
"Kau tau siapa saya?"
Lee melemparkan segepok uang ke wajah wanita itu. "Ini kan yang kau mau." teriak nya ia menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung cafe.
"M-maafkan saya tuan. T-tolong jangan pecat saya." pinta wanita itu memohon hingga bersimpuh di kakinya.
"Singkirkan dia dari hadapanku sekarang." titah Lee pada pegawai nya.
Suasana hati Lee benar benar kacau tambah berantakan, ia mengemudi sendiri dengan keadaan setengah mabuk.
Chitttttt.... hampir saja dirinya menyerempet bahkan hampir menabrak pengendara lain, jika terlambat sedetik saja.
"Bisa nyetir nggak sih! keluar kau." teriak perempuan yang mobilnya lecet karena ulah Lee.
"Sial. Beraninya kau berteriak di hadapanku." ujar Lee keluar dari mobil nya.
Dua mata menyorot tajam, tatapannya sangat menyayat.
"Apa maumu?" tanya Lee berkacak pinggang ia beralih mengambil uang tunai dari dalam mobilnya ia berikan padanya.
"Maksud anda apa? kau pikir dengan uang. Semua masalah selesai begitu saja." ujarnya orang itu.
"Ciih!di jaman sekarang masih ada perempuan menyamar jadi laki laki." batin Lee perlahan menarik tangan dan di dorong hingga tersudut ke mobilnya.
"Kau tau kan ini jam berapa? tidak baik seorang wanita berkeliaran malam malam begini. Alangkah baiknya kamu pulang, bersih bersih, lalu tidur." ujar Lee berkata pelan.
"Dari mana dia tau aku bukan laki laki. Apa penampilanku kurang sempurna?" batin orang itu terkejut bukan main.
"Anda menghinaku. S-saya ini laki laki bukan perempuan." elaknya orang itu.
Lee membuka topi dan merobek jaket orang di hadapan nya dalam sekali gerakan.
"Terbukti kan sekarang. Siapa yang sebenarnya berbohong." ujar Lee dengan raut wajah puas.
"Apa yang kau lakukan? lepaskan saya." pintanya menatap wajah Lee begitu dekat.
"Okey." ujar Lee melemparkan jas nya ke perempuan di hadapannya kemudian pergi meninggalkan nya sendiri.
Lee mengemudikan mobilnya secepat kilat menuju ke apartemen miliknya.
Meskipun mabuk efeknya hanya sebentar, ia juga sadar apa yang di lakukan sebelumnya.
*****
Di rumah Kevin
"My Prince. Kamu belum tidur." ucap Hana melihat jam dinding, jam tiga pagi.
"Nggak tau. Aku nggak ngantuk sama sekali, mataku seakan sulit terpejam, maaf mengganggu istirahat kamu." ujar Kevin.
Hana menggeleng kan kepalanya. "Kamu gak ganggu kok!" ujarnya memeluk tubuh suaminya erat.
"Apa perlu aku menyanyikan lagu untuk kamu?" lanjutnya Hana mendongak kan kepala menatap lekat wajah suaminya.
"Sebaiknya kita tidur. Ini sudah malam." ujar Kevin.
Hana memajukan bibirnya. "Bilang aja tidak mau. Suara ku gak jelek jelek amat." gerutunya membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
Kevin mengingat kata kata dari Lee agar tak membiarkan Hana bernyanyi.
#FLASHBACK
"Hai! bro. Kelihatannya happy sekali, ada apa?" sapa Kevin merangkul bahu Lee.
"Tadi aku mendengar istrimu bernyanyi." ujar Lee.
"Bagaimana suaranya?" tanya Kevin penasaran.
"Kacau. Semua pengunjung cafe di buat."
Kevin semakin penasaran. "Aku yakin mereka pasti terpana sama penampilan Hana." sela nya.
"Okay. Kau tidak berbohong kan." ucap Kevin ragu ragu.
#FLASHBACK
"Katanya mau tidur. Kenapa mata kamu masih terbuka?" ucap Hana mengagetkan suaminya.
"Dari tadi udah terpejam. Kamu nya aja yang tidak melihatnya." ujar Kevin.
"Masa sih!" Hana kembali berbicara.
Kevin mengecup bibir mungil istrinya, membuat Hana melongo."Wow. Sangat menggairahkan, tapi masih ada yang kurang." ujar Hana menunjuk ke arah kedua pipinya dan juga dahi.
"Kamu pasti sengaja menggodaku." ujar Kevin.
(Aku tidak menggodamu) "I'm not teasing you." elaknya Hana tersenyum senang.
"Awas aja nanti kalau aku udah sembuh. Kamu akan ku beri hukuman yang setimpal." ucap Kevin sedikit mengancam.
(Aku menunggumu) "I'm waiting for you." ucap Hana kali ini ucapannya lebih menggoda.
Kevin mendaratkan ciuman ke bibir Hana secara tiba tiba, meskipun hanya sebentar tapi itu membuat Hana kegirangan, selama setahun rasanya seperti pertama kali bertemu.
*****
Esok Harinya....
Sepasang suami istri itu tertidur begitu lelap hingga tak mendengar ada yang mengetuk pintu kamarnya beberapa kali.
Tok tok tok...
"Hana? Kevin? Mama udah siapin sarapan. Turun yuk! kita sarapan bareng." panggil seseorang di balik pintu.
"Bagaimana Mah? apa mereka ada di dalam?" tanya Fadly.
"Nggak tau pah. Tidak biasanya seperti ini, mungkin menantu dan anak kita masih tidur." jawab Sinta mengangkat kedua bahunya.
"Eeh! cucu cucu nenek." ucap Sinta tersenyum melihat mereka dalam gendongan Lee, ada di sisi kanan kiri nya.
"Oh iya. Pah! Kevin dimana? dia belum bangun juga, sama seperti ibunya." Lee melihat pintu kamar nya masih tertutup.
Di dalam kamar Kevin terbangun karena mendengar suara dari luar kamarnya. "Seperti suara Yoora." gumam nya pelan pelan turun dari ranjang, takutnya Hana terbangun.
Kevin membuka sedikit pintunya ia melihat interaksi kedua anaknya terhadap Lee, ada rasa tak percaya diri dalam benaknya.
"Eeh! ada Pappy kamu sayang." ucap Lee ketika Kevin datang menghampirinya.
Kebetulan di samping kamar itu ada sofa untuk bersantai.
"Hai bro! apa kabar? Honey ada dimana?" tanya Lee.
"Sebenarnya kau ini saya atau istriku. Jujur, kau masih mencintai nya kan, ngaku aja, aku gak akan marah." bisik Kevin penuh penekanan.
Lee terdiam. "Emm...! iya. Tapi hanya sebatas saudara. Ooh! aku ada sesuatu untukmu." ujar Lee ia memberikan papper bag.
"Tenang aja. Itu bukan bom atau semacamnya." ucap Lee melanjutkan.
Kevin enggan menerimanya tapi karena di paksa.
"Itu punya mu bukan. Surat pengalihan aset aset mu, aku telah mengambilnya dari pengkhianat itu." ujar Lee.
"Thanks. Kau baik juga ternyata, ini bukan karena istriku kan." ucap Kevin.
"Tentu saja tidak. Kau harus berterima kasih sama anak anakmu." ucap Lee.
Dari belakang mereka Hana sangat senang melihat suami dan Lee akur.
BERSAMBUNG