
Hana menyuapi suaminya dengan telaten karena Kevin selalu beralasan untuk menghindari makanan.
"Nggak mau. Kamu aja yang makan, lagipula itu rasanya hambar." ujar Kevin memalingkan muka.
"Baru juga sesuap. Ayo! buka mulutmu, aaaa!" pinta Hana memperagakan nya ia mengikuti kemana suaminya bergerak.
"My Prince. Kamu harus makan, nanti tubuhmu lemas lho! setelah ini obatnya harus." ucap Hana terpotong.
"Siapa nama anak anak kita?" tanya Kevin ia masih penasaran.
"Makan dulu. Dan minum obatnya, jika tidak, aku nggak akan kasih tau." ucap Hana sedikit mengancam.
Kevin menggeleng. "Sampai kapan aku harus memakan makanan tanpa garam. Apalagi obatnya rasanya pahit." protesnya tanpa menoleh ke istrinya.
"Dimana mana obat itu rasanya pahit. Permen baru manis, itu sudah prosedur dari dokter kalau kamu hindari makan makanan yang mengandung garam, kalau perlu hindari itu." ujar Hana.
"Lho! kenapa? Apa masalahnya? dokter itu pasti bilang yang nggak nggak." Kevin berdesis kesal.
"Benar kata mama." lirih Hana.
"Kamu bilang apa tadi. Aku tidak mendengar nya." ujar Kevin.
"E-enggak. Aku mencintaimu." elaknya Hana tersenyum manis tangannya membentuk hati.
"Emm...! aku juga mencintaimu. Hana Seo Yeon." balas Kevin ia membuka mulutnya, agar Hana kembali menyuapi nya.
Ternyata ucapan Hana membuat Kevin mau makan kembali.
Tok tok tok...
"Siapa? disini nggak menerima tamu." teriak Kevin karena pintunya tak terkunci.
Ish... "Sorry. Apakah saya mengganggu kalian?" suara itu terdengar tak asing di telinga Kevin ia sudah menduga sebelumnya.
"Dia lagi. Bisa tidak satu hari tidak melihatnya." gumam Kevin.
"Sedikit. Ada perlu apa kak?" ucap Hana membukakan pintu nya.
Lee sedikit melirik ke Kevin ia terlihat ingin menyampaikan sesuatu.
"Kalian bisa cari tempat lain untuk bicara." seru Kevin seakan tau dari gerak geriknya, setelah itu Hana meminta izin padanya.
"Thanks bro!" ucap Lee Tae Yeong melambaikan tangannya.
"Inilah resikonya. Bahkan hampir semua teman dan sahabatnya laki laki semua, apa dia tidak punya teman wanita untuk di ajak bicara, kalau bukan karena Lee saudara kembarku, sudah ku usir dia dari sini." ucap Kevin sedikit kesal.
Satu jam berlalu...
Akan tetapi yang di nanti kedatangan nya tak kunjung datang.
Kevin sampai tak bisa tidur ia terus menoleh ke pintu, suara knop terdengar, dugaan nya salah, ternyata itu Fadly.
"Papa?"
"Sepertinya kamu nggak senang kedatangan papa?" ujar Fadly melihat ekpresi wajah anaknya berubah.
"Papa kira kamu sudah tidur. Hana ada di kamar anak anak, tadi mereka rewel minta di temani ibunya, sebaiknya kamu istirahat." lanjutnya Fadly menepuk pundak anaknya.
"Sekarang kamu bukan hanya suami bagi Hana. Tapi juga seorang ayah, dulu Papa juga pernah mengalaminya." lanjutnya lagi.
"Serious. Perasaan waktu aku kecil nggak rewel." ujar Kevin.
Haa...Haa...Haa... "Iya. Tapi kamu ini hampir setiap hari minta di temani mama. Bahkan istriku saja lebih peduli padamu daripada suaminya sendiri." ujar Fadly sembari tertawa.
"Hayo! kalian lagi ngomongin siapa?" Sinta berbicara di telinga suaminya.
"Biasalah urusan laki laki. Sayang, ayo!" Fadly mengajak istrinya pergi dari kamar mereka.
"My Prince. Kamu belum tidur, udah malam lho!" ucap Hana duduk di samping suaminya.
"Mataku belum bisa di ajak kerja sama. Sebelum melihat bidadari ku." ucap Kevin menggoda nya.
Kevin memeluk pinggang istrinya manja. "Kira kira kapan aku boleh makan lagi." ujarnya membelai wajah istrinya mesra penuh kasih sayang.
"Ooh iya. Kamu mau tau kan siapa nama anak anak kita." ucap Hana mengalihkan perhatian.
"Putri kita yang cantik namanya. Kim Yoora." ucap Hana.
"Selain cantik. Dia mempunyai hati selembut sutra." ucap Kevin.
"Nama putra kita. Kim Jung Hwa." ucap Hana mengusap wajah suaminya.
"Selain mulia. Dia juga kaya dalam segala hal." Kevin menjelaskan pada Hana.
"Bagaimana kamu tau artinya?" tanya Hana.
Kevin memberikan buku diary ke Hana, itu memang milik istrinya. "Waah! suamiku keren. Aku kira kamu semuanya, ternyata." ujar Hana menggeleng pelan.
*P**agi Harinya*...
Wajah tampan pria di sebelahnya membuat Hana terpesona, ia tak menyangka jika suaminya bisa kembali berkumpul kembali.
"Good Morning. BABY" ucap Kevin mengecup bibir mungil istrinya.
Seketika wajah Hana memerah ia terkejut, ternyata suaminya sudah terbangun.
"Kamu tidak berniat untuk membalasku." ucap Kevin mengedipkan sebelah matanya genit.
"Mau kemana? tetaplah disini. Aku masih merindukanmu." tanya Kevin menarik tangan istrinya duduk di pangkuan nya.
Cupp...."Aku juga merindukan suamiku yang tampan dan bawel ini." Hana membalas kecupan nya.
"Wow. Romantis, pagi pagi begini rasanya segar sekali." Lee berada di antara mereka, entah kapan datangnya.
"Kau lagi. Cari kerjaan apa gitu sana, dari pada gangguin orang aja." ujar Kevin menatap nya tajam.
"Santai kali bro! aku cuma mau mengantarkan sarapan untukmu." ucap Lee menempatkan nampan makanan berisi ke nakas.
"Lalu. Kenapa kau masih disini? sana pergi." usir sang pemilik kamar.
"Okay! aku keluar. Honey!" ucap Lee pergi kemudian kembali lagi menyapa Hana.
"My Prince. Tahan emosimu." ucap Hana meredakan amarah suaminya.
"Sorry. BABY" ucap Kevin lesu.
***
Hana mengajak suaminya jalan jalan sekeliling taman rumahnya untuk menghirup udara segar di pagi hari.
"Kata dokter kamu harus sering bergerak. Agar otot ototmu tidak terasa kaku." ucap Hana menuntun suaminya berkeliling sekitar taman.
"Tapi aku lelah. Boleh istirahat sebentar." keluhnya.
"Baru juga selangkah udah capek aja." lagi lagi Lee datang.
Kevin menarik nafasnya dalam dalam ia tak mau kepancing emosi.
"Kak Lee?" Hana mengarahkan kepalanya.
"Honey! Yoora dan Jung Hwa, apa mereka sudah bangun?" tanya Lee.
"Nggak tau. Bisa minta tolong, kak Tae Yeong ke kamar mereka, takutnya Yoora dan Jung Hwa sudah bangun." pinta Hana.
"Dengan senang hati." ucap Lee tersenyum.
Sesampainya di kamar mereka Lee mendapati Yoora terbangun.
"Hey! Baby Yoora. Good morning, keponakanku sudah bangun." ucap Lee menggendong nya.
BERSAMBUNG