
"Aku bisa jalan sendiri. Kamu tidak perlu menuntunnya." ucap Hana ketika tangan nya di gandeng Kevin.
"Kelamaan. Jalan seperti siput lelet banget kamu." ucap Kevin tanpa aba aba langsung mengangkat tubuh Hana menuju ke mobilnya.
"Aaaaaa. Kevin?" ucap Hana terkejut memukul punggung Kevin kakinya digerakkan maju mundur.
"Kamu itu perempuan. Pakai heels aja tidak bisa." ucap Kevin kini mereka sudah ada di dalam mobil.
"Bukan tidak bisa. Tapi nggak pernah memakai heels setinggi ini, Biasanya cuma lima centi saja." ucap Hana cemberut.
"Itu muka bisa tidak pernah berubah. Sedikit sedikit cemberut, cepat tua lho!" ucap Kevin memasangkan sabuk pengaman kemudian menancap gas.
Hana yang belum siap memasang saltbelt kepalanya akan terbentur dengan sigap Kevin melihatnya tangan yang satunya merentangkan ke depan Hana sebagai pengganti sabuk pengaman.
"Ceroboh. Kenapa belum dipasang Salt Belt nya." ucap Kevin khawatir.
"Hmm. Lupa." ucap Hana tersenyum kaku.
"Masih muda sudah pelupa. Kamu tau kalau sampai terbentur, akibatnya pasti kamu sendiri akan celaka." ucap Kevin keras hingga Hana terkejut.
Nyali Hana menciut ingin menjawab tapi lidahnya rasanya kelu ia hanya bisa diam menunduk mendengar omelan Kevin.
Sebenarnya jantung Hana deg degan begitupun Kevin sangat mengkhawatirkan Hana takut terjadi apa apa dengannya.
"Kenapa diam saja?" bentak Kevin menghentikan mobilnya ke tepi jalan.
Hana diam menahan air matanya agar tidak jatuh Kevin melihatnya Hana seperti ingin menangis Salt Belt nya meraih tangan Hana kemudian memeluknya erat.
"*K*amu tau. Aku seperti ini karena aku takut kamu sampai kenapa kenapa, apalagi didepan mataku sendiri." batin Kevin kemudian melepaskan pelukannya memasangkan sabuk pengaman Hana.
"Kamu jangan seperti ceroboh lagi ya!" ucap Kevin lembut memegang tangan Hana.
"Maaf. Aku memang dari dulu sering ceroboh." ucap Hana langsung mengusap air mata yang hendak jatuh.
"Lain kali jangan ulangi lagi. Dimanapun kamu berada harus lebih hati hati lagi, di rumah sekalipun." ucap Kevin memasang sabuk pengaman nya kemudian menyalakan mobilnya kembali.
"Iya." jawab Hana mengangguk.
"Kamu nggak mau benerin tuh! make up kamu yang berantakann" ucap Kevin membuat Hana langsung mengambil kaca meneliti setiap inci wajahnya ternyata Kevin membohongi dirinya.
"Ini make up anti badai tau. Tidak akan luntur walaupun terkena air." ucap Hana.
"Masa. Dapat dari mana make up semahal itu?" tanya Kevin.
Hana terlihat gugup karena yang beli make up itu dirinya sendiri ia mencari alasan supaya Kevin curiga kepadanya.
"Kak Al? dia yang memberikan kepadaku." jawab Hana mencari alasan.
"Oh ya. Selera dia bagus juga, perasaan dia nggak punya pacar, apalagi dekat sama seorang wanita." ucap Kevin melirik Hana.
"Itu karena aku yang memintanya." ucap Hana memilih melihat ke jendela mobil tak mau Kevin tau ia berbohong.
"Kamu dapat gaun itu dari mana? temanmu itu hidup sendiri. Orang tuanya ada dimana? apa dia suka memakai gaun wanita?" tanya Kevin membuat Hana tertawa.
Haaa.. Haaa...Haaa.... "Kamu ini ada ada saja. Dia itu laki laki normal." jawab Hana tertawa.
"Itu gaun yang kamu pakai. Dari mana kamu dapat?" tanya Kevin lagi, ia masih penasaran dengan jawaban Hana.
"Ya ampun. Kamu ini reporter atau apa sih? Interogasi aku sampai gaun yang aku pakai kamu tanyakan mulu." jawab Hana menggelengkan kepalanya.
"Tinggal jawab aja susahnya." ucap Kevin.
"Kepo banget sih! Sudah di bilang ini dari Tae Yeong. Ishhh, Pendengaranmu ternyata bermasalah ya!" ucap Hana membuat Kevin menatap tajam ke Hana.
"Makanya diam saja. Jangan banyak tanya?" ucap Hana.
"Itu kata kataku. Kenapa kamu pakai?" seru Kevin.
"Bisa fokus tidak. Kamu sedang mengendarai mobil sekarang." ucap Hana membelokan wajah Kevin kedepan pasalnya Kevin terus menatapnya.
"Dengan mata tertutup aku masih bisa focus menyetir." ucap Kevin sombong.
"Kevin. Awas, itu ada mobil berlainan arah." ucap Hana tak dihiraukan oleh Kevin.
"Aku tau kamu membohongiku." ucap Kevin tak percaya.
"Kevin." ucap Hana melepaskan saltbelt nya kemudian mengambil alih stir nya dengan posisi duduk di atas paha Kevin.
Hampir saja mereka celaka, Hana dengan sigap menghindar dari mobil yang berlawanan dengan mobil Kevin dengan memiringkan mobilnya karena jaraknya hanya beberapa centi sedikit saja mobilnya sedikit lecet karena terkena pembatasan jalan hanya saja spion mobilnya putus.
Hana memberhentikan mobilnya ke tepi jalan yang sepi sebenarnya jantung mereka sama sama deg degan tapi mereka menormalkan kembali agar lebih tenang.
"Crazy. Kamu mau kita berdua celaka hah?" ucap Hana marah.
"Maaf. Aku tidak tau, kamu hebat sekali." ucap Kevin merasa bersalah karena terlalu sombong.
Baru kali ini Kevin melihat ekpresi Hana saat marah dengan mata merah dengan nafas yang terengah engah menahan air matanya.
"Lnjukan mengemudi. Ingat yang fokus, mata lurus ke depan." ucap Hana masih belum menyadari ia duduk di pangkuan Kevin.
"Bagaimana caranya?" tanya Kevin.
"Katanya bisa mengemudi dengan mata tertutup. Jantungku hampir lepas gara gara kamu." ucap Hana memarahi Kevin lagi.
"Maaf. Aku tidak melihatnya tadi." ucap Kevin dengan muka memelas.
"Sudah ku maafkan." ucap Hana memejamkan mata menghela napas nya kasar.
"Kita mau nyetir berdua." ucap Kevin.
"Kamu saja. Kursi pengemudi hanya satu mana muat untuk dua orang." ucap Hana membuka matanya baru tersadar kalau ia duduk diatas pangkuan Kevin.
Dengan segera Hana pindah ke tempat duduknya kembali dengan menahan rasa malunya.
"Gimana? Sangat nyaman bukan duduk dipahaku, empuk hanya kamu yang berani. Kamu sangat beruntung. " ucap Kevin menggoda Hana yang tersipu malu karenanya.
"Beruntung darimana. I- itu karena a-aku tadi menyelamatkan kita berdua." ucap Hana gugup menyembunyikan wajahnya ke kaca jendela mobil.
"Oke. Aku berhutang budi padamu." ucap Kevin.
"Hutang Budi." ucap Hana menoleh mengambil saltbelt nya lalu memasangnya.
"Aku beri kamu tiga permintaan. Apapun yang kamu mau." ucap Kevin.
"Apapun. Apa kamu yakin? akan mewujudkannya." tanya Hana memastikan.
"Ya." jawab Kevin.
•
•
•
*BERSAMBUNG*