Seleb Intertainment

Seleb Intertainment
165. Penghianat



Korea


"BABY. Pelan pelan saja jalan nya, bahaya kalau kamu sampai jatuh bagaimana?" pekik Kevin menahan tangan istrinya.


"My Prince. Didalam sana ayahku sedang sekarat." ujar Hana.


"Iya aku tau. Tapi kamu harus ingat, sekarang ini kita dalam penyamaran, diluar sana masih banyak anak buah dari Singa Merah berkeliaran." ucap Kevin celingukan.


Bukannya Kevin takut, melainkan ia tak mau terjadi apa apa terhadap iatri dan calon anaknya nanti.


Sebelumnya Lee Tae Yeong menunggu mereka berdua untuk menyelesaikan misi agar bisa diam diam membawa Lee Yoo Joon ayah Hana dari rumah sakit itu.


"Tunggu dulu. My Prince, buat apa kamu bawa aku kesini." ucap Hana ketika suaminya malah membawanya pergi dari sana.


"Ini demi keamanan kamu. Okey!" tegas Kevin membungkam mulut istrinya karena ucapannya lumayan keras takut ada yang mendengar pembicaraan nya.


"Lalu kamu bagaimana? siapa yang akan membantumu membawa ayah." pekik Hana khawatir.


"Kamu tenang saja. Aku yang akan membantu suamimu." ucap seseorang dibelakang mereka.


Ternyata itu suara asisten suaminya, dan Lee Tae Yeong ia dengan seragam putih menyamar sebagai dokter.


"Kak Gino, Kak Tae Yeong?" gumam Hana menatap suaminya.


Perlu strategi matang untuk bisa menyelusup masuk, kini Kevin ditemani oleh Gino mereka dalam penyamaran nya, sedangkan Hana dan Lee menunggu di dalam mobil yang didalamnya sudah ada perlengkapan rumah sakit, begitupun dokter yang telah bersiap disana.


"My Prince. Dia kok lama sekali, udah hampir satu jam lho!" ujar Hana sedikit cemas.


"Mungkin sebentar lagi. Nah! itu suamimu, hey! kalian bisa cepat sedikit." ucap Lee melihat orang yang ditunggu tunggu datang juga membawa ayah Hana.


Dengan segera mereka pergi dari sana untuk memindahkan ayah Hana ke rumah sakit lain, yang sebelumnya dipersiapkan oleh Lee Tae Yeong.


"Ini tempat apa? Kau mau menjebak kita." tanya Kevin curiga.


Pasalnya letak rumah sakit itu terbilang terpencil jauh dari perkotaan, akses internet disana juga tak terhubung.


"Dari dulu kau memang cerewet. Saya sengaja memilih tempat ini agar tidak ada yang tau tentang keberadaan kita, alangkah baiknya kalian mematikan ponsel." celetuk Lee menggetatkan giginya kesal.


Ternyata setelah memasuki gadung terlihat lusuh tak terurus, di dalamnya tertata sangat rapih, terdapat perlengkapan rumah sakit lengkap dengan para dokter dan suster yang siap melayani.


Disana terbilang luas, karena terdapat banyak ruang lengkap dengan dokter spesialis nya masing masing.


"Wow. Amazing, Kak Tae Yeong memang terbaik." ucap Hana menatapnya kagum, sedikit menyenggol bahu nya.


"Siapa dulu Lee Tae Yeong." ucap nya bangga.


Berbeda dengan lelaki disebelah Hana ia menatapnya datar.


'Sombong' batin Kevin.


"Tuan Kevin." bisik asistennya ditelinga nya.


Setelah mendapat berita kurang baik dari asistennya Kevin pergi tanpa pamit pada istrinya, itu membuat Hana khawatir ia takutnya sang suami marah padanya.


"My Prince. Lho! Kak Tae Yeong, kau lihat suamiku tidak." ucap Hana.


Lee Tae Yeong juga baru menyadari ia terlalu asyik ngobrol dengan Hana.


"Bukannya tadi ada dibelakang ku. Kenapa tidak ada?"


"Honey. Kamu mau kemana? tetap di tempat ini, jangan kemana mana." panggil Lee mencekal tangan nya.


"Tapi kak. Kau tau sifatnya kan, dia pasti cemburu melihat kita." ujar Hana.


"Honey. Kamu mau apa?" tanya Lee ketika Hana mau menghidupkan ponselnya.


"Tentu saja untuk menghubungi suamiku." jawab Hana terkejut ponsel miliknya di rebut oleh Lee.


"Kak. Cepat kembalikan ponselku." pinta Hana.


"Ayolah Honey. Kamu tau kan sekarang kita berada dimana? mereka bisa melacak keberadaanmu." ujar Lee memegang kedua bahu Hana menatapnya lekat agar mau mendengarkan nya.


**********


Lain halnya di sebuah gudang penuh dengan barang barang bekas di sekitarnya.


Byurrr....


Air menerpa wajah seorang pria yang terikat kaki tangannya dan mulutnya tersumpal.


Suara tawa menggema di seluruh tempat itu.


Haa...Haa...Haa....


"Bagaimana Tuan Muda. Lihatlah dirimu sekarang, sangat memperhatikan, dimana wajah tampanmu yang selalu kau bangga bangga kan, hah!" ujar pria bertopeng menjambak erat rambutnya.


Hmptt....! pria terikat itu menatap orang orang di depannya tajam.


"Ternyata mereka semua penghianat. Dasar bajingan, perbuatanmu akan ku balas nanti." batinnya.


"Kenapa? mau marah. Ayo! lawan saya sekarang, ooh iya." ucap pria bertopeng itu membuka sumpalan mulutnya.


"Brengsek. Kau, sahabat macam apa yang menusuk dari belakang hah!" umpat nya ketika mulutnya terbuka.


Haa...Haa...Haa...


"Terkadang orang yang dekat adalah musuh paling berbahaya. Kau sendiri yang pernah bilang kan." seru orang di sebelah nya di sela sela tawa penuh penghinaan.


#FLASHBACK


Kevin datang ke kantornya malam malam ia ingin mengecek sesuatu disana tapi anehnya tempat itu begitu sepi tidak ada apa apa.


Sekilas ada bayangan mengintai dirinya, disisi kanan dan kiri Kevin yang mencari keberadaan sang asisten tak kunjung datang menemuinya padahal ia sudah berjanji.


"Dimana semua karyawan. Kenapa sepi sekali, padahal ini belum terlalu malam, apa mereka semua tidak lembur." ujar nya berjalan di tengah kegelapan.


Entah mengapa semua lampu padam tak ada cahaya sedikitpun, hanya mengandalkan senter ponselnya.


"Siapa? keluar kau." teriak Kevin mengendap endap membuka satu persatu ruangan yang ada di sana.


Bukkkkk...


Agrhh.... pekik Kevin punggungnya di pukul oleh seseorang dari belakang, mau melawan tapi dirinya kini terkulai lemas di lantai karena ada jarum yang disuntikkan ke tubuhnya.


#FLASHBACK


"Bagaimana? Tuan Kevin terhormat. Rasanya di dikhianati oleh orang terdekatmu." ucap nya kali ini ia memukul keras perut Kevin berkali kali hingga mengalir darah segar di sudut bibirnya.


Ikatan Kevin sengaja dilepaskan olehnya. "Ku beri kesempatan mu untuk melawanku. Ayo bangun! lawan aku sekarang, kenapa diam saja." teriaknya menggema di seluruh ruangan itu.


Tubuh Kevin terasa seperti tak punya tulang ia sungguh lemas tak bisa bergerak sama sekali, hanya menatap orang di depannya tajam.


BERSAMBUNG