Seleb Intertainment

Seleb Intertainment
160. Perasaan takut



Usia kandungan Hana kini telah memasuki sembilan bulan perut sudah mulai membesar seakan mendekati hari H dimana semua orang disekitarnya menantikan akan kelahiran anaknya.


"BABY. Apa yang kamu pakai? sepatu ini terlalu tinggi, ingat lho! ada calon anak kita." panggil Kevin ketika istrinya memakai sepatu heels tinggi favoritnya.


"My Prince. Tapi kan, cuma lima centi tidak apa apa, lagi pula aku sudah terbiasa memakai nya, berikan padaku." pinta Hana ia malah diberikan sandal teplek sederhana tapi terlihat mewah.


"Hey! jangan cemberut begitu. Wajah cantiknya nanti hilang, okay! biar ku bawakan tasmu." ucap Kevin menyangga wajah istrinya dengan kedua tangannya kemudian mengambil tas milik Hana ia tautkan di lengan nya.


Di halaman rumah...


"Nak Lee? akhirnya kau datang juga. Ayo! silahkan masuk." ajak seorang laki laki menyambutnya.


"Terima kasih Papa Fadly. Mama?" ucap Lee bergantian menyalami nya sembari berjalan ke sofa.


Tring... pintu lift terbuka Hana melangkah lebih cepat mendahului suaminya.


"Kak Tae Yeong. Sejak kapan kau berada disini? bagaimana kabarmu?" tanya Hana menghampiri ingin duduk disebelah nya tapi Kevin mendahului.


"Dilihat dari bentukan tubuhnya dia baik baik saja. Iya kan Lee?" seru Kevin.


Kedua orang tua Kevin menggeleng geleng kan kepalanya tak heran akan hal itu. Setiap kali mereka bertemu pasti ada perdebatan diantaranya tidak ada dalam kamus untuk akur satu sama lain.


"Kevin. Kasihan istrimu." timpal Sinta melihat Hana berdiri disamping suaminya.


"Ooh! maaf BABY. Kamu duduk disini saja, jangan di dekat dia, tangannya pasti belum cuci tangan." ujar Kevin ketika Hana ingin menjabat tangan Lee.


"Sembarangan kalau bicara. Sebelum kesini saya mandi sampai tujuh kali, jadi mana mungkin ada virus yang menempel." seru Lee.


"Masa sih!" ujar Kevin tak percaya.


Hana menepuk jidatnya sendiri ingin rasanya ia berteriak reaksi suaminya terlalu berlebihan semakin hari tambah emosional terbalik untuk dirinya semuanya berbalik padanya.


"Stop. You guys don't talk, okay! kita berangkat sekarang." ucap Hana menghentikan perdebatan diantara keduanya.


Didalam mobil...


Semua telah siap mereka merencanakan untuk pindah dari sana sebelum orang orang yang mengincarnya tak bisa melacak dimana keberadaan nya dan pastinya keberangkatannya sengaja disembunyikan didepan semua orang termasuk para karyawan kantor bahkan penjaga rumah itu sendiri demi keamanan Hana karena menjelang hari kelahiran anaknya.


Didalam pesawat...


"Kenapa kita harus pindah? bukankah lebih bagus melahirkan di negara sendiri. Sebenarnya ada masalah apa sih!" tanya Hana menatap suaminya aneh ia masih ingat kalau Kevin berkata agar persalinan tetap di negara nya tidak akan kemana mana.


#FLASHBACK


"BABY? aku mau kamu kita stay disini. Sampai baby junior lahir, menurutmu bagaimana?" tanya Kevin merebahkan tubuhnya di pangkuan Hana yang duduk bersandar di dipan kasur mengusap wajahnya lembut.


"Emm...! dimana aja nggak masalah. Intinya baby junior lahir dengan sehat, cantik seperti ibunya." ujar Hana tersenyum beralih mengusap perutnya yang buncit.


Kevin mengerutkan dahinya mengambil alih satu tangan istrinya untuk diusapkan di wajahnya.


"Kok cuma cantik. Harus tampan juga seperti ayahnya, aku sudah siapkan nama anak kita kalau lahir nanti, tapi itu rahasia." ucap Kevin.


Tak mengerti apa arti ucapan Hana, Kevin mencoba mencerna baik baik.


"Apa bisa. Jangan jangan, BABY kamu pasti diam diam sudah USG tanpa sepengetahuan dariku." ujar Kevin.


"I-iya. Maaf, tapi aku itu cuma penasaran jenis kelaminnya, ternyata." ujar Hana nyengir kuda mengambil gambar hasil tes nya ia berikan ke suaminya.


Ada gambar dua janin terlihat berkelahi didalam sana Kevin mengamati kembali apakah penglihatannya benar adanya.


"Surprise...!" ucap Hana ia mendapat kecupan dibibirnya dari sang suami berkali kali.


"Anak kita kembar. Kenapa kamu baru kasih tau sekarang." ujar Kevin memeluknya dari samping.


"Hmm...! kamu kan sibuk. Masa, suami menghubungi istrinya hanya satu kali, itupun cuma sebentar." celetuk Hana melirik lelaki yang memeluknya.


"BABY. Satu kali tapi sampai hampir dua jam kamu bilang sedikit." protes Kevin.


"Sudahlah cukup. Jangan dibahas lagi, tambah panjang, yang paling penting adalah masa depan anak anak kita kelak, okay!" tegas Hana menempatkan jari telunjuk nya ke suaminya.


#FLASHBACK


Ada rasa khawatir di wajah suaminya, Hana memberikan luang untuk Kevin menunggu nya berbicara sendiri tanpa harus ia tekan.


"My Prince. Coba kamu pegang, mereka sangat aktif." ujar Hana meraih tangan suaminya ia tempatkan di perutnya.


"Apakah ini sakit. Mereka menendang perutmu." ujar Kevin beralih menempelkan telinganya seakan terdengar detak jantung calon anaknya.


"Kadang kadang. Pinggang ku terasa pegal sekali, tapi tidak apa apa, sebagai perempuan pasti akan mengalaminya, mengandung, melahirkan, menyusui, dan mengurus, menjaganya dengan baik." jelas Hana melihat ekpresi Kevin terlihat khawatir entah apa yang ada dipikirkannya.


"Hana tidak terlihat takut sama sekali. Tapi ada apa denganku, perasaan ini malah sebaliknya." batin Kevin menarik nafasnya dalam dalam mengeluarkan kasar.


Hana tersenyum menggelengkan kepalanya ia seakan tau isi hati suaminya.


"Tenang lah. My Prince, selama kehamilan aku terlihat cantik nggak, atau semakin cantik." ucap Hana membuat Kevin tersenyum sumringah.


"Sangat cantik. Kamu ini bidadari dalam hatiku, tak akan tergantikan di mataku." puji Kevin.


"Kalau misalkan umurku semakin tua. Wajahku keriput apa kamu masih mau denganku, banyak lho! diluaran sana wanita cantik melebihiku." ujar Hana.


Haa...Haa...Haa. "Usiaku kan beda tipis denganmu. Bahkan lebih tua darimu." ucap Kevin masih dengan tawanya.


"Ya. Bisa saja, biasanya laki laki ada masa masa merasa bosan terhadap pasangannya." celetuk Hana bibirnya dibungkam oleh bibir manis Kevin.


"Kamu tidak membosankan. Tapi menggairahkan, aduh!" bisik Kevin ia mendapatkan cubitan dari Hana.


Dilain posisi sepasang mata melihatnya tersenyum tipis.


"Masih sempat sempatnya didalam pesawat bermesra mesraan. Apa tidak bisa ditunda, setidaknya sampai di tempat tujuan." gumam Lee melanjutkan tidurnya.


Bersambung....