Seleb Intertainment

Seleb Intertainment
139. Belajar Melupakan



"My Prince. Kamu sudah bangun." ucap Hana ketika Kevin menggerakkan tangannya.


Lee Tae Yeong bingung sebenarnya trauma apa yang membuat Kevin sampai seperti itu.


Hana sendiri istrinya tidak tahu karena setiap ia menanyakan pada suaminya Kevin selalu mencari topik pembicaraan lain.


"Akhirnya. Tuan Sombong, kamu itu lemah banget, masa sama hujan saja takut, bagaimana ceritanya, iya kan aneh Honey?" ucap Lee Tae Yeong mendapat tatapan tajam dari Hana.


"Kak? bisa diam dulu nggak. Kevin baru sadar, jangan buat dia tambah pusing karena ocehanmu." ucap Hana menekankan suaranya agar tak terdengar oleh Kevin.


"Oke. Biasa aja kali, jangan menatapku seperti itu, kursinya empuk nih?" ucap Lee Tae Yeong melihat raut wajah Hana ia memilih duduk di sofa yang ada di kamar mereka.


"Hish. Diam saja, jangan bicara dulu." ucap Hana ia kembali duduk di samping suaminya.


Kevin terus saja mengigau ia memanggil nama ayahnya.


Awalnya Hana mengira kalau suaminya akan bangun tapi malah badannya semakin panas padahal ia sudah mengompres dahinya dan memberikan minyak ke hidung Kevin tapi tak kunjung sadar juga.


"Kak Tae Yeong? bantuin. Kenapa diam saja disitu, bangunin Kevin?" pinta


Hana mengajak bicara tapi Lee Tae Yeong hanya menatapnya santai.


Lee Tae Yeong memiringkan posisi kepala Kevin ia juga mengambil satu bantal ditempatkan dibawah agar posisi kaki lebih tinggi biar Kevin mendapat oksigen dan darah yang cukup ia juga menyuruh Hana agar sedikit melonggarkan ikat pinggangnya dan melonggarkan pakaiannya.


"Honey. Coba kamu buka baju suamimu." ucap Lee Tae Yeong.


"Buat apa kak? nanti kalau kedinginan bagaimana? Kevin paling tidak kuat dingin." ucap Hana.


"Sudah. Biar aku saja yang melakukannya, kamu itu kan istrinya, membuka baju suaminya saja malu." ucap Lee Tae Yeong selesai melakukannya ia juga memberikan minyak ke pelipis serta leher Kevin.


Kevin tersadar Hana langsung menyandarkan tubuhnya agar duduk santai karena kepalanya sangatlah berat ia harus dibantu oleh Lee Tae Yeong yang sebelumnya sudah mengambilkan air hangat kemudian diminumkan ke Kevin.


"Kamu ganti baju dulu." ucap Hana memakaikan suaminya pakaian yang longgar.


"Terima kasih Lee. Karena sudah membantuku, rasanya ini sangat memalukan, aku sampai pingsan seperti ini." ucap Kevin pelan.


"Apa kamu tidak berkonsultasi ke dokter tentang keadaanmu. Nggak baik kan kalau terus begini, kalau orang lain yang melihatmu bagaimana? mereka bisa saja memanfaatkan hal ini." ucap Lee Tae Yeong.


"Atau kamu bisa cerita ke kita. Tentang masalahmu, jangan disimpan sendiri, sebenarnya apa yang membuatmu seperti ini?" ucap Lee Tae Yeong lagi tak ada jawaban dari Kevin ia malah meneteskan air matanya.


Kevin bahkan tidak mampu bercerita karena beban dalam hidupnya terlalu berat.


Masa lalunya yang membuatnya seperti itu setiap mengingatnya itu akan membuat hatinya terasa sakit bagaikan teriris pisau yang tajam.


"Kamu pikir aku gila. Ini cuma trauma saja, aku sendiri bisa mengatasinya." ucap Kevin tak terima ia memukul ke Lee Tae Yeong dengan bantal guling.


"Apa semua yang datang kesana itu gila, setidaknya bisa menyembuhkan rasa traumamu, atau kamu bisa melawan rasa takutmu." ucap Lee Tae Yeong.


"Jangan menyimpan rasa sakit terlalu lama. Itu akan semakin membuat hati kita semakin sakit, belajar lupakan masa lalu, walaupun itu sangat sulit." ucap Lee Tae Yeong lagi.


Kevin bercerita sama Hana dan Lee Tae Yeong kalau dulu ia pernah ditinggalkan oleh ibu kandungnya di jalan sendirian sampai bajunya basah karena kehujanan dan mendengar gemuruhnya suara guntur seperti sedang bersahut sahutan.


Pada akhirnya Kevin bertemu dengan Fadly dan Sinta yang mau menjadikannya anak karena sebelumnya kandungan Sinta harus diangkat ia mengalami luka tembak yang dialaminya kalau tidak itu akan membuat nyawanya terancam.


Yang paling membuat Kevin sakit hati sedari kecil ia ikut dengan ibu kandungnya tapi ia tak diberikan nama olehnya seperti anak anak lain yang mendapatkan kasih sayang darinya.


"Ternyata Tuan Sombong ini. Dia lebih kuat dariku, selama ini aku mengira, kalau Kevin mendapatkan kasih sayang yang penuh dari ibu kandungnya, walaupun Mami sama Papi bukan orang tua kandungku, mereka merawatku dengan baik, memberikan nama untuku, andai saja aku dan Kevin tidak terpisah, pasti kita tidak akan sering bertengkar, seperti sekarang ini." batin Lee Tae Yeong dalam hatinya.


Hana yang mendengarnya ikut menangis pasalnya ia sendiri juga mengalaminya.


"Honey. Tuan Sombong, bagaimana rasanya mengeluarkan air mata, kenapa kalian mudah sekali menangis, kasih tau dong ke aku, ada obat tetes mata nggak." tanya Lee Tae Yeong membuat Hana tersenyum.


"Buat apa kak?" tanya Hana balik.


"Ya buat ikutan nangis seperti kalian. Sepertinya seru, seumur hidup aku tidak pernah merasakannya." jawab Lee Tae Yeong mengangkat bahunya.


Kevin menatapnya tak percaya mana mungkin ada orang yang tidak pernah merasakan kesedihan sampai mengeluarkan air mata.


"Nggak percaya. Kamu bisa tanya sama Hana, kehidupan itu keras, setiap manusia pasti punya permasalahan yang berbeda, walaupun harta berlimpah buat apa? kalau kita tidak bahagia." ucap Lee Tae Yeong membuat Kevin tertegun mendengarnya.


"Ternyata orang sepertimu. Bisa berkata bijak juga, segeralah menikah, nanti bisa jadi perjaka tua lho!" ucap Kevin tersenyum sedangkan Lee Tae Yeong memilih keluar dari kamar mereka.


"BABY. Dia kenapa? marah." tanya Kevin menatap wajah istrinya dekat.


"Hmm. Mungkin, sudahlah jangan dipikirkan, bagaimana denganmu apa kepalanya masih pusing?" tanya Hana balik.


Kevin menggeleng ia memeluk Hana erat dalam dekapannya.


Lee Tae Yeong yang melihat kemesraan merasa ia hatinya sedikit teriris karenanya tidak tau kenapa susah melupakan cintanya terhadap Hana walaupun sudah berusaha sekeras mungkin.


Tapi melihat kebahagiaan orang yang dicintainya ia sudah merasa senang walaupun tak bisa memilikinya.


BERSAMBUNG