
"Lihatlah itu My Prince. Sangat indah." ucap Hana keras ia menunjuk ke arah matahari yang terbenam di sore hari.
Langit yang berubah dari biru es menjadi huru hara merah, kuning, merah muda yang sangat indah dan cantik dipandang mata.
Hana segera mengambil gambar pemandangan yang sangat indah itu.
Dan meminta Kevin berjalan sedikit menjauh dari kamar hotel mereka agar terlihat lebih jelas di saat ia memotretnya.
"Kita mau kemana sih! dari sana juga masih kelihatan, kenapa harus jauh jauh kesini." ucap Kevin di belakang Hana.
"Jauh. Ini dekat kok dari hotel, disini lebih indah, kalau disana agak terhalang pohon pohon salju itu." ucap Hana.
"Aku baru ingat Doni pasti sekarang sedang mencariku. Ponselku mana? Kamu menyembunyikan dariku." ucap Hana menyodongkan tangannya ke Kevin.
"Buat apa? pakai saja kamera. Itu lebih bagus hasilnya." ucap Kevin.
"Bukan begitu My Prince. Orang orang rumah pasti panik mencari kita." ucap Hana.
"Aku sudah urus semuanya. Kamu tenang saja." ucap Kevin.
Hana menatap Kevin curiga ia tak percaya dengan perkataan suaminya begitu saja.
"Kamu tidak percaya padaku." ucap Kevin merasa risih dengan tatapan Hana.
Hana menodongkan tangannya kembali ia tetap ingin membuktikan sendiri perkataan Kevin meminta ponselnya.
"Apalagi. Yaudah ini ponselmu, PUAS." ucap Kevin terpaksa memberikan apa yang Hana mau.
"Nah! gitu dong dari tadi. Sebelah sana bagus, kita kesana yuk!" ajak Hana menunjuk ke arah jalan yang sepi ia baru saja memotret dengan ponselnya.
"Nggak ada. Kita balik ke kamar." ucap Kevin menarik tangan Hana berjalan dengan cepat.
"Hei. Pelan pelan dong jalannya, jangan terlalu cepat." ucap Hana berjaln agak berlari mengimbangi Kevin.
Karena terlalu lama Kevin membopong tubuh Hana di pundaknya.
"Turunkan aku." ucap Hana merasa malu karena banyak orang yang sedang bermain ski melihat ke arah mereka yang terlihat sedang menahan tawanya bahkan juga ada yang tertawa.
Kevin tidak memperdulikan ucapan Hana ia terus saja membopongnya sampai ke dalam kamar hotel mereka.
"Nyebelin banget deh! kamu. Malu tau dilihatin orang orang itu." ucap Hana cemberut ia memalingkan mukanya.
Kevin pergi meninggalkan Hana ia masuk ke dalam kamar mandi.
"Malah pergi." gerutu Hana kesal ia membuka ponselnya kaget melihat notifikasi begitu banyak.
Mulai dari panggilan telepon yang tak terjawab hingga pesan semua akun sosial media miliknya bermunculan di layar Handphone nya sampai memenuhi layar tak henti hentinya.
Drettt >>> Drettt >>> Drettt
Suara Handphone Hana bergetar
~>> [[ Hallo. Ada apa kak?]] ucap Hana mengangkat panggilan dari Lee Tae Yeong ia menekan tombol speaker lalu melemparkan ke kasur.
Hana tau kalau Lee Tae Yeong pasti bertanya kenapa dia menghilang dengan pertanyaan yang bertubi tubi.
"Honey. Bagaimana kabarmu, kamu ada dimana, sama siapa? biar aku samperin kesana." tanya Lee Tae Yeong keras tebakan Hana benar.
~>> [[ Honey. Honey, jawab dong! ]] panggil Lee Tae Yeong awalnya lembut jadi keras.
Tak ada jawaban dari Hana Lee Tae Yeong melakukan panggilan Video Call
Hana mengangkat VC dari Lee Tae Yeong dengan melambaikan tangannya ke arah kamera.
~>> [[ Honey. Sebenarnya dimana kamu, tempat itu seperti di luar negeri, kamu ada disana, bersama Tuan Sombong itu, apa yang dia lakukan padamu. ]] tanya Lee Tae Yeong lagi.
~>> [[ Bulan Madu. ]] sahut Kevin dibelakang Hana ia menjawab pertanyaan Lee Tae Yeong dan merangkul pinggang Hana mesra.
~>> [[ Kamu. Dimana kalian sekarang? ]] tanya Lee Tae Yeong.
~>> [[ Lapland, Finlandia. Sebentar lagi kita mau melihat Northern Light. ]] jawab Hana tersenyum ke arah Kevin.
~>> [[ What? Honey, itu kan tempat impian kita. Kamu curang mau pergi kesana nggak bilang sama aku. ]] ucap Lee Tae Yeong.
~>> [[ Kita. Memang kamu siapa? seharusnya aku yang mengatakan itu.]] ucap Kevin.
~>> [[ Aku kakaknya. Ngerti kamu. ]] ucap Lee Tae Yeong.
~>> [[ Sudahlah. Kalian ini, kerjaannya bertengkar mulu, nggak malu sama umur. ]] ucap Hana kesal.
Lee Tae Yeong memilih mengakhiri panggilan vidio mereka ia malas harus berdebat dengan Kevin yang banginya tidak ada ujungnya.
"Nggak boleh gitu ahh! Kak Tae Yeong itu orangnya sangat baik. Yah!, walaupun sedikit nyebelin sama sepertimu." ucap Hana melirik Kevin.
"Kenapa jadi aku. Kamu juga cerewet, kita sama berdua saja, kamu ceritakan sedikit tentangnya." ucap Kevin tangannya memeluk Hana menempatkan dagunya ke bahu Hana.
"Kak Tae Yeong itu teman SMP aku. Tepatnya kakak kelas, tapi waktu itu penampilannya benar benar sangat culun, dia sering sekali dibuly teman temannya, tapi aku tidak tau dia tiba tiba saja menghilang tidak ada kabar sama sekali, setelah itu kita bertemu lagi di markas Singa Merah, penampilannya jauh banget dari sebelumnya, dia sangat keren dan jago bela diri, bahkan mengalahkan banyak anak buah dari Singa Merah." ucap Hana.
Mengingat ingat kejadian dalam bayangannya tidak tampak begitu jelas karena ada sesuatu hal yang ia lupakan entah itu apa.
Tak terasa waktu mulai jam sembilan malam Kevin terus bertanya tentang Lee Tae Yeong ia sendiri awalnya tidak percaya tapi itu yang keluar dari mulut Hana mana mungkin sedang berbohong padanya.
"Serius. Dia membunuh orang dan itu di hadapan kamu, apa dulu Lee sekejam itu orangnya." tanya Kevin tak percaya.
Hana tidak menjawab ia malah pergi ke luar kamar hotel mereka dengan buru buru menatap langit yang awalnya gelap menjadi terang di saat cahaya hijau dari utara muncul di atas langit.
Orang orang yang menginap disana juga segera keluar menyaksikan keindahan alam yang luar biasa.
"BABY. Kenapa kamu berlari?" tanya Kevin masih belum menyadari ia kemudian menyadari kalau Hana sedang menatap ke arah langit ia sampai tak percaya apa yang dilihatnya.
Pemandangan Northern Lights atau Aurora Borealis secara langsung terpancar di depan mata mereka.
"Sungguh indah ciptaan tuhan." ucap Hana tersenyum senang ia segera mengabadikan momen itu di kamera ponselnya.
•
•
•
BERSAMBUNG