Seleb Intertainment

Seleb Intertainment
159. Rencana Jahat



Hari hari berlalu kini tak terasa sudah beberapa bulan Kevin tinggal terpisah dengan istrinya.


Rasa rindu menggebu gebu di dalam hatinya teramat sangat terhadap wanita tercinta dan juga calon buah hati yang kini tengah memasuki tujuh bulan usia kandungan Hana.


"Kenapa gelap. Dimana Mama sama Papa?" gumam Hana mengerjabkan matanya memandang disetiap sudut taman belakang.


"Katanya mereka ada disini. Ini kok sepi, tapi tadi bukannya menyuruhku." gumam Hana terperangah ketika melihat seseorang yang ia rindukan berada di depan memberikan buket bunga mawar.


Ada delapan warna disana masing masing tertata rapih di pot dan juga buket bunga mawar merah berukuran besar menutupi wajahnya.


"My Prince. Kenapa kamu tidak memelukku, apa bunga itu lebih penting daripada istrimu." ujar Hana pura pura cemberut.


Kevin melemparkan buket bunga ke Lee tanpa aba aba untungnya tidak sampai jatuh langsung ditangkap olehnya.


"Waah! sembarangan. Dia pikir aku tempat pembuangan apa?" gerutu Lee kesal padahal ia baru saja sampai sudah dikejutkan bunga dilemparkan pada nya.


Ingin membuangnya tapi sayang karena mengingat Hana suka dengan bunga mawar.


"Sabar Tuan. Ini ujian, cari istri gih! sana, dari dulu jomblo aja." ucap seseorang menepuk pundak Lee dari belakang.


"Kamu siapa? sok akrab. Pergi sana" usir Lee menyenggol perut orang itu.


"Okay. Tampan sih! tapi tidak laku laku, haa...haa...haa." ujar tertawa membuat Lee kesal ingin sekali ia menyumpal mulut dengan bunga.


"Caitlin?" teriak Lee begitu keras.


Pasangan suami istri saling menatap kemudian ikutan tertawa juga diikuti orang orang didalam sana.


"Dia sahabatku. Dari SMP sampai sekarang, takdir selalu mempertemukan kita." ujar Kevin seakan mengerti isi pikiran istrinya saat ini.


"Cantik. Seberapa dekat kalian, apa seperti hubungan aku dan kak Tae Yeong?" tanya Hana penasaran.


Penampilan Caitlin cantik menawan, manis, tinggi putih blasteran Korea Inggris, body molek bak model, mata indah berwarna biru muda, semakin membuat siapa saja melihatnya langsung jatuh hati padanya.


"Lebih dekat dari kalian. Dia itu ku anggap sebagai adik, sahabat, saudara." jelas Kevin berhenti.


"Stop. Aku sudah tau." ucap Hana cemberut memalingkan muka.


Kevin malah tersenyum dibuat nya ia sengaja menggoda istrinya baginya itu sangat lucu juga cantik.


"Suami pulang kenapa malah cemberut. Eeeh! tapi tambah cantik lho!" ujar Kevin mengecup bibir istrinya mesra.


"Hee...Hee. Kamu takut yah! kalau aku marah, tenang aja, istrimu ini bukan wanita cemburu, cuma gara gara dia lebih cantik dariku." ucap Hana tersenyum.


Kevin mencubit hidung istrinya gemas sampai tak mau melepaskannya.


"Aduh! My Prince?" celetuk Hana kesal.


"Ooh iya. Aku lupa, Lee? bunga nya, cepat bawa sini, kalian malah pacaran dirumah orang." panggil Kevin mendapat tatapan tajam darinya.


"Hey! kau pikir aku pembantu apa. Ini pegang, berat tau, Honey?" ujar Lee langsung dipersembahkan ke Hana.


"Thanks. Kak Tae Yeong baik deh! indah sekali mawar merah." ucap Hana melirik ke arah suaminya sengaja menggoda nya.


Dari belakang Kevin mentoyor kepala saudara kembarnya.


"Itu punyaku. Susah tau, cari bunga tengah malam." ujar Kevin.


"Buat lalapan. Menutup mulutmu, dasar bawel, udah sana pergi, kemana gitu, jangan disini, ganggu orang aja." usir Kevin mendorong pelan bahu Lee.


Dari belakang Caitlin menarik kerah Lee untuk ikut dengannya.


"Lepaskan tanganmu. Hey! aku belum selesai berbicara dengan Tuan Sombong itu." teriak Lee mau tak mau harus mengikutinya karena tarikan lumayan erat ia juga tidak bisa menoleh.


"Strong women." gumam Hana.


Kini Kevin mengangkat tubuh istrinya dibawa ke kursi taman kemudian berlutut dihadapan nya membawa sekuntum bunga mawar putih diberikan kepadanya.


"Wow. Cantiknya" ucap Hana tersenyum menerimanya.


"Kamu tau apa arti bunga mawar putih ini?" tanya Kevin.


"Apa yah! emm...! nggak." jawab Hana menggeleng.


"Artinya. Melambangkan kesucian, kemurnian serta ketulusan cinta ku padamu, dan" jelas Kevin melanjutkan dengan membisikkan sesuatu di telinga istrinya.


Hana terperangah mendengarnya memukul pelan bahu suaminya.


"Maksudnya apa. Itu semua juga gara gara kamu." ujar Hana kesal melipat kedua belah tangannya.


Haa...haa...haa. "Bercanda. Lagi pula, bukan cuma aku saja, tetapi kamu juga lebih profesional, dan hasilnya ada didalam sini." ujar Kevin mengusap pelan perut Hana mengecup lembut.


"Nak? nanti kalau kamu sudah lahir. Terus tumbuh besar, ibu sarankan jangan meniru sifat ayahmu." ucap Hana mengelus elus perutnya.


"Lho! kenapa? ayah ini kan tampan. Kurang apa coba, buktinya ibumu cinta." ujar Kevin lagi kembali mengecup perut istrinya.


"Kurang makan. Lihatlah tubuh ayahmu, semakin kurus, padahal lebih bagus punya pipi cuby, gemoy, tampan mempesona." ujar Hana.


Memang benar apa katanya, Kevin tubuhnya kurang berisi, karena sudah lama tak bertemu dengan Hana, ia terlalu fokus bekerja sampai tak sempat memikirkan dirinya sendiri hanya untuk cepat menyelesaikan urusan nya agar bisa berkumpul kembali dengan keluarga.


"BABY. Sebaiknya kita masuk kedalam kamar saja, tidak baik angin malam buat wanita hamil." ajak Kevin mengangkat tubuh istrinya.


"Aku berat yah!" ucap Hana melihat wajah suaminya sembari merangkulkan kedua tangannya.


"Enggak. Ringan kok! berapa banyak dalam sehari kamu makan?" elak Kevin balik bertanya.


"Berarti aku berat dong. Jujur deh!" ujar Hana mengulum senyum.


Di Markas Singa Merah...


Sang boss besar marah besar mendapati semua rencananya tidak berhasil. Satu persatu anak buahnya dihantam olehnya sampai babak belur karena tugasnya dianggap gagal dan juga lalai.


"Ayah?" gumam anak dari ketua mafia itu kesakitan.


"Ini semua salahmu. Rencanamu terlalu bertele tele, sampai kapan kita harus menunggu kehancuran keluarga Pratama." ucap lelaki bertopeng memukul kencang perut anaknya berkali kali tanpa ada balasan hingga tersungkur lemas.


Bukkkk.... Bukkk....Bukkk....


"Kau terlalu dibutakan oleh cinta. Ayah sudah siapkan rencana selanjutnya, kali ini harus berhasil, mereka semua akan hancur tanpa tersisa." ucap lelaki bertopeng itu menyeringai.


Mengarahkan anak buahnya untuk menyeret anaknya memegangi kedua tangannya kemudian memasukan sebuah pil kepadanya secara paksa karena tak berdaya lagi.


BERSAMBUNG