
Hana melihat dirinya sendiri melalui kaca ia merasa risih, pasalnya Kevin terus menerus menatapnya.
Tak lama kemudian Lee datang ia juga membawakan makanan ia berikan ke Hana.
"Honey. Makanlah, kamu pasti lapar." ucap Lee menyodorkan nya ia menarik Hana untuk duduk di sofa.
"Aku masih kenyang. Buat kak Tae Yeong saja." tolaknya.
"Kenyang makan apa? kamu aja nggak sempat sarapan, sekarang ini sudah siang." Lee membuka kotaknya ia mau menyuapi nya tapi Hana kembali menolak.
"Jaga sikap mu. Kamu tidak lihat dari tadi Kevin mengamati kita, dia pasti mengira aneh aneh." pinta Hana mengambil alih kotak makanannya dari tangan Lee.
"Tuan Sombong. Kau tidak cemburu kan, istrimu itu sahabat sekaligus adikku." ujar Lee berjalan menghampirinya ia menepuk pelan punggung Kevin.
Hana mengisyaratkan agar Lee berhenti bicara, ia takut jika suaminya marah.
"Kau ini kan saudara kembarku." ucapan Kevin membuat istrinya dan Lee terkejut.
"Bagaimana kau tau?" tanya Lee dengan raut wajah serius.
Wajah Hana terlihat sumringah ia menyangka kalau suaminya ingatan suaminya sudah kembali seperti semula.
"My Prince. Berarti kamu ingat aku siapa?" Hana beralih memeluknya.
Kevin menggeleng ia melepaskan pelukan dari istrinya paksa. "Tidak. Bagiku kamu hanya orang asing." ucapnya sedikit kasar.
"Apa maksudmu? Dia itu istrimu. Kau masih tak percaya, hah!" ujar Lee berteriak tatapannya tajam sangat menusuk.
"Hey! Kau berani membentak saya." Kevin membalasnya dengan suara lebih keras lagi.
"Kak Tae Yeong. Tenanglah, kamu juga, berhentilah bertengkar, ini rumah sakit bukan tempat beradu mulut." ucap Hana menengahi ia menatap suaminya, mata nya berkaca kaca.
"Honey. Kamu mau pergi kemana?" panggil Lee.
"Ini semua gara gara kau. Ku ingatkan sekali lagi, jangan sekali kali menyakiti hati istrimu, saya akan benar benar menghajarmu." celetuk Lee jari telunjuk nya mengarah ke wajah Kevin.
"Emangnya siapa kau?" seru Kevin.
Lee berhenti melangkah. "Mantan pacarnya." ujarnya mengering tanpa menoleh ia melanjutkan langkahnya.
"Huh! istri orang lain di panggil sayang, menjengkelkan sekali." gerutu Kevin kesal.
Drettt Drettt Drettt...
Suara dering ponsel berbunyi beberapa kali, mau gak mau Kevin harus berjalan untuk mengambilnya.
"Berisik sekali. Mereka kemana coba? udah tau orang lagi sakit di tinggal sendiri." Kevin segera mengangkat panggilan nya.
~>> { Hallo? Nona. Apakah kamu masih di rumah sakit?} tanya seseorang di balik sana.
~>> { Nona. Dua malaikat kecil kamu menangis, saya harus bagaimana?} nada nya terdengar gelisah.
"Malaikat kecil. Siapa orang ini?" gumam Kevin.
Kevin ~>> { Pemiliknya tidak ada disini. Jika ada perlu, kau sampaikan saja padaku.}
Doni ~>> { Tuan Kevin? bagaimana kabarmu?}
Kevin ~>> { Baik jika kau mematikan ponselnya sekarang} ketusnya.
malam hari nya...
Hana kembali ia melihat raut wajah suaminya yang masih tertidur di sofa.
"My Prince. Ayo bangun! kamu jangan tidur disini, nanti badan kamu sakit semua lho!" ucap Hana mengusap wajahnya lembut.
Hana menatap Lee tajam. "Hustt.....! pelankan suaramu." pekiknya menendang kakinya tapi Lee segera menghindar.
"Sikap mu masih arogan. Untung tidak kena, kau hampir melukaiku." ujarnya menciut di sudut pintu ruangan itu.
"Aku tunggu di luar saja." ucap Lee tersenyum memperlihatkan giginya perlahan melangkahkan kakinya keluar.
Disaat Hana menoleh ternyata suaminya sudah terbangun, dengan raut wajah tak bersahabat.
"Darimana saja kamu? suami sakit malah keluyuran." tanya Kevin.
"I-itu tadi. Ada urusan sebentar." jawab Hana tanpa berani menatap nya.
"Sampai larut malam begini. Bersama pria lain." ujar Kevin ia menarik tangan Hana duduk di sebelah nya.
"Sorry. My Prince, kamu marah padaku." ucap Hana mengatupkan kedua tangannya wajahnya memelas .
Tiba tiba Kevin memeluk istrinya dalam dekapannya, ia mengusap rambutnya lembut.
"Seharusnya aku yang minta maaf. Karena sudah melupakanmu." ujar Kevin membuat Hana bingung.
Hana tersenyum mendongak kan kepala melihat wajah pria yang selama ini di rindukan.
"Kamu pura pura. Jahat sekali." ujar Hana cemberut.
"Dari dulu wajahmu tidak berubah." ucap Kevin.
"Hmm...! aku jadi malu. Kamu jangan terlalu memujiku, dari lahir aku sudah cantik." ucap Hana membuat Kevin tersenyum geli.
"Kenapa? reaksi kamu biasa aja. Apa aku tidak cantik lagi." lanjutnya kesal, Hana berjalan menjauh dari suaminya.
Kevin menggeleng pelan ia memeluk Hana dari belakang mesra. "Maaf. Happy anniversary, BABY" ucapnya memberikan sebuah bunga mawar putih kesukaan istrinya dan juga kalung berbentuk hati, di tengah tengahnya ada initial nama dirinya juga suaminya.
Hana sungguh terharu ia sampai menangis bahagia. "Aku kira kamu benar benar amnesia. Bagaimana nasib ku dan anak anak kita nanti." ucapnya membalikkan badan menatap wajah suaminya.
"Anak anak. Kapan kamu hamil?" tanya Kevin ia mendapat sentilan kecil dari Hana.
"Hey! bukankah kau yang membuatnya. Kau mau lepas dari tanggung jawab." seru seseorang mengejutkan pasangan suami istri itu.
Fadly berjalan menghampiri mereka bersama Sinta di sampingnya.
"Papa? Mama?" ucap Hana ingin bersalaman dengan kedua nya tapi tak sengaja menyenggol Kevin hingga ia hampir terjatuh kalau saja tidak segera mendekap nya.
"My Prince. Kamu tidak apa apa? dimana yang sakit?" tanya Hana cemas.
Kevin menggeleng pelan. "Don't worry i'm fine. Suamimu ini superman." ujarnya tersenyum.
"Berarti aku wonder women. Kita serasi sama sama kuat, tapi sayangnya aku tidak bisa terbang." ucap Hana.
"Kalian masih sempat sempatnya bercanda. Kevin? kamu kan baru beberapa hari ini sadar dari koma, jangan terlalu sering berdiri." ujar Sinta menuntun putranya ke brankar.
"Dengerin apa kata Mama mu. Sekarang waktunya istirahat, ini sudah hampir larut malam." seru Fadly.
"Sebaiknya papa sama mama istirahat dulu di hotel. Biar Hana yang jagain Kevin, kalian pasti capek kan habis dari luar negeri." ujar Hana.
"Lalu. Bagaimana denganmu sayang? kamu tidur dimana?" tanya Sinta membelai tangan Hana.
Kevin menggeser tubuhnya, memberi ruang untuk istrinya ia menepuk kasur nya. "Hana tidur bersamaku. Ayo kemari! ini masih muat untuk kita berdua." ajak nya.
"Okey. Tapi kamu jangan macam macam, ingat! ini rumah sakit, semua ada batasnya." tegas Sinta mengajak suaminya.
BERSAMBUNG