamanya.


"Ini kali ya cantik." ucap Hana lalu menuju ke kamar mandi untuk mencobanya.


"Wow. Pasti nanti Kevin terpesona sama aku." ucap Hana cekikikan sendiri dikamar mandi.


"Eeeh! kenapa aku memikirkan dia." ucap segera menghapus pikirannya terhadap Kevin.


"Aku samperin dia aah! udah nggak sabar buat jalan jalan." ucap Hana berjalan keluar kamar untuk menghampiri Kevin.


Tok....Tok....Tok...


"Kevin?" panggil Hana dari luar kamarnya Kevin tetapi tidak ada jawaban dari nya.


"Kevin. Kevin?" ucap Hana sedikit teriak agar terdengar oleh Kevin.


"Berisik banget pagi pagi. Tau apa orang lagi tidur." ucap Kevin lalu membuka pintu kamarnya.


"Kenapa?" ucap Kevin melihat penampilan Hana dari atas sampai bawah.


"Bagaimana? aku cantik, imut." ucap Hana bergaya seperti model Kevin sedari tadi hanya diam menatap Hana tanpa berkedip.


"Cantik banget." ucap Kevin keceplosan segera menutup mulutnya dengan satu tangannya.


"Wah benarkah. Aku begitu tersanjung." ucap Hana dengan wajah berbinar binar ia sangat senang Kevin mengatakannya.


Kemudian Kevin tersadar dari lamunannya langsung segera menghapus pikirannya tentang Hana.


"Kamu nggak usah kegeeran dulu. Maksud aku bajunya yang cantik, kamu nya sih biasa aja." ucap Kevin lalu masuk kembali kedalam kamarnya.


"What? bajunya menurut dia aku tidak cantik begitu. Mungkin mata dia rabun, dulu pas waktu sekolah sampai kuliah semua murid di sekolah banyak yang suka sama aku." ucap Hana kesal.


"Bikin kesel aja deh! kutup utara." gerutu Hana di depan pintu masuk kamar Kevin.


"Bicara apa kamu. Siapa kutup utara itu?" tanya Kevin dari belakang melihat Hana ngomong sendiri.


"Aish. itu Bukan siapa siapa, dan bukan urusan kamu orang aku bicara sendiri." ucap Hana sedikit teriak.


"Berarti kamu gila dong! ngomong sendiri." ucap Kevin mengejek.


"Enak saja aku masih waras. Kamu yang gila, suka berbuat seenak sama wanita, dasar nggak berperi kemanusiaan." ucap Hana menunjuk telunjuknya kearah Kevin.


"Boss. Mobilnya sudah siap." ucap Alfian tiba tiba datang.


"Oke. Kita berangkat sekarang." ajak Kevin kepada Alfian tanpa mengajak Hana.


"Hana. Kenapa bengong aja, ayo kita berangkat." ucap Alfian menarik tangan Hana.


"Iya kak. Tapi tuh!" ucap Hana tersenyum melihat penampilan Kevin yang masih memakai piyama.


Haa...haa...ha... "Kevin. Kamu yakin mau pergi dengan penampilan seperti itu." panggil Alfian.


Kevin menyadarinya ia segera berlari ke kamar karena malu.


Kedua orang di depan kamar Kevin masih menertawakan nya puas.


Di halaman Hana dan Alfian tetap saja belum bisa melupakan kejadian sebelumnya.


Sedangkan Kevin ia pura pura cuek seperti tidak terjadi apa apa.


"Kamu mau ngapain" tanya Kevin ketus melihat Hana membuka pintu mobil depan.


"Ya duduk lah masa naik mobil berdiri." jawab Hana tak kalah ketus.


"Siapa yang suruh duduk didepan." ucap Kevin dengan mata melotot.


"Terus aku duduk dimana?" tanya Hana mengangkat kedua bahunya.


"Disamping ku." ucap Kevin tapi Hana tidak mau menuruti nya karena dia sudah nyaman sama tempat duduknya.


"Nggak." ucap Hana langsung menutup pintu mobil.


"Oke. kalau tidak mau, Aku sendiri yang akan memaksamu." ucap Kevin lalu turun membuka pintu depan.


"Lepaskan kamu mau apa?" tanya Hana saat tubuh nya diangkat oleh Kevin.


"Kita duduk dibelakang." ucap Kevin memindahkan Hana.


"Seenaknya banget kamu jadi orang" ucap Hana memalingkan muka kearah jendela.


"Bodo amat." ucap Kevin tepat ditelingannya Hana.


"Bisa nggak sih! auh jauh gitu. Kita harus jaga jarak kamu itu bukan siapa siapa aku." ucap Hana menjauhkan tubuhnya dekat jendela.


"Siapa yang bilang seperti itu. Sebentar lagi kita akan menikah jadi sah sah aja aku dekat denganmu." ucap Kevin merangkul bahu Hana.


"Kalian bisa diam tidak. Aku jadi nggak fokus nyetir nya." teriak Alfian menghentikan laju mobilnya.


"Tidak." ucap Kevin dan Hana bersamaan membuat Alfian menutup kedua telinganya karena teriakan mereka sangat keras.


"Apa kamu." ucap Hana dan Kevin saling melihat dan menjauhkan tubuhnya satu sama lain.


"Nah begitu kan jadi tentram dari tadi, pusing dengerin mereka bertengkar terus." ucap Alfian lega karena tidak ada perdebatan lagi diantara Kevin dan Hana karena mereka saling diam.





Bersambung...