
"Tuan. Tapi dia." ucap Gino enggan melepaskan Hana. Tapi ia mendapat tatapan tajam dari Kevin yang berjalan ke arahnya dengan sedikit sempoyongan karena baru sadar dari pingsan nya.
"Hey! kamu tidak dengar. Tuan Kevin bilang apa? cepat lepaskan." ucap Hana tersenyum penuh arti. Mau tak mau Gino akhirnya melepaskan nya.
Hana menyembunyikan sebelah tangannya yang terluka ke belakang tubuhnya.
"Stay there. Jangan kemana mana." teriak Kevin ketika Hana baru melangkahkan kakinya untuk menghampirinya.
"Oke. Baiklah." ucap Hana malah berlari memeluk erat suami tercinta.
Kevin membalasnya pelukan yang dilontarkan kepadanya. "Bagaimana kabar mu? are you alright?" tanya Hana menyembunyikan rasa khawatirannya.
"Baik. Kamu sendiri bagaimana? dan calon anak kita, dia baik baik saja kan." tanya balik Kevin mengusap perut Hana.
Gino dan para pengawal dibuat bingung ternyata orang yang di kenal dingin bisa bertingkah lembut pada wanita.
Kevin merasa risih dilihat anak buahnya dan asisten nya ia segera menyuruh mereka pergi dengan mengibaskan tangannya ke arah pintu keluar rumahnya untuk kembali bertugas.
"Maaf Tuan? itu motor milik Nona ini. Mau dimasukkan ke dalam atau dibiarkan diluar saja, upss...!" ucap Gino menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan memalingkan mukanya mengganggu kemesraan mereka berdua yang ingin berciuman.
Hana sedikit kemunduran badannya. "BABY. Kamu kan lagi hamil, kenapa naik motor, nanti kalau terjadi apa apa pada calon anak kita bagaimana?" tanya Kevin kini ekpresi nya berubah marah.
"Berikan tanganmu." pinta Kevin sedari tadi merasa curiga kalau Hana terus menyembunyikan tangannya ke belakang.
"Buat apa? My Prince?" ujar Hana tersenyum kaku memundurkan langkah kakinya ke belakang. Kevin yang semakin curiga ia terus berjalan mengikuti istrinya melangkah.
Gino semakin dibuat bingung oleh ucapan Kevin. Setau dia bossnya belum punya pacar tapi berdasarkan berita yang tersebar Kevin sudah menikah tapi ia sendiri tidak tau siapa istrinya.
Dan benar saja setelah Kevin membuka ikatan kain yang menempel di tangan istrinya ia sampai kaget dengan luka goresan itu. Bahkan darahnya masih basah. "Itu tadi aku." lirih Hana.
"Gino. Bisa minta tolong ambilkan kotak P3K." pinta Kevin tanpa mengalihkan pandangannya ke istrinya.
"Ini Tuan. Ada lagi yang lain." ucap Gino memberikan apa yang diminta Kevin.
"Kamu masukkan motor yang dipakai istriku ke garasi." titah Kevin diangguki asistennya.
Kevin mengobati luka goresan dengan hati hati. Padahal Hana sendiri reaksinya biasa saja tapi ia sangat khawatir. "My Prince? kamu marah. Maaf, ini juga karenamu." ujarnya.
"Apa ini nggak sakit? kenapa tidak di obati langsung, darahnya masih keluar lho! kamu juga sudah tau lagi hamil. Pakai segala naik motor, dasar ceroboh." ucap Kevin mengomel menahan rasa amarahnya.
Tak ada jawaban dari Hana ia cuma menunduk merasa bersalah karena tadi dikantor hanya ada kendaraan motor milik karyawannya.
"Kenapa diam saja? ngerti nggak. Jangan diulangi lagi, oh iya bukannya kamu tidak bisa naik sepeda, tapi kok bisa naik motor, coba jelaskan padaku." tanya Kevin lagi membalut lukanya dengan perban.
"My Prince? pertanyaanmu banyak sekali. Terus aku harus jawab yang mana dulu." ujar Hana memegangi kepalanya yang terasa pusing ternyata suaminya masih sama sifatnya cerewet seperti dirinya.
Hana menutup mulut suaminya dengan tangan kirinya. "Stop...! jangan diteruskan. Biar aku jelaskan satu per satu, okey?" Kevin yang ingin berbicara lagi ia akhirnya diam.
"Pertama tadi itu aku sempat ber." jelas Hana menggantung.
"Berolahraga, beramal, bermain, bertanya, ya terus apa?" ucap Kevin tak mengerti membuat dirinya semakin penasaran.
Hana tersenyum sebelum mengatakan nya. "Bertarung dengan Claudia, dan tikus tikusnya itu." jelasnya.
Alangkah terkejutnya disaat istrinya mengatakan hal itu. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi, pasalnya Hana sedang hamil muda, usia kandungnya juga belum genap dua bulan.
"What? crazy. Sama siapa? apa Doni juga ada bersamamu?" tanya Kevin memegangi bahu istrinya.
"Yaah? sendiri. Doni sedang meeting, sedangkan aku kabur naik motor, tapi enak juga sih! bisa sekalian kebut kebutan " jawab Hana keceplosan.
Drettt Drettt Drettt...
panggilan masuk "Ponselmu biar aku yang pegang." ucap Kevin menyita handphone Hana yang ingin mengangkatnya.
"My Prince? kembalikan. Itu dari Doni, dia pasti khawatir sama aku." ucap Hana berusaha merebut benda pipih miliknya dari suaminya.
"Disini suamimu siapa? biarkan saja dia pusing sendiri. Anggaplah ini sebagai hukuman karena sudah lalai menjagamu." ucap Kevin tak mau menyerahkannya ke Hana ia malah pergi meninggalkan Hana sendiri di ruangan tamu.
Gino kini mendapati Kevin sedang memasak di dapur ia menghentikan langkah kakinya memilih untuk menghampirinya.
"Tuan Kevin? anda bisa masak. Saya kira orang sepertimu." sapa Gino duduk di meja makan.
Kevin hanya menatap asistennya datar. "Menurutmu saya seperti apa? gini gini saya itu dulu pernah juara lomba memasak dikota ini." tanya Kevin tangannya masih sibuk mengiris bahan bahan kemudian dimasukkan ke dalam teflon.
"Wow? are you serious. Berarti anda laki laki sempurna, bisa melakukan banyak hal, beda sekali dengan saya, tidak bisa memasak." puji Gino teramat berlebihan terhadap Kevin.
"Hey! asal kamu tau. Tidak ada manusia di dunia ini yang sempurna." ucap Kevin tersenyum tipis.
"Iya Tuan. Ada yang bisa saya bantu." ucap Gino turun dari meja dan berdiri di samping Kevin.
Gino sebenarnya ingin bertanya sesuatu ke Kevin tapi ia tak enak hati. Takutnya malah nanti marah karena pertanyaan nya.
"Biar saya saja Tuan yang masak. Anda juga kan habis sadar, kata dokter tadi juga, jangan terlalu kelelahan dulu." pinta Gino karena wajah Kevin masih terlihat sangat pucat.
Kevin menolak bantuan dari asistennya. "Tidak usah, aku mau istriku makan masakan dari suaminya sendiri." tolaknya
"Jadi benar. Ternyata Nona itu istri dari Tuan Kevin?" batin Gino dalam hatinya akhirnya rasa penasaran nya terjawab sudah.
^^BERSAMBUNG^^