Seleb Intertainment

Seleb Intertainment
12. Salah Paham



"Boss? kamu." ucap Alfian tak percaya.


Hana dan Kevin terkejut hanya terdiam karena posisi mereka sangatlah dekat sehingga dari kejauhan terlihat seperti sedang berciuman di tepi kolam renang dengan baju mereka yang basah.


"Kevin. Apa yang kamu lakukan sama Hana?" ucap Sinta kecewa.


"Mama nggak pernah loh! ngajarin kamu berbuat seperti itu. Sama perempuan sebelum menikah." ucap Sinta lagi.


"Apalagi kamu Hana. Kenapa kamu turuti permintaan Kevin." ucap Sinta marah tanpa memberi kesempatan untuk mereka menjelaskan.


"Sayang kamu mau kemana?" ucap Fadly menahan tangan Sinta.


"Kevin keterlaluan pah?" ucap Sinta menangis melihat apa yang baru saja dilihat.


"Iya Mah papa tau. Kamu duduk dulu sini biar papa ambilkan air" ucap Fadly menenangkan istrinya.


"Alfian. Kamu jaga istri ku sebentar." perintah Fadly kepada nya.


"Siap tuan." jawab Alfian mengangguk.


"Ini di minum biar tenang." ucap Fadly memberikan air putih kepada istri tercinta nya.


Sementara Kevin dan Hana hanya terdiam tanpa disadari mereka masih saling berpelukan kemudian Alfian datang mengagetkan mereka.


"Ternyata kalian masih betah dengan posisi seperti itu!" seru Alfian.


Mereka kaget dan saling melihat kemudian Kevin refleks langsung melepaskan pelukannya, membanting tubuh Hana ke samping tubuhnya.


"Kevin. Kamu keterlaluan. Tidak sepatutnya kamu kasar sama perempuan." ucap Alfian kesal akan perlakuan Kevin.


"Auuu!" pekik Hana kesakitan karena jahitan di tangannya yang berada di lengan atas nya lepas ia memang sengaja memakai pakaian panjang agar tidak terlihat oleh siapapun termasuk Kevin.


"Hana kamu kenapa?" ucap Alfian panik menatap nya Kevin hanya terdiam tidak peduli.


"Tangan kamu berdarah." ucap Alfian mendekati nya.


Kevin ikut menghampirinya ia jadi merasa bersalah.


"Jahitannya terlepas kak?" jawab Hana merintih kesakitan.


"Jahitan. Perasaan aku nggak pernah nyuruh dia jahit baju, tapi kenapa tangan dia jadi berdarah, apa aku terlalu keras mendorongnya tadi, sehingga dia terluka." ucap Kevin tak mengerti perkataan Hana.


"Kenapa kamu malah bengong? Cepat kamu tolong Hana?" ucap Alfian mendorong Kevin.


"Nyusahin aja kamu." omel Kevin ketus langsung mengangkat tubuh Hana ke pelukannya.


"What? nyusahin. Dasar nggak tau berterima kasih, Ini semua juga karena gara gara kamu." ucap Hana dalam hatinya.


"Kamu jemput dokter Hyun sekarang." perintah Kevin kepada Alfian.


"Sekarang boss." ucap Alfian malas.


"Ya sekarang. Masa tahun depan." bentak Kevin terhadap Alfian.


"Baiklah." ucap Alfian mengangguk.


"Kevin? Hana lagi. Kenapa tangannya bisa sampai berdarah." tanya Sinta menghampirinya.


"Hana." Kevin baru ingin menjelaskan tapi keburu terpotong oleh Sinta.


"Kevin. Kamu keterlaluan sekali sama Hana, kamu pasti udah nyakitin dia ya gara gara tadi mama marahin kamu, ha!" ucap Sinta salah paham.


"Enggak mah? Kevin itu tadi." ucap Kevin.


"Mama tidak percaya sama kamu lagi." ucap Sinta memotong penjelasan dari Kevin.


"Kamu bawa Hana ke ruang perawatan sekarang. Biar mama papa yang urus." perintah Fadly kepada Kevin.


"Papa kenapa kamu biarkan Kevin masuk sih?" ucap Sinta kesal lalu pergi.


"Sayang. Dengerin dulu penjelasan dari Kevin." bujuk Fadly mengejarnya.


Dua puluh menit kemudian dokter datang untuk memeriksa Hana.


"Kenapa jadi aku yang salah. Salah dia tuh!" ucap Alfian menunjuk telunjuknya kearah dokter Hyun.


"Cepat kamu periksa lukanya." perintah Kevin tak mau ada perdebatan lagi.


"Bagaimana?" tanya Kevin kepada dokter Hyun.


"Jahitan nya terlepas. Jadi jangan banyak gerak dulu, nanti lukanya bisa terinfeksi." jawab Hyun kepada Kevin.


"Kalau sudah sana pergi." usir Alfian kepada Hyun.


"Baik pak Alfian. Tuan Kevin saya permisi dulu, Hana jaga kesehatanmu." ucap dokter kepada mereka.


"Pak. Dia pikir memangnya aku udah bapak bapak apa?" ucap Alfian kesal.


"Itu memang pantas buatmu." seru Kevin mengejek.


"lho! kok gitu." ucap Alfian tak terima ejekan Kevin.


Haa...ha...ha... "Kamu itu mirip bapak bapak karena suka marah marah apalagi cerewet." ucap Kevin tertawa dan bicara disela sela tertawanya.


"Seneng banget kamu ya. Kamu juga sama, bahkan lebih cerewet." ucap Alfian kesal.


"Yeee. Disini bossnya siapa? saya." ucap Kevin tidak mau kalah dengan Alfian.


"Kalian bisa diam nggak sih berisik banget. Bikin pusing kepala ku dengar kalian bertengkar, sana keluar." ucap Hana kesal mengusir Kevin dan Alfian keluar.


"Gara gara kamu aku jadi dimarahi wanita. Apalagi dia." ucap Kevin menunjukkan telunjuk jari nya kearah Hana.


"Keluar." usir Hana turun dari kasur lalu mendorong Kevin dan Alfian.


"Berani sekali dia mengusirku." omel Kevin menendang pintu dari luar Hana tidak peduli dan melanjutkan istirahat nya.


"Kalau aku jadi Hana. Bukan sekedar diusir tapi di cekik sekalian biar mingkem." ujar Alfian berlalu pergi.


"Mau kemana kamu?" teriak Kevin Alfian hendak pergi ditahan olehnya.


"Mau keluar. Disini bikin pusing." ucap Alfian kesal meninggalkan Kevin sendiri.


"Alfian." Teriak Kevin didepan kamer Hana tapi dia hanya melambaikan satu tangannya.


"Perasaan aku bossnya dan ini rumah aku. Kenapa jadi aku yang ditinggalkan." gerutu Kevin kesal lalu masuk kedalam kamarnya.


Malam harinya Kevin baru keluar kamar karena ia perutnya sangat lapar Hana juga sudah kembali ke kamarnya kembali mengunci pintu nya rapat rapat, Karena Kevin selalu masuk ke kamarnya tanpa permisi walaupun sebenarnya ia cuma mau melihat Hana baik baik saja tetapi Kevin selalu mengelak.


"Tuan. Akhirnya turun juga." ucap salah satu pembantu dirumah Kevin.


"Hmm." Kevin melihat sekelilingnya tidak ada ada biasanya dia akan turun kalau sudah waktunya makan.


"Tuan mencari nona Hana. Nona nggak mau makan dari tadi pagi." ucap salah satu pembantu.


"Kok bisa. Kalau dia tidak mau makan. Paksa bagaimana pun caranya." ucap Kevin tersulut emosi.


"Nona tetap tidak mau makan tuan. Kami sudah memaksanya tapi." ucap bibik yanti memilih tidak melanjutkan ucapannya takut nanti tuan muda marah besar.


"Tapi apa?" ucap Kevin semakin emosi.


"Nona mau tuan yang menyuapinya makan. Kalau tidak dia." ucap bibik yanti ragu ragu.


"What?" ucap Kevin mendobrak meja makan sangat keras hingga mengagetkan bibik yanti dan pembantu yang ada disana.


"Berani sekali wanita itu." ucap Kevin menaiki tangga untuk menghampiri Hana.





Bersambung...