Seleb Intertainment

Seleb Intertainment
88. Mendengar Suaramu



Tujuh hari kemudian


Semenjak kejadian itu Hana belum juga sadar sedangkan Kevin selalu setia menemaninya walau harus bolak balik ke kantor karena ada banyak pekerjaan yang harus ia tangani meskipun selama tiga hari Kevin ia hanya bisa melihat Hana dari luar ruangan tanpa diperbolehkan masuk.


~>> [[ Hallo Hyun. Ada apa kamu menelfonku.]] ucap Kevin dalam panggilannya.


~>> [[ Kamu ada dimana? Hana sudah sadar.]] ucap Kwak Hyun.


~>> [[ Oke. Sekarang juga aku akan kesana, tolong kamu jaga Hana sebentar. ]] ucap Kevin sambungan panggilannya terputus saat Kwak Hyun ingin bicara lagi.


"Kevin? Sebentar lagi kan ada operasi. Mana mungkin aku tinggalkan Hana." ucap Kwak Hyun bimbang.


Kevin memilih memindahkan Hana di rumah sakit milik keluarga Pratama setelah melakukan operasi agar lebih dekat dengan rumahnya tidak harus bolak balik ke luar daerah.


Tiga puluh menit kemudian Kevin baru sampai ke rumah sakit karena sebelumnya ia tiba tiba ada meeting penting bersama klien diCafe.


Sampai disana Kevin malah melihat Lee Tae Yeong yang lebih dulu ada di ruangan Hana.


Kebetulan juga Hana sudah sadar menoleh ke arah pintu yang terbuka Kevin dengan langkah buru buru berhenti di ambang pintu ia malas bertemu dengan orang yang selalu buat darahnya mendidih.


Apalagi Lee Tae Yeong pernah berantem dengan Kevin tiga hari sebelum Hana tak sadarkan diri.


"My Prince?" panggil Hana serak bahkan sangat lirih tapi Kevin mengerti ia melangkahkan kakinya masuk pura pura tidak lihat Lee Tae Yeong yang duduk disamping Hana.


"BABY. Kamu sudah sadar, maaf terlambat, tadi ada urusan sebentar." ucap Kevin melirik Lee Tae Yeong hanya ada satu kursi ia masih berdiri mengusap rambut Hana.


Lee Tae Yeong memilih pergi meninggalkan mereka berdua menunggu di kursi rumah sakit di depan ruangan rawat Hana.


"Tidak apa apa. Wajahmu masih lebam, apa tidak diobati, aku dengar dari kak Hyun kamu berantem sama kak Tae Yeong, Kenapa?" ucap Hana.


"Hmm itu. Sudahlah jangan dipikirkan, apa ini masih sakit?" ucap Kevin mengarah ke pergelangan tangan dengan menggerakkan kepalanya.


Hana mengangguk ia tidak bisa terlalu memaksakan menggerakkan tangannya yang seakan susah untuk digerakan.


Apalagi tubuh Hana terasa berat dan sedikit pusing mungkin karena efek obat yang diberikan oleh Dokter agar bisa istirahat cukup.


"Kenapa menatapku seperti itu. Memang ada yang lucu." tanya Hana melihat Kevin tersenyum kearah nya.


"Ternyata istriku ini sangat hebat. Aku masih tidak menyangka kalau kamu bisa bela diri, seharusnya aku yang melindungimu, ini malah sebaliknya." ucap Kevin mengacungkan jempol ke arah Hana.


"Biasa aja. Aku juga heran, saat itu kamu melamun apa? sampai tidak sadar kalau ada orang yang akan menusuk kamu dari belakang." ucap Hana membuat Kevin tercengang.


"Saking kagumnya pertama kali melihat perempuan bisa bela diri sehebat itu. Jadi lupa semuanya deh?" ucap Kevin.


"Tidak juga. Buktinya aku masuk rumah sakit, mana letak kehebatan itu." ucap Hana.


"Dimana yah! Kehebatan kamu ada disini. Hatimu." ucap Kevin meletakkan tangannya di da** Hana.


Hana tersenyum menatap wajah Kevin yang teramat dekat dengannya.


Kevin mengecup bibir Hana kemudian beralih kedua pipinya.


"Good Morning BABY?" ucap Kevin tersenyum.


"Morning?" ucap Hana membalas senyuman Kevin.


"Kamu tidak ke kantor. Apa kamu suruh kak Al? yang menangani semuanya." tanya Hana.


"Jangan mudah percaya." ucap Hana membuat Kevin menyerngitkan dahinya


"Kok Hana ngomongnya begitu. Akhir akhir ini banyak data kantor yang bocor, pasti ada orang dalam dibalik semua ini, siapa sebenarnya orang yang berkhianat, aku harus selidiki ini semua." batin Kevin.


"My Prince. Malah bengong, apa kamu sudah breakfast?" tanya Hana membuyarkan lamunan Kevin.


"Eh iya. Sudah tadi." jawab Kevin.


"Kamu bohong. Dari tadi aku mendengar suara suara seperti orang yang sedang menahan lapar, tapi itu tidak mungkin aku, karena tadi aku sendiri sudah breakfast." ucap Hana.


"Tau aja. Mendengar suaramu, sudah menjadi sarapan paling terenak sedunia." ucap Kevin.


"Hmm? Gombal banget. Sudah sana makan dulu." ucap Hana menyuruh.


"Tega banget kamu ngusir aku." ucap Kevin dengan wajah serius.


Hana dibuat pusing olehnya ia bermaksud menyuruh Kevin makan malah dianggap mengusirnya.


"Bukan itu maksudku. Aku lihat badanmu agak kurus, jangan telat makan cuma gara gara jagain aku." ucap Hana menatap Kevin sedih.


"Maaf kalau buat kamu sedih. Tadi aku cuma bercanda, Iya aku mau makan, yang jaga kamu siapa?" ucap Kevin.


Tok tok tok


"Masuk." jawabnya dari dalam.


Lee Tae Yeong datang membawa Pepperbag di tangannya.


"Dia lagi. Apa tidak ada orang lain disini selain dia?" gerutu Kevin kesal memalingkan mukanya ke Hana.


"Nggak boleh begitu. Bersikap biasa aja, jangan mudah marah kalau tidak mau berteman dengan hantu." ucap Hana sedangkan Kevin menatap Hana tajam.


"Kak Tae Yeong bawa apa? Banyak banget." tanya Hana pada Lee Tae Yeong.


"Ohh! aku ada sesuatu buatmu." jawab Lee Tae Yeong menyerahkan satu Pepperbag didepan Kevin.


Kevin enggan menerimanya tapi Hana yang memaksanya untuk mengambil apa yang di berikan Lee Tae Yeong.


"Makanan. Buat apa? Ini kamu saja yang makan." ucap Kevin memberikan kembali ke Lee Tae Yeong.


"Apa kamu didalamnya ada racun. Tenang saja itu aman, aku tau kamu lapar." ucap Lee Tae Yeong mengambil kotak berisi makanan lalu meletakkannya di tangan Kevin.


"My Prince. Sekarang kamu makan atau aku tidak akan mau bicara lagi sama kamu." ancam Hana sedangkan Kevin langsung memakan Sandwich yang diberikan oleh Lee Tae Yeong.


"Kenapa rasanya sama, Seperti buatan Hana. Tapi bedanya tetap saja masih enak yang Hana buat." batin Kevin mengunyah sandwich.


"Bagaimana enak tidak. Itu spesial aku yang buat. Ya! anggap saja itu permintaan maaf dariku." ucap Lee Tae Yeong duduk di sofa menyilangkan kakinya dan menyenderkan kepalanya.





BERSAMBUNG